- Year III
- PART I : Recycle
- PART II : Anybody?
- PART III : Who is this?
- PART IV : Sphere
- PART V : Superhero
- PART VI : Experience
- PART VII : Its About Us
- PART VIII : The Loser
- PART IX : Stars
- PART X : Script
- PART XI : Youngsters
- PART XII : Let’s find out!
- PART XIII : Giant
- PART XIV : Frogger
- PART XV : Frogger (2)
- PART XVI : Frogger (3)
- PART XVII : Frogger (4)
- PART XVIII : In The Air
- PART XIX : Map of the World
- PART XX : Big Land
- PART XXI : Pictorial Sign
- PART XXII : Underground
- PART XXIII : Switched Sides
- PART XXIV : Halo?
- PART XXV : End of Day
- PART XXVI : Deal or No Deal
- PART XXVII : Deal or No Deal (2)
- PART XXVIII : Deal or No Deal (3)
- PART XXIX : Transaction
- PART XXX : Old Friend
- Side Line
- Revelation
- Ending
- Share this:
Catatan Blog: Cerita ini di salin dari tulisan di Kaskus oleh user hancurkan666. Sebelum membaca tulisan berikut ada baiknya membaca cerita sebelumnya di sini
Year III
PART I : Recycle
Bekas bangunan kantor pemerintahan berlantai 3 di depan kami memang benar-bener terlihat kumuh. Tampak tanaman liar menghiasi halamannya, sementara di dindingnya terdapat banyak retakan. Disana-sini juga terlihat bagian cat yang sudah terkelupas. Jarak terdekat bangunan ini dengan rumah warga sekitar 1,5 Km. Sisanya di dekat sini hanya terdapat reruntuhan rumah-rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Kami sudah minta ijin kepada Kepala Desa untuk melakukan eksplorasi di bangunan sekolah, dengan alasan kami adalah fotografer dari majalah tertentu yang sedang mempelajari arsitektur sebuah bangunan tua.
Organisasi mencurigai adanya aktifitas yang tidak biasa dari lokasi ini. Sebenarnya mereka dikabarkan memprioritaskan untuk mengirim tim lain, tetapi karena keterbatasan sumber daya, tim yang ane pimpin yang dikirim. Tapi tugas tim ane dibatasi hanya untuk observasi saja.
“lo tetap tinggal di mobil dan pantau terus komunikasi” perintah ane ke Bakri.
“Ok boss” jawabnya singkat sambil sesekali melihat HP miliknya
“jangan maenan HP terus” tegur ane
“beres”
“Yang laen ikut gw, dan jangan ceroboh” kata ane memperingati
“Siap Boss!” Ditya tampak bersemangat
Sementara Ica dan Hendrik mengangguk sambil memeriksa perlengkapan mereka.
Kami berempat meninggalkan mobil dan berjalan memasuki bangunan yang berdiri di depan kami. Ane melangkah hati-hati sambil mengamati kondisi sekitar. Di belakang ane, Hendrik beberapa kali mengambil gambar dari bangunan itu. Ditya berjalan sambil mengayun-ngayunkan tongkat besi yang dia bawa.
“Dit, biasa aja kali” tegur ane
“iya boss , maaf” kata Ditya menghentikan gerakannya.
“lo dan Ica periksa lantai 1, gw dan Ditya ke lantai 2” perintah ane ke Hendrik.
Kami pun berpisah, dan ane melihat Hendrik dan Ica masuk ke dalam salah ruangan. Menaiki tangga di menuju lantai 2, Ditya terlihat berjalan mengendap-endap menirukan gaya tim SWAT di film. Ane rada jengkel sebenarnya, tapi ane biarin aja lah. Sesekali dia bergerak cepat ke samping dan merapat di tembok untuk kemudian mengintip.
“aman boss” katanya ke ane
Ane di belakangnya jalan biasa aja dan enggak menanggapi kata-katanya.
Begitu juga sebelum masuk ke dalam ruangan, lagi-lagi dia merapatkan badan ke dinding dan mengintip sebentar
“kosong”
Ane pun langsung masuk ke dalam ruangan itu. Ditya menyalakan alat pelacak, dia kelihatan serius mengamati tanda-tanda yang ada. Di kelas itu cuma ada coret-coretan di dinding. Coretan menggunakan pilox dengan nama-nama geng tertentu.
Kondisi yang sama ane temukan di beberapa ruangan lainnya. Di lantai 3 pun tidak ada sesuatu yang istimewa. Meskipun demikian Ditya tetap terlihat antusias mengikuti observasi yang dilakukan oleh tim. Beberapa kali ane kontak Hendrik dan Ica, mereka juga tidak menemukan sesuatu yang spesial.
“sudah semua tempat kita periksa, nggak ada apa-apa, ayo balik” kata ane ke seluruh anggota. Kecuali Bakri yang kami tinggal di mobil.
“balik boss?” tanya Ditya kecewa
Sepertinya dia berharap menemukan sesuatu disini. Hendrik kelihatan masih beberapa kali mengambil gambar di sekitar gedung. Ica, seperti biasanya, terdiam seribu bahasa.
“lo mau gw tinggal disini?” tanya ane ke Ditya
“ya enggak sih boss” jawabnya
“ya udah balik” ane jadi rada emosi
Ini tahun ke 3 ane di organisasi. Dan ane ditempatkan pada tim dengan anak-anak muda “berpotensi”. Sebenarnya di balik penempatan ini adalah karena posisi ane sudah “digeser”, karena kesalahan yang pernah ane lakukan. Tim ini sendiri nggak sebagus namanya. Organisasi menempatkan orang-orang “buangan” di dalam tim ini. Karena organisasi juga enggak mau mengeluarkan mereka.
Beberapa kali organisasi memberikan tugas-tugas nggak penting, atau bahkan tugas yang dibuat-buat supaya tim kelihatan punya kerjaan. Tentunya semua ini diberi label, bahwa pekerjaan kami penting dan tim kami mendapat prioritas menggantikan tim lain, padahal sebenarnya tidak sama sekali.
Makanya ane udah biasa datang ke lokasi dan enggak menemukan apa-apa. Setelah ini biasanya ane akan membuat laporan yang mendapat tanggapan standar seperti organisasi akan menyelidiki lebih lanjut dan sebagainya. Tapi ane sadar itu semua cuma dibuat-buat.
Seperti dugaan ane, di mobil , si Bakri lagi tidur.
“woi!” seru ane sambil menggebrak pintu mobil
Bakri pun kelihatan gelagapan.
“maaf boss, ketiduran” katanya beralasan
“bantuin nih beresin barang” perintah ane
Dia lalu turun dari mobil, sambil sebelumnya menegakkan sandaran.
“Drik, ga usah foto-foto lagi” kata ane ke Hendrik yang kelihatan masih mengambil beberapa gambar.
Ditya juga sesekali masih memandang ke bangunan itu, seolah berharap ada sesuatu disana.
Jujur sebenarnya ane kasihan sama orang-orang ini. Mereka ga sadar kalau mereka ini sebenarnya sudah “dibuang” sama organisasi, sama seperti nasib ane. Bedanya ane sadar kalau kerjaan untuk tim ini sebenarnya cuma kerjaan kosong aja.
PART II : Anybody?
Mesin mobil pun dijalankan dan perlahan mobil bergerak menjauhi area bangunan sekolah. Waktu sudah menunjukkan lewat dari jam 12 siang. Hendrik di kursi barisan tengah terlihat memeriksa hasil foto-foto yang ia ambil. Ica terlihat memandangi bangunan tempat kami berada tadi. Ditya tampak membongkar pasang pistol airsoft yang daritadi dimasukkan ke dalam rompinya.
“boss laper nih” kata Bakri
“iya ntar, kita cari makan” jawab ane sambil menutup mata.
Ane mencoba untuk tidur sebentar. Tapi ada suara ketukan di kaca yang mengganggu ane yang berniat istirahat. Suara ketukan itu sepertinya dibuat oleh Ica. Semakin jauh mobil berjalan, suara ketukan yang ia buat semakin kencang.
“berenti” perintah ane ke Bakri.
Dia pun segera menghentikan mobil. Ane lalu nengok ke belakang, ngeliat ke Ica. Hendrik dan Ditya juga melakukan hal yang sama, mereka mengamati tindakan Ica. Sementara Ica tetap mengetuk-ngetuk jendela.
“Ada apa Ca?” tanya ane
Ica hanya terdiam sambil terus mengetuk-ngetuk kaca. Ane juga nggak berharap dia memberi jawaban. Karena selama dia berada di tim, dan mungkin selama ane mengenal dia, Ica nggak pernah bicara sepatah kata pun. Meskipun sebenarnya dia dikabarkan bisa berbicara.
Sepertinya Ica merasakan sesuatu. Tapi ane nggak tau ada apa.
“Gimana boss?” tanya Bakri
Terdengar beberapa kali suara kamera mengambil gambar, lagi-lagi Hendrik mengaktifkan kamera dan memotret Ica.
“Drik, matiin, buat nanti aja” kata ane
Hendrik pun mematikan kameranya.
Ditya kelihatan memegang erat pistolnya. Seolah dia bersiap menghadapi sesuatu yang berbahaya.
“kita balik”kata ane ke Bakri, yang disambut ekspresi bersemangat dari wajah Ditya dan Hendrik.
Mobil pun mengarah kembali ke bangunan sekolah.
“boss, saya di mobil aja ya” pinta Bakri, dia keliatan takut ane suruh ikut masuk ke bangunan.
“iya, tapi lo jaga-jaga, lo gw tinggal sendiri” ane mengingatkan
“iya boss” jawabnya.
Ane, Ica, Hendrik dan Ditya kembali turun dari mobil.
“Ca tunjukkin ada apa” kata ane sambil memandang ke bangunan sekolah.
Tanpa menunggu respon yang lain, Ica berjalan di depan kami menuju ke bangunan kumuh itu. Di belakangnya Ditya mengikuti sambil mengarahkan pistol sesekali ke kanan dan kiri.
“Dit, tenang” lagi-lagi ane harus menegur Ditya
Dia lalu menurunkan pistolnya dan tetap berjalan di belakang Ica.
Di belakang ane, Hendrik kelihatan tegang. Memang, kecuali ane, semua anggota tim belum pernah ada yang berhadapan dengan mahluk asing. Sebenarnya ane mau minta bantuan tim lain , tapi ane pikir biar tim ane yang nanganin dulu. Di dalam hati, ane juga mau nunjukkin kalo karir ane di organisasi belum habis.
Kami menaiki tangga menuju lantai 2, kemudian terus naik ke lantai 3. Di lantai 3 Ica berhenti dan berdiri terdiam. Ditya sigap memeriksa kondisi sekitar, sambil lagi-lagi mengarahkan pistolnya .Hendrik juga beberapa kali mengambil gambar, tetapi tidak sesering tadi. Ane bisa lihat dia agak pucat. Sepertinya dia ketakutan.
“kemana lagi Ca?” tanya ane ke Ica yang masih berdiri terdiam. Dari alat pemantau tidak tampak adanya aktifitas yang mencurigakan. Ica lalu menatap ke atas. Lalu dia berjalan menuju sisi lantai 3, disana ada tangga besi vertikal menuju ke atap gedung.
“Naik?” tanya Ditya
“ati-ati Dit” jawab ane
Lalu Ditya memanjat tangga tersebut, disusul ane, lalu Ica dan Hendrik.
Sesampainya di atap gedung, yang berbentuk datar dan terbuat dari semacam semen, ane nggak menemukan mahluk atau apapun yang mencurigakan. Ditya juga memandang ke sekelilingnya. Sementara Hendrik terdiam menunggu perintah. Ica terlihat berjalan ke salah satu sudut disana lalu terdiam lagi.
Ane pun berjalan mengikuti Ica bersama dengan Ditya dan Hendrik.
“boss!” seru Ditya sambil menunjuk ke dekat tempat Ica berdiri.
Ane melihat ada simbol-simbol di dekat sana. Lebih jelas lagi ketika ane berdiri mendekati, kelihatan ada beberapa ukiran semacam lambang hieroglyph Mesir. Yang jelas ini berbeda dari coretan pilox di dalam bangunan yang ane temukan sebelumnya.
Meskipun demikian alat pemantau tetap tidak menunjukkan apa-apa. Tanpa diminta Hendrik beberapa kali memotret simbol-simbol tersebut. Ane rada ragu, jangan-jangan ini cuma perbuatan iseng murid-murid yang dulu pernah sekolah di sekitar sini . Tapi dengan ditunjukkannya hal ini sama Ica, pasti ada sesuatu disini, entah apa itu. Atau ini sekedar peninggalan mahluk asing, sementara mahluk itu udah nggak ada disini.
Tiga baris simbol itu, ane nggak tahu apa artinya.
“Ada lagi nggak Ca?” tanya ane ke Ica
Dia tidak menjawab, hanya memandang ke simbol-simbol itu.
Terdengar suara pistol dikokang dari arah Ditya. Sepertinya dia mempersiapkan diri untuk bertempur dengan alien atau apapun yang terbayang olehnya.
“gimana sekarang?” tanya Hendrik.
PART III : Who is this?
“Bakri, standby” kata ane melalui HT
Tapi tidak ada balasan. Dua tiga kali ane mengulangi panggilan , tetap tidak ada balasan.
Dari atas gedung ane bisa melihat mobil kami, tapi Bakri ternyata tidak ada disitu.
“sial, kemana tu anak” ane ngedumel
“iya, kok ga ada ya” Ditya ikut menimpali
Ane kembali mengamati simbol-simbol itu. Kira-kira simbol-simbol ini terukir sedalam beberapa milimeter. Area di sekitar simbol tampak bersih sementara beberapa meter di luar area tampak sudah dipenuhi lumut dan retakan. Ane berpikir untuk memanggil tim Riset dari organisasi. Belum sempat ane menghubungi organisasi, Ica terlihat mulai melangkah lagi, kali ini ia mendekati tangga , kemudian ia memanjat tangga untuk turun dari tempat ini.
Ditya dan Hendrik dengan cepat mengikuti Ica. Begitu juga dengan ane. Kamipun kembali tiba di lantai 3. Kali ini Ica berjalan memasuki salah ruangan, yang sebelumnya sudah ane periksa bersama dengan Ditya. Alat pemantau masih tidak menunjukkan apa-apa. Tetapi Ditya sepertinya melihat sesuatu yang mengagetkan.
Kelihatan matanya terbelalak melihat papan tulis. Ane pun kaget bukan main ketika melihat hal yang sama. Terdapat beberapa simbol, hampir mirip tertulis dengan kapur di papan tulis. Sebelumnya waktu ane dan Ditya memeriksa di kelas ini, nggak kelihatan ada simbol-simbol ini.
Hendrik kelihatan berdiri kaku, saking takutnya mungkin dia enggak ngapa-ngapain. “Foto Drik!” perintah ane.
Dengan agak gugup Hendrik mengambil beberapa foto. Ica yang berdiri dekat ane masih menatap ke papan itu. Ditya memegang erat pistolnya, kali ini ane memaklumi. Karena sangat mungkin si penulis itu masih ada di sekitar sini.
Mendadak ane ingat si Bakri. Ane kembali menghubungi dia.
“yes boss?” tanyanya darisana
“kemana lo tadi?” tanya ane dengan nada marah
“maaf boss, tadi kebelet kencing” jawabnya
“waspada lo disana” ane mengingatkan.
“ada apa boss?” dia kedengaran takut
“ada alien” jawab ane asal, dengan maksud supaya dia serius
“apa boss?” tanyanya ga yakin
“uda lo tunggu aja” perintah ane lagi.
“Ca apa ini si Bakri iseng bikin ginian?” tanya ane ke Ica
Ica menggelengkan kepalanya, pertanda dia menjawab tidak.
“terus siapa yang bikin ini ?” tanya ane lagi
kali ini Ica diam saja.
“boss apa nggak sebaiknya kita balik dulu” saran Hendrik, dia benar-benar jiper sepertinya.
“jangan, kita cari aja” sebaliknya Ditya kelihatan semangat
Ane harus memutuskan. Kalau balik, mungkin mahluk itu nggak akan ada disini lagi. Tapi kalo ane coba mencari, ane takut terjadi resiko sama tim ane ini. Ditambah lagi orang-orang ini nggak berpengalaman, dan kami nggak bawa persenjataan yang cukup. Masing-masing dari kami hanya membawa baton stick, spray dan alat kejut listrik. Kecuali Ditya yang membawa pistol airsoft miliknya sendiri.
Ane lalu mencoba untuk menghubungi organisasi, akan tetapi baru melihat ane mengeluarkan HP, Ica melambaikan tangan dengan cepat ke ane. Dengan ekspresi seolah melarang ane melakukan hal ini. Ane pun mengurungkan niat ane. Walaupun begitu ane rada kesal, kenapa si Ica nggak ngomong aja yang jelas biar kita semua tahu, ini lagi ada apaan.
Tiba-tiba alat komunikasi ane berbunyi
“boss” terdengar suara Bakri
“ada apa? ” tanya ane
“ada masalah boss” katanya
“ini ban mobil tiba-tiba kempes sendiri” suara Bakri kedengaran cemas
“saya nyusul boss aja ya”
“hah?! Jangan, ntar gw aja yang kesana” kata ane berusaha tetap tenang
Hendrik yang juga mendengar percakapan itu kelihatan rada lemas.
“boss balik aja yok” ajaknya.
“kita periksa mobil dulu” kata ane sambil melangkah keluar dari ruangan. Tiga anggota ane pun mengikuti.
Dengan tergesa-gesa kami menuruni setiap lantai. Waktu sampai lantai satu, ane baru sadar Ica nggak bersama dengan kami.
“Ica mana?” tanya ane
Hendrik celingukan mencari, kemudian dia menggeleng. Ditya juga kelihatan cengo.
“sial” gumam ane
“kelihatannya dia berenti di lantai 2” kata ane lagi.
“saya susul boss?” tanya Ditya
“jangan, lo dan Hendrik balik aja ke mobil, liat kondisinya” perintah ane
“siap boss!” jawab Ditya yang kemudian bersama Hendrik berjalan menuju ke mobil.
Ane sendirian naik lagi ke lantai 2 dan melihat Ica berdiri di depan salah satu kelas, sambil menatap ke arah dalam salah satu ruangan.
“Ca , jangan sembarangan misah” tegur ane, walaupun tau dia nggak akan nanggapin.
“Bahaya tau!” kata ane lagi dengan rada keras.
Tanpa perlu ane memperkirakan, sudah jelas kenapa si Ica masuk ke dalam tim “buangan” ini. Mana ada tim yang tahan dengan keberadaan si Ica yang komunikasinya sangat kurang.
Ga lama kemudian Ica kelihatan menunjuk ke arah ruangan di depannya. Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan ane menyiapkan baton stick sebelum masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh Ica. Meskipun dari ekspresinya Ica nggak setuju dengan tindakan ane, ane tetap nggak mau ambil resiko.
“boss” terdengar suara Bakri lagi dari alat komunikasi.
“apa lagi?” tanya ane kesal karena ane lagi mau siap-siap masuk ke dalam ruangan.
“buruan kesini” kata Bakri dengan nada cemas
PART IV : Sphere
“lo bertiga ga bisa urusin dulu apa?” tanya ane kesal lewat HT
“siap boss” kali ini terdengar jawaban dari Ditya
Ane pun langsung memasuki ruangan yang ditunjuk oleh Ica. Hawa dingin terasa dari dalam ruangan.
“Ada orang?” tanya ane
Tampak tidak terdengar tanggapan. Tapi ane mendengar suara denting pelan. Alunan musik sederhana terdengar jelas di telinga ane. Suara itu datang dari salah satu sudut ruangan. Keterbatasan cahaya membuat ane bergerak dengan hati-hati, walaupun saat itu alat pemantau tidak menunjukkan reaksi yang signifikan.
Semakin mendekat ke arah suara, hawa dingin semakin terasa. Ane pun meningkatkan kewaspadaan ane. Kemudian ane bisa melihat sebuah kotak yang mengeluarkan suara musik. Di kotak kecil itu ada semacam tuas yang bisa diputar. Hmm rupanya sebuah kotak musik. Tetapi siapa yang memutar tuas ini? ane bertanya di dalam hati.
Di dekat kotak musik itu, ane juga menemukan sebuah buku. Dengan hati-hati ane membukanya, dan seperti temuan sebelumnya, di dalam buku itu terdapat banyak coretan simbol-simbol aneh. Entah apa artinya. Alunan musik masih berbunyi dari kotak di dekat ane, tetapi tidak ada tanda-tanda adanya mahluk mencurigakan disana.
Mendadak intuisi ane merasakan adanya bahaya. Dan memang tidak lama kemudian alat pemantau menunjukkan adanya aktifitas tidak wajar di dalam ruangan . Ane berjaga-jaga dengan baton stick yang sudah ane siapkan. Ica tidak terlihat masuk ruangan bersama dengan ane, entah dimana dia.
Ane bisa mendengar ada suara benda-benda berjatuhan.
“siapa?” tanya ane dengan suara keras.
Tetapi tidak ada jawaban yang ane dengar.
Kemudian ane melihat cahaya terang melingkupi seisi ruangan, cahaya ini lama kelamaan terpusat membentuk sebuah aliran energi berbentuk bola yang bersinar sangat terang.
Mata ane nggak bisa melihat jelas, detil yang terjadi kemudian. Hanya saja bola cahaya itu kemudian membentuk sesosok mahluk menyerupai manusia. Tidak lama kemudian cahaya meredup. Tapi ane masih bisa melihat dengan cukup jelas sosok di depan ane.
Bentuknya seperti wanita , dengan rambut panjang dan baju yang sangat indah. Bajunya seperti kain berwarna coklat muda yang menutupi sampai ke kaki. Ane juga bisa melihat dia memiliki sorot mata yang teduh.
“Jangan takut” katanya ke ane
Ane lalu berjalan mendekat ke arahnya.
“Prak!!” terdengar suara rantai dihantamkan ke lantai.
Ane pun bergerak mundur, dan ane bisa melihat jelas di arah samping ada sesosok mahluk lainnya. Badannya tertutup dengan lilitan rantai, dia sendiri memegang seutas rantai yang mungkin dijadikan semacam cambuk.
Ternyata mahluk rantai itu tidak hanya satu dan ane bisa melihat beberapa lagi muncul di sekitar ane.
Mereka sepertinya menjaga sosok wanita itu agar ane nggak berdiri terlalu mendekat.
“Apakah Anda datang membawa damai?” tanya wanita itu ke ane
“ya, saya datang dengan damai” jawab ane.
Tapi nggak lama kemudian seutas rantai tampak dilempar melilit ke baton stick yang ane pegang. Tanpa perlu banyak tenaga, si pemilik rantai menarik baton stick tersebut sehingga terlepas dari tangan ane.
“maaf saya hanya perlu jaga-jaga” kata ane menerangkan.
Tanpa disuruh ane, melemparkan spray, stun gun, alat pemantau , alat komunikasi, juga HP ane ke lantai.
Dengan kondisi sudah terkepung, ane berpikir lebih baik bernegosiasi dan menghindari kekerasan. Ane juga perlu untuk mendapatkan kepercayaan dari mahluk-mahluk ini. Ane cuma berharap anggota tim yang lain nggak bertindak gegabah dan membuat mereka marah.
Rantai-rantai lalu mulai melilit peralatan yang ane lempar ke lantai, dan menarik peralatan tersebut menjauh dari ane.
“kami tidak pernah mengganggu kalian” kata wanita itu ke ane
“tetapi kalian datang dengan berbagai senjata”
Sebuah pistol kemudian terlempar dan jatuh tepat di depan kaki ane. Ane pun mengenali bahwa itu adalah pistol airsoft milik Ditya. Perlahan para mahluk rantai yang mengelilingi ane mulai bergerak mendekat. Sepertinya mereka tidak bermaksud baik.
“kita bisa bicarakan ini” kata ane berusaha mempersuasi
“mungkin ini bisa dibicarakan, andai tiga orang temanmu tidak melakukan tindakan yang membahayakan kami” jawab si wanita
“mereka pasti salah paham” kata ane lagi
Ane menduga mungkin Ditya melakukan tindakan-tindakan agresif ke mahluk-mahluk ini. Kemungkinan besar saat ini Ditya sudah dilumpuhkan, dan semoga dia masih hidup. Ane pun segera bergerak cepat, ane mencoba bergerak melewati celah diantara dua mahluk rantai.
Mereka pun terlihat melontarkan rantai dengan tujuan untuk mengenai badan ane, tetapi gerakan ane lebih cepat dan upaya ane melewati mahluk-mahluk itu berhasil. Tetapi rupanya mahluk rantai lainnya sudah siap menghadang tepat di depan ane. Dia pun mencoba menyabetkan rantai ke kepala ane.
Lagi-lagi ane berhasil merunduk dan dengan cepat berlari melewatinya. Sekarang ane berlari tepat menuju si wanita yang sepertinya menjadi ketua diantara mereka. Ane bisa mendengar sabetan-sabetan rantai di belakang ane. Untungnya satu pun nggak berhasil mengenai ane.
PART V : Superhero
Tepat ketika berada di depan wanita itu langkah ane berhenti. Ane terkejut karena dengan cepat dia berubah wujud menjadi semacam monster. Kepalanya seperti burung elang dengan badan berwarna hitam dan berotot. Sementara dari balik punggungnya tampak sayap besar seperti kelelawar.
Dengan cepat dia mencengkram leher ane lalu dengan sekali sentakan badan ane terlempar ke arah belakang, melewati beberapa mahluk rantai sebelum akhirnya membentur dinding. Saat itu ane masih berusaha menjaga kesadaran ane. Kemudian mahluk kepala elang itu terdengar Cumiakkan suara yang tidak jelas, sementara mahluk-mahluk rantai tampak bergerak menepi, seakan memberi jalan kepada si kepala elang.
Si kepala elang kemudian berjalan ke arah ane. Walaupun tubuhnya besar gerakannya terlihat cukup cepat. Ane mencoba untuk mengobservasi keadaan sekitar, mencari celah untuk menyelamatkan diri, serta ane juga berusaha menemukan benda atau apapun yang bisa ane gunakan sebagai senjata.
Ane lalu mencoba untuk berdiri, kemudian ane mengangkat kursi kayu yang ada di dekat ane dan melemparkannya sekuat tenaga ke mahluk itu. Brakk! dengan satu tangan dia menepis kursi tersebut yang kemudian mental dan hancur di samping ruangan. Walaupun kelihatan konyol, ane memasang kuda-kuda dan bersiap menghadapi serangannya.
Nggak ada pilihan lain selain menggunakan tangan kosong. Daripada ane mati konyol tanpa perlawanan. Ketika jarak kami semakin rapat, dia membuka serangan terlebih dahulu. Dia mencoba mencengkram bahu ane, tetapi ane berhasil mengunci tangannya. Dengan cepat ane mendorong badannya ke arah tembok. Tapi tenaganya terlalu kuat, dan dia berhasil melepaskan kuncian ane.
Sebelum dia memberikan serangan berikutnya, ane menghantam sisi badannya dengan sikut ane. Dia pun terlontar beberapa langkah ke belakang. Ane cukup puas, ternyata ane lumayan bisa mengimbangi serangannya. Sayangnya rasa senang ane hanya berlangsung singkat.
Sambil Cumiakkan suara yang nggak jelas dia melompat seperti terbang untuk kemudian melepaskan beberapa tendangan beruntun. Walaupun ane berusaha melindungi badan ane, tetap aja tangan ane berasa sakit ditendang sama kaki yang begitu berat. Belum sempat ane menyeimbangkan diri, dia berhasil mencengkram leher ane lagi, lalu segera dia membanting ane ke lantai.
Badan ane serasa udah mau hancur . Ane berusaha berdiri tetapi sebuah tendangan telak mengenai tulang kering ane. Membuat ane hanya bisa berguling kesakitan. Mahluk ini benar-benar sangat kuat. Sebenarnya tanpa ada para mahluk rantai pun dia bisa menghadapi ane sendirian.
Beberapa kali dia berusaha menginjak badan ane dengan kakinya, tetapi ane masih bisa menghindar. Sampai akhirnya satu buah hujaman kaki berhasil mengenai telapak tangan ane. Ane cuma bisa menahan sakit sambil terus memikirkan cara untuk selamat. Sekali lagi hujaman kaki diarahkan ke badan ane tetapi ane berhasil bergerak menghindar.
Mendadak terdengar suara seseorang berseru
“hai mahluk jelek, hentikan!”
Ane bisa melihat ada sosok lain masuk ke dalam ruangan. Dia memakai pakaian biru berkilauan dengan wajah tertutup . Secara keseluruhan orang itu seperti superhero dari komik atau film.
“hadapi aku!” katanya lagi.
Tanpa diperintah, beberapa mahluk rantai langsung mendekati orang itu. Ane pun bisa melihat orang itu dengan gesit bisa menghindari serangan mahluk rantai, bahkan dia menyerang balik dan berhasil membanting salah satu mahluk rantai .
Satu persatu mahluk rantai tampak bisa dikalahkan. Sampai tidak ada lagi mahluk rantai yang berdiri di ruangan ini. Si kepala elang daritadi hanya mengamati adegan pertarungan di hadapannya , seolah-olah dia melupakan keberadaan ane. Seperti tadi, dia Cumiakkan teriakan yang enggak jelas dan berjalan mendekati si manusia berkostum.
Entah siapa orang itu, sepertinya dia sangat kuat dan terlatih untuk menghadapi alien dan sejenisnya.
“kalian alien yang mengganggu kehidupan manusia, pasti akan kukalahkan” kata si mahluk berkostum
Perlahan ane bangun dari lantai dan segera bergerak mengambil baton stick ane yang terlempar di salah satu sudut ruangan.
“tenang hai sesama manusia, biar aku yang menghadapinya”
si mahluk berkostum berkata ke ane.
Si kepala elang sudah semakin mendekatinya dan bersiap melakukan serangan. Tanpa diduga mahluk berkostum menyerang terlebih dahulu. Dengan cepat ia berhasil memukul wajah si kepala elang, dan membuatnya mundur beberapa langkah.
“hanya segitu kekuatanmu alien?” tanya mahluk berkostum
“jangan meremehkan manusia bumi” katanya lagi kali ini dia melakukan tendangan ke arah kaki si kepala elang, membuat mahluk itu agak limbung. Tidak hanya segitu, mahluk berkostum melanjutkan serangannya dengan beberapa pukulan ke badan si kepala elang.
Si kepala elang sendiri berusaha melakukan beberapa serangan tetapi selalu berhasil dihindari. Ane juga enggak mau tinggal diam, ane akan mencari kesempatan untuk membantu mahluk berkostum.
“Buk” sebuah pukulan keras mengenai leher si kepala elang, dan pukulan ini membuatnya terlempar lalu jatuh ke lantai.
“aku akan segera mengamankanmu alien!” kali ini si mahluk berkostum mengeluarkan semacam pistol dan mengarahkannya ke si kepala elang.
PART VI : Experience
Pistol itu kemudian menembakkan gas yang menyelimuti tubuh si kepala elang, perlahan es terlihat melingkupi seluruh tubuh si kepala elang. Sepertinya alat itu untuk membekukan alien. Ane belum pernah lihat senjata itu sebelumnya.
“biar saya yang beresin semuanya, kamu cepat turun ke bawah, lihat keadaan anggotamu” kata mahluk berkostum ke ane
“baik, terimakasih atas bantuannya” ane segera bergerak keluar ruangan. Ane khawatir dengan kondisi anggota tim ane dan berharap mereka semua selamat. Walaupun badan dan kaki ane berasa masih sakit, ane berusaha bergerak cepat menuruni setiap lantai. Ane juga tetap menjaga kewaspadaan ane, siapa tahu masih ada mahluk lain yang berbahaya.
Sebenarnya ane sangat penasaran dengan mahluk berkostum bak superhero itu. Tapi ane rasa ntar setelah membereskan alien-alien itu dia akan menemui ane lagi. Akhirnya ane pun mencapai lantai dasar dan bisa melihat beberapa anggota tim ane ada di dekat mobil. Mereka kelihatan kelelahan tetapi masih dalam keadaan sadar.
“Boss!” ane bisa mendengar suara Bakri memanggil ane dari arah mobil.
Ane pun bergerak mempercepat langkah ane dan menemui mereka. Ternyata semua anggota tim ane lengkap berada di sekitar mobil.
“gimana semuanya?” tanya ane
“gila boss, kita diserang alien, saya berusaha bertahan tapi mereka sangat kuat” jawab Ditya, terlihat ada luka-luka di tangan dan kakinya.
“untung masih bisa selamat” kali ini Hendrik yang bicara, dia juga memperlihatkan kameranya yang agak retak di sisinya.
“kalo saya berusaha mati-matian boss, udah saya gebukin itu monster, tapi saya dikeroyok” kata Bakrie ke ane
“ngibul aja lo, tadi lo kan yang udah tereak-tereak minta tolong” Ditya memotong kata-kata Bakrie.
“kamu gimana Ca?” tanya ane ke Ica
Dia hanya diam saja, kalo dari yang ane lihat dia sepertinya nggak terluka sama sekali.
“mobil nggak bisa jalan boss, ban pada kempes” kata Bakri sambil menunjuk ke ban mobil.
“o iya boss, untung tadi kita diselamatin sama seseorang” lanjut Bakri
Hendrik dan Ditya pun turut membahas hal yang sama. Ane juga secara singkat menceritakan pengalaman ane tadi.
“hmm dia kok nggak kesini ya?” tanya ane
“nggak tau boss” jawab Ditya
“ayo kita ke atas, barangkali dia butuh bantuan kita” ajak ane ke tim .
Masing-masing cuma berpandang-pandangan, seakan ragu untuk masuk ke bangunan itu lagi.
“dia udah nolongin kita, masak kita tinggalin” kata ane sambil berjalan balik ke arah gedung. Ditya , Henrik dan Ica mengikuti di belakang ane.
“Bakri, ikut ga lo? Buruan!” ajak Ditya ke Bakri.
Kami pun mulai menaiki satu persatu lantai dan tiba di ruangan tempat ane terakhir kali ketemu si penolong ane dan para alien. Ternyata ruangan itu udah kosong. Selain kondisi ruangan yang berantakan, ane nggak melihat satu mahluk pun disana.
“udah ga ada” kata ane sambil memungut pistol airsoft milik Ditya yang ada di lantai.
“pergi kemana dia” kata Hendrik bertanya-tanya, dia mencoba mengambil gambar dengan kameranya yang ternyata masih berfungsi.
Ica tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Sementara Bakri hanya berani berdiri menunggu di depan pintu ruangan. Buku berisi simbol-simbol dan kotak musik pun sudah tidak ada disana. Selain ane, Ditya dan Hendrik juga tampak menyelidiki isi ruangan.
“nggak ada apa-apa” kata Ditya.
Ane pun memutuskan untuk kembali. Toh anggota tim ane juga udah pada kelelahan dan ane sendiri masih merasakan sakit di sekujur tubuh ane.
———————————————–
Dikarenakan ban mobil yang kondisinya kempes, ane dan anggota tim mau nggak mau harus jalan kaki ke daerah rumah penduduk untuk mencari bengkel atau orang yang bisa membantu kami. Selama dalam perjalanan nggak habis-habisnya setiap anggota tim bercerita mengenai pengalaman mereka.
Di dalam hati ane lumayan senang karena kami semua selamat. Ane juga merasa senang kalo mereka bisa punya pengalaman bertemu dengan mahluk asing. Cuma Ica yang hanya terdiam dan nggak berbicara sepatah katapun.
Ane sengaja membiarkan Bakri, Hendrik dan Ditya berjalan agak jauh di depan. Sementara ane mencoba bicara sama Ica.
“Ca apa alien-alien itu udah nggak di bangunan itu lagi?” tanya ane
dia hanya diam aja.
“Tadi kamu nggak ikut diserang?” tanya ane lagi
dan seperti sebelumnya, dia diam saja
Di depan ane , ane bisa mendengar Bakri masih berusaha mencari alasan bahwa tadi dia udah mencoba melawan para alien. Ditya dengan sengit berusaha memojokkan Bakri. Sementara Hendrik lebih banyak mengamati dua temannya itu.
PART VII : Its About Us
Beberapa hari setelah kejadian itu ane dan tim dipanggil untuk bertemu beberapa orang dari organisasi. Seperti biasa kami bertemu di kantor pusat.
“kerja yang bagus!” kata Martin salah satu petinggi organisasi sambil menyalami masing-masing dari kami.
Beberapa orang lainnya juga tampak menyalami kami dan menepuk pundak kami. Ane juga melihat Kak L hadir disana. Entah apa maksudnya mereka memberi selamat kepada kami, padahal ane dan tim belum secara jelas memberi laporan mengenai project terakhir yang kami lakukan.
Setelah berbicang-bincang beberapa saat, Martin mengumumkan sesuatu
“baiklah saudara-saudara mari kita saksikan tayangan berikut”
Lampu ruangan pun dipadamkan dan semua mata tertuju ke layar. Ane terkejut melihat film yang terlihat di layar.
Terlihat ada bangunan yang waktu itu ane datangi bersama dengan tim ane.
Video disertai dengan narasi dari seseorang yang menceritakan sebuah tim dari organisasi yang mengemban misi penting untuk keselamatan manusia.
Tayangan pun memperlihatkan ane dan anggota tim yang sedang memeriksa bangunan tersebut dan menemukan beberapa simbol.
Suara tepuk tangan terdengar saat mereka menyaksikan adegan ini. Ane hanya bertanya di dalam hati, apa maksud dari rekaman video ini. Lanjutannya adalah adegan dimana ane telah terpisah dengan anggota tim yang lainnya, kecuali Ica.
“ternyata tim dari organisasi harus menghadapi tantangan dari mahluk luar angkasa” narator di video menjelaskan sambil adegan beberapa mahluk rantai menyerang Bakri, Ditya dan Hendrik. Ane bisa melihat mereka bertiga berusaha melawan para alien ini. Dan sepertinya adegan Bakri teriak-teriak minta tolong sudah dipotong.
Adegan dengan efek musik dan suara, memperlihatkan seolah-olah mereka bertiga telah berjuang secara heroik. Adegan pun berpindah ke ruangan dimana ane sedang memeriksa arah suara musik. Dimana kemudian adegan berlanjut ke pertemuan ane dengan mahluk rantai dan sosok wanita pemimpin mereka.
Para penonton terlihat tegang melihat adegan ini. Pengambilan gambarnya pun terbilang sangat bagus, seolah ini adalah film thriller. Diperlihatkan juga pertarungan ane dengan si monster kepala elang. Dan sama seperti sebelumnya adegan ini pun ditampilkan heroik, dan momen dimana ane menahan kesakitan tampak menjadi fokus adegan.
Apa-apaan ini? usaha ane mati-matian ternyata malah dijadikan film. Bahkan tangan dan kaki ane masih berasa sakit. Tayangan kemudian berpindah ke suasana dimana tiga anggota tim ane udah terkapar ga berdaya. Musik menegangkan berganti dengan musik yang penuh semangat, lalu muncullah si manusia berkostum memberikan pertolongan. Dia berhasil mengusir mahluk rantai yang menyerang tiga anggota tim ane.
Narator menjelaskan bahwa si superhero adalah tokoh penolong yang telah dilatih oleh organisasi untuk menyelamatkan manusia. Penonton pun memberi tepuk tangan meriah saat si “superhero” bisa menaklukkan semua alien. Diperlihatkan kemudian dia segera pergi ke ruangan dimana ane berada dan memberikan pertolongan.
Film berakhir ketika si “superhero” membekukan para alien yang berhasil ia taklukkan. Lagi-lagi suara tepuk tangan membahana di ruangan.
“demikianlah hasil kerja keras tim kita, tim baru dengan orang-orang yang berpotensi” kata Martin , tepuk tangan pun diarahkan untuk tim ane.
Jujur hati ane merasa panas, karena selama ini ane memimpin tim untuk project yang berbahaya. Ane pun menganggap project kemarin serius untuk ditangani. Ternyata tim ane cuma sekedar tampil sebagai “badut” untuk difilmkan. Ane terus terang merasa memang tim ane benar-benar gak guna sampai dikasih kerjaan seperti ini.
Walaupun kemudian Martin dan Kak L memberi pujian ke ane, dan menerangkan bahwa film ini akan didistribusikan untuk ditonton anak-anak para anggota organisasi. Terutama untuk cabang organisasi di luar negeri. Diharapkan film “edukasi” ini bisa menjadi propaganda untuk generasi penerus.
Film ini ternyata dibuat dengan bantuan dan persetujuan para alien, termasuk para mahluk rantai dan si monster kepala elang. Dijelaskan juga bawah mereka sudah memperhitungkan agar anggota tim ane nggak mengalami luka yang serius. Sengaja hal ini tidak diberitahukan supaya ane dan anggota tim benar-benar “beradegan” secara sungguh-sungguh. Penggambaran dari setiap anggota tim pun diperlihatkan secara heroik. Intinya Kak L dan Martin menekankan bahwa ane dan anggota tim ane tidak dirugikan sedikitpun.
Ane masih berusaha menahan diri saat berbicara dengan Martin dan Kak L, Ane lihat anggota tim ane juga kelihatan senang-senang aja. Apa mereka ga sadar bahwa tim ini cuma dijadikan bahan mainan. Hanya Ica yang berdiam diri dan tidak berekspresi. Sebenarnya terutama ane kecewa sama dia, karena sepertinya dia sudah tahu bahwa semua ini hanya settingan. Di film tadi, nggak diperlihatkan satu adeganpun Ica diserang atau berhadapan dengan alien.
“Ca, saya mau bicara sama kamu setelah ini” kata ane ke Ica setelah acara sudah hampir selesai. Dia pun kelihatan hanya menunduk, sepertinya dia sadar bahwa ane lagi marah.
PART VIII : The Loser
Akhirnya setelah acara selesai, ane bertemu dengan Ica di salah satu ruangan yang dulu pernah ane pakai waktu ane masih punya jabatan bagus di organisasi. Kebetulan hari itu nggak ada yang menggunakan ruangan itu. Kondisinya masih sama seperti dulu, dan ada beberapa barang milik ane disana
Ane duduk berhadapan dengan Ica, dibatasi sebuah meja. Dia kelihatan diam dan menatap kosong ke ane.
“Ca kamu udah tau semua ini kan?” tanya ane
dia diam saja
“Sekali lagi saya tanya ke kamu, apakah kamu sudah tahu bahwa yang kemarin itu hanya settingan?” tanya ane lagi dengan suara agak meninggi.
Dia tetap menatap ane dan nggak menjawab sepatah katapun.
“kita disini sebagai sebuah tim, harus mendukung satu sama lain” lanjut ane lagi.
“saya merasa kecewa tim kita ini seperti badut yang enggak ada gunanya” kata ane berterus terang. Entah bagaimana perasaan dia.
Jujur ane benar-benar kecewa, karena dia sepertinya nggak menghargai ane sebagai ketua tim. Ane merasa sebagian besar ini “salah” dia membiarkan tim ini main settingan tanpa sepengetahuan ane sebagai ketua.
“kamu bisa jawab pertanyaan saya?” kata ane lagi dengan suara agak keras
Dengan emosi ane lalu menggebrak meja
“kamu ini bisa ngomong kan? waktu kemarin pun kamu nggak ngikutin perintah sama sekali dan seenaknya jalan sendiri, kamu juga sudah tahu kan ini hanya main-main, makanya kamu memisahkan diri waktu saya dalam bahaya” suara ane terdengar sangat keras dengan nada yang emosional.
“saya sangat kecewa sama kamu, saya pikir kamu bisa diandalkan di dalam tim. Ternyata kamu sama seperti yang lain, nggak berguna!” seru ane dengan sangat kesal.
Ane bisa melihat ekspresinya agak berubah, tapi masih tetap terdiam.
“kamu pikir saya harus nebak-nebak pikiran kamu terus?” tanya ane ke dia
“entah apa tujuan kamu di organisasi dan apa kemampuan kamu, saya nggak butuh orang yang nggak bisa bekerjasama” kata ane lagi dengan tegas.
Dan seperti biasa dia hanya terdiam. Tapi kali ini matanya mulai berkaca-kaca. Dia nggak berusaha menyekanya dan tetap memandang kosong ke arah ane.
“maaf mungkin kata-kata saya agak keras, tapi saya akan usahakan agar kamu pindah ke tim atau bagian lain yang lebih cocok untuk kamu”
Sebenarnya kekesalan ane ke Ica udah terpendam sejak dia mulai masuk ke dalam tim. Bukan sekali ini aja dia bisa tiba-tiba nggak ada. Dia juga cenderung bergerak sesuai intuisinya tanpa memberitahu ane atau anggota tim yang lain. Toh memang ane pikir mungkin organisasi punya bagian yang lebih cocok buat dia. Daripada di dalam tim pun kerjasamanya sangat kurang.
“kamu boleh pulang sekarang” kata ane ke Ica yang masih terdiam. Air mata kelihatan mulai mengalir dari sudut matanya. Lalu dia berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. Sebenarnya ane merasa bersalah juga. Mungkin sebenarnya ane marah ke organisasi, tapi semuanya jadi ane tumpahkan ke Ica.
Tidak lama setelah Ica keluar, ane mendengar seseorang membuka pintu.
“boleh masuk?” tanya Ririn
Ane cuma mengangguk. Entah dia melihat si Ica nangis di luar atau memang suara ane tadi terdengar sampai ke luar.
“lo baek-baek aja?” tanyanya ke ane
“gw gak apa-apa” jawab ane singkat
“hahaha, gimana rasanya duduk di kursi ketua?” tanya Ririn dengan maksud bercanda.
Ya memang maksudnya dia pasti cuma bercanda. Tapi saat itu kata-katanya malah bikin ane tambah kesal.
“gw merasa jauh lebih baik daripada gw bersama tim sampah”
jawaban ane tampak membuat dia terkejut.
Memang sikap ane ke teman-teman ane mulai berubah. Mungkin karena ane merasa rendah diri, jadinya ane rada sensitif dan gampang emosi. Teman-teman yang dulu posisinya di bawah ane, sekarang sudah memiliki posisi yang lebih baik, dengan kerjaan yang lebih baik juga.
Ririn sendiri sekarang sudah mengepalai beberapa tim Riset. Dia juga hampir selalu dilibatkan dalam operasi-operasi besar. Padahal dulu dia cuma perempuan penakut yang berkali-kali ingin mundur dari organisasi. Sekarang dia jauh lebih berkembang daripada ane. Entah ane merasa iri atau seharusnya ane senang dengan perkembangan karir Ririn di organisasi.
“sorry Rin, gw lagi ga mood” kata ane berusaha menjaga suasana.
Dia lalu duduk di depan ane, menempati posisi yang sebelumnya ditempati oleh Ica.
“lo udah berbuat banyak buat organisasi, suatu saat pasti lo bisa dapat jabatan yang bagus” katanya berusaha menghibur.
Tapi entah kenapa mendengar soal organisasi, ane malah makin jengkel.
“yah entahlah, mungkin saking udah ga dianggap, gw malah cuma dijadiin badut” kata ane dengan suara masih kesal.
“ga apa lah, yang penting kiriman bulanan kan tetap ada” katanya lagi yang kali ini membuat ane sedikit terhibur.
Memang untuk orang-orang yang sudah menempati jabatan tertentu atau dianggap berjasa, ada semacam “gaji” untuk kami. Nama kami ditempatkan pada beberapa perusahaan multinasional dan diberi pekerjaan yang tidak pernah kami kerjakan. Posisi kami biasanya tertulis surveyor lapangan, observer, peneliti , dan lain-lain. Dari yang ane dapatkan, ane bisa membiayai kuliah ane, juga kadang bisa ngasih buat orangtua ane.
“mungkin organisasi bisa ngelupain lo, tapi gw ga pernah ngelupain apa yang udah pernah lo lakukan buat gw” katanya sambil menggenggam telapak tangan ane.
PART IX : Stars
Ternyata rencana pembuatan film propaganda akan dilanjutkan dalam jangka panjang oleh organisasi. Kecuali ane, seluruh anggota “tim” mengalami pergantian. Menurut petinggi organisasi mereka menyukai aksi-aksi yang ane lakukan, sekaligus karena ane juga anggota organisasi yang sudah berpengalaman. Mereka berharap kehadiran ane di film juga bisa menginspirasi anggota organisasi yang lainnya.
Sisa anggota tim ane merupakan model yang sudah melalui proses casting terlebih dahulu. Tentunya mereka nggak dikasih tau bahwa akan berhadapan dengan mahluk luar angkasa sebagai lawan mainnya.
“silahkan dilihat-lihat” kata Raymond ke ane, sambil menyerahkan data-data anggota tim ane yang akan ikut main di dalam film.
Raymond adalah sutradara yang cukup handal dalam membuat film-film dokumenter. Dia juga sudah cukup lama terlibat di dalam organisasi.
Dari foto-foto yang ane lihat mereka semua berpenampilan sangat menarik. Benar-benar cocok untuk main film. Rata-rata juga sudah berpengalaman sebagai foto model di berbagai majalah.
“semuanya orang baru, gampang diatur” kata Raymond lagi dengan suaranya yang agak feminine.
“situ tinggal ikutin i punya arahan aja” katanya sambil sesekali ikut melihat dokumen yang ada.
“lo yakin ini bakal aman-aman aja?” tanya ane
“santai aja bos, i udah pengalaman” jawabnya
“maksud gw, aliennya gimana?” tanya ane lagi
“itu juga udah diatur, tinggal terima beres aja”
Ane sendiri ga yakin ini akan berjalan lancar-lancar aja. Ane pikir apa aktor dan aktris ini bakal tahan dibanting-banting kayak ane waktu itu. Walaupun cuma film si alien waktu itu beneran banget aksinya.
Dari dokumen yang ane baca, syuting akan dilakukan di lokasi milik organisasi. Entah dimana nggak disebutkan dengan jelas. Waktu pengambilan gambar dikatakan bisa beberapa kali, sesuai dengan kebutuhan .
“duitnya ok kan?” tanya Raymond disertai dengan senyum aneh
Wow…memang bayaran yang tertulis terbilang cukup besar. Dan ternyata ane mendapatkan bayaran yang paling tinggi. Walaupun ga memberi jawaban, sepertinya si Raymond tau kalo ane juga ada rasa senang di dalam hati terkait dengan besarnya uang yang akan ane terima.
“you aksi yang the best aja, pasti dipake terus. ntar i pasti bantu deh” kata Raymond dengan ekspresi sumringah.
tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
“masuk” kata Raymond singkat.
Ane bisa melihat beberapa orang masuk ke dalam ruangan. Kalo dari penampilannya mereka ini aktor dan aktris yang akan dimasukkan ke dalam tim ane.
“wah udah pada datang nih” Raymond menyambut mereka.
“ayo-ayo pada kenalan dulu”
Ada dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Seperti di foto yang ane lihat mereka memang benar-benar berpenampilan menarik. Yang laki-laki bernama Jay dan Glen. Dua-duanya punya tubuh yang atletis. Yah memang ga heran, karena mereka berdua sempat jadi model majalah fitness. Ga heran kalau si Raymond kelihatan banget terus-terusan melirik ke arah mereka.
Sementara yang perempuan bernama Sandra dan Milka. Sandra memiliki rambut panjang dan berwajah oriental. Sedangkan Milka berwajah Latin dengan rambut sebahu. Mungkin karena film ini akan diedarkan ke luar Indonesia sehingga para pemainnya pun agak dibuat berwajah “internasional”
Mereka semua kelihatan bersikap ramah dan antusias. Ya memang dari track recordnya belum ada satupun dari mereka yang muncul di dunia perfilman. Apalagi dengan bayaran yang terbilang besar, pastinya ini dianggap sebuah kesempatan untuk berkarir di dunia hiburan.
Casting yang dilalui mereka juga terbilang cukup sulit, karena ada semacam ujian bela diri dasar, uji ketahanan fisik, ujian yang terkait dengan kecerdasan dan lain-lain. Belum lagi proses wawancara yang ketat dari organisasi. Seleksi yang panjang ini diperlukan karena organisasi tidak menyediakan pemeran pengganti, sehingga tetap ada resiko besar yang bisa terjadi. Mereka juga sudah menandatangani semacam kontrak untuk tidak membocorkan naskah yang sudah diberikan.
“gimana, udah pada baca-baca?” tanya Raymond
terlihat mereka semua mengangguk.
“sekarang kita briefing dulu ya”
Raymond pun mulai menjelaskan mengenai syuting yang akan dilakukan. Seolah-olah memang ini adalah syuting untuk membuat film seri yang bertema action. Ya bisa dibilang seperti akan membuat film sejenis Ksatria Baja Hitam. Setiap pemain tampak menyimak dengan saksama penjelasan dari Raymond. Sesekali mereka terlihat mencatat. Tidak lupa mereka juga tertawa saat Raymond mengungkapkan beberapa lelucon. Ya menurut ane sih nggak lucu, tapi mungkin mereka sengaja ketawa biar si Raymond senang.
Buat ane sendiri, ane anggap ini ajang buat refreshing. Mungkin kalo emang ane bisa berperan dengan baik, ane bisa mendapatkan lagi posisi yang bagus di organisasi. Ane juga lumayan lega karena bisa berpisah dari kelompok yang nggak bisa diandalkan. Menurut info yang ane dapat, tim ane yang payah itu sekarang lagi dipekerjakan buat membersihkan sisa-sisa penyambutan kedatangan mahluk luar angkasa di suatu lokasi.
“sori telat” muncul satu orang lagi yang dengan cepat masuk ke dalam ruangan. Seorang perempuan yang berpakaian semi militer, pakaian yang biasa dipakai kalau ada misi lapangan.
“gimana sih….nggak proffesional” tegur Raymond
“hahaha….kan udah udah bilang sori” katanya menanggapi.
“ok guys and girls, kenalin, ini asisten i, namanya Gadis. Tapi ga tau deh ya nama sesuai sama kondisi sesungguhnya apa enggak” Raymond sambil bercanda memperkenalkan perempuan yang berdiri di hadapan kami.
PART X : Script
“yang jadi tokoh jagoan berkostum ini siapa ya?” tanya ane
“ah itu…..hahahah….itu dirahasiakan, pokoknya dia akan muncul sebagai penolong. Jadi supaya acting kalian kelihatan natural” Raymond menjelaskan.
Garis besar dari cerita episode kedua adalah ane akan memiliki susunan tim yang baru, dimana ane harus memimpin mereka untuk menuju ke tempat misterius. Disana kami akan menemukan sebuah pesawat luar angkasa yang terdampar. Seperti sudah bisa diduga, kami akan mengeksplorasi pesawat tersebut. Di tengah eksplorasi nantinya akan ada serangan dari mahluk luar angkasa. Klimaks cerita adalah datangnya pertolongan dari si jagoan berkostum saat tim ane udah nggak berdaya.
“mahluk luar angkasanya akan seperti apa ya? belum ada bayangan nih” Sandra minta penjelasan.
“hmm ini juga kita simpan dulu….ya alasannya sama. I mau semuanya kelihatan natural jadi tunggu aja ya. Yang penting kalian acting se cool mungkin ” jawab Raymond sambil tersenyum ke arah Jay.
Dari ekspresinya Sandra kelihatan nggak puas dengan jawaban dan penjelasan dari Raymond yang terkesan menutup-nutupi sesuatu.
“Pokoknya semua santai aja, ini kita mencoba konsep baru, tenang aja, konsep ini sering dipakai kok di pembuatan film di luar negeri” kali ini Gadis angkat bicara. Rupanya dia menangkap ketidakpuasan dari Sandra.
Mendengar kata “luar negeri” kelihatan aktor dan aktris ini manggut-manggut dengan wajah antusias, termasuk Sandra yang tadinya kelihatan curiga. Mereka lalu lanjut membaca script dan mengajukan beberapa pertanyaan teknis.
“inget ya tetep pada jaga body , jangan makan sembarangan” Raymond mengingatkan.
Kira-kira satu setengah jam kemudian pertemuan selesai, para aktor dan aktris pun ijin untuk pulang. Ane juga mau langsung cabut darisana.
“eh abis ini ada kerjaan lagi ga?” tanya Gadis
“ga ada sih” jawab ane
“gimana kalo kita makan dulu” katanya menawarkan.
Saat itu Raymond juga udah keluar dari ruangan. Keliatannya dia ngejar si Jay, entah mau ngapain dia.
“boleh deh, tapi di luar aja ya”
Ane pikir, ane mau nanya-nanya lebih detail lagi soal proyek film ini.
————————————————————-
Ane dan Gadis sepakat untuk makan di sebuah restoran fast food di dekat tempat pertemuan tadi. Kelihatannya Gadis ini lebih cerdas daripada si Raymond.
“lo orang lama ya di organisasi?” tanya Gadis
“ga terlalu sih, kalo lo gimana?” ane balik nanya
“ya gw sih baru tiga taunan, tapi gw ga kayak lo yang sering liat alien” jawab Gadis.
Kelihatannya dia lumayan tau banyak tentang ane.
“hahaha tapi udah mati karir gw” kata ane terus terang
” gw juga keliatannya gini-gini aja di organisasi” kata Gadis sambil melihat ke arah luar.
Dalam pembicaraan lebih lanjut, diketahui alien yang terlibat dalam film sudah bersikap koperatif. Dan kebanyakan mereka alien kategori hijau yang sudah lama berada di area asimilasi. Sementara lokasi syuting sendiri bakal ada di sekitar area asimilasi. Dari pengalaman ane sih, area asimilasi wilayah hijau akan aman banget. Mungkin kalo nanti ane kesana lagi, ane bakal ketemu si Simon. Mudah-mudahan sekarang dia udah bisa nyetir mobil dengan lebih baik.
“kok senyum-senyum sendiri?” tanya Gadis
Ane mungkin ga sadar tersenyum karena bayangin pengalaman ane di area asimilasi dulu.
“ah enggak lagi inget yang lucu aja” jawab ane
Selain mendapat banyak informasi dari Gadis, ane juga banyak cerita ke dia. Ya mau enggak mau juga, karena kalo ane yang nanya terus , bakal ketauan ane cuma mau menggali info dari dia.
Enggak terasa hari udah mulai sore. Kami lalu beranjak untuk balik ke tempat masing-masing. Di luar restoran , tampak suasana sudah mulai ramai, banyak kendaraan berlalu-lalang.
“rame bener ya” kata Gadis
“iya lah, jam bubaran kantor” kata ane sambil melihat ke salah satu sudut jalan.
“Ada apa tuh?”
Kelihatan ada keramaian disana. Ga berapa lama kemudian ada orang berlari dengan kencang ke arah kami.
“Awas! Awas!” orang itu berseru. Dia berlari sangat kencang dan di belakangnya ada beberapa orang kelihatan lagi ngejar.
Dengan sigap Gadis menangkap bahu orang itu, menyapu kakinya dan membantingnya ke bawah. Orang itu mengerang kesakitan.
Para pengejarnya tampak bersiap menyerang orang tersebut.
“Brengsek!” pria itu tiba-tiba mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.
“Mau mati lu semua” ancamnya.
Orang-orang yang tadinya pada ngejar jadi terdiam.
Ane lalu berjalan mendekati orang berpistol itu.
“mau mampus ya?” ancamnya sambil nodongin pistol ke muka ane
“tembak aja bang” jawab ane sambil terus mendekati dia
“bosen idup lu!” ancamnya lagi
Setelah pistolnya ada di jangkauan tangan ane, dengan cepat ane menangkap barang tersebut. Dia kelihatan kaget. Ane lalu berhasil mengunci tangannya.
“ayo tembak” tantang ane
Pistolnya kemudian jatuh. Sebelum ada orang yang ngambil barang itu, buru-buru ane injak dengan keras.
Krak!
“Lo pikir gw ga bisa bedain pistol beneran sama mainan” kata ane ke orang yang lagi ane kunci tangannya. Dia cuma bisa meringis kesakitan.
PART XI : Youngsters
Rupanya orang ini hanya penjambret yang lagi apes. Setelah berhasil mendapat barang dari korbannya, ia diteriaki dan dikejar sekumpulan orang. Karena panik, rekannya yang menunggu pakai motor sudah kabur duluan. Sekarang dia udah ane serahkan ke orang-orang yang daritadi ngejar untuk segera dibawa ke polisi.
“paling nanti digebukin dulu tuh” kata Gadis sambil merapikan bajunya yang agak lecek karena aksinya tadi.
“ya nasib lah” ane menanggapi dengan singkat.
Ane ga heran sih kalo si Gadis ini bisa beladiri. Karena rata-rata perempuan yang ane kenal di organisasi pada jago beladiri. Seperti Kak L yang ahli menggunakan senjata api dan Amy yang juga jago bertarung dengan tangan kosong.
“sayang juga ya orang sejago lo udah ga tugas lapangan” Gadis kelihatan masih penasaran dengan jalan karir ane di organisasi.
“hahaha…itu lo tanya aja sama pejabat” jawab ane.
Hari itu berjalan dengan cukup menyenangkan buat ane. Walaupun awalnya agak males juga ngikutin briefing bareng si Raymond. Mungkin karena dari pertemuan dengan si Gadis tadi ane bisa cerita-cerita mengenai masa lalu ane di organisasi, jadi ane sedikit lega.
——————————————————————————
Karena besoknya masih ada kuliah, ane langsung berniat balik ke tempat kos ane. Anyway tempat kos ane yang ini beda dengan yang ada di tulisan terdahulu . Demi keamanan anggota organisasi, ane “dikoskan” ke dalam bangunan dua lantai yang fasilitasnya cukup ok. Di bangunan ini isinya semua anggota organisasi yang ada di daerah sekitar tempat kuliah ane. Masing-masing dari kami mendapatkan ruangan sendiri-sendiri.
Walaupun banyak anggota organisasi disana, tapi nggak semuanya ane kenal, karena masing-masing punya jadwal yang berbeda.
“halo boss!” sapa si penjaga kos begitu melihat ane muncul
“halo juga bang” balas ane sambil jalan masuk
Di pekarangan ane lihat ada dua orang , yang juga anggota organisasi lagi ngobrol-ngobrol. Ketika melihat ane mereka juga menyapa. Bukannya sombong, ane memang termasuk yang pengalamannya paling banyak di organisasi dibandingkan semua anak yang ada disana.
Memasuki ruang tengah yang lumayan besar, ada beberapa orang kelihatan lagi santai. Tapi ada juga satu orang yang kelihatan serius.
” serius amat lo?” tanya ane ke Totok.
” iya nih lagi baca-baca” jawabnya
“halah….udah lah Tok, ga usah dipikirin” sahut Arvian, teman seangkatannya
“sini gw liat” kata ane sambil minta dokumen yang lagi dibaca sama Totok
Tanpa diminta dua kali, Totok menyerahkan dokumen itu ke ane.
Rupanya dia lagi baca beberapa kasus yang tak terselesaikan terkait dengan kemunculan mahluk luar angkasa di bumi. Yah, memang selain mahluk luar angkasa yang melalui proses penjemputan, ada juga mahluk yang memang nongol sendiri alias tidak bekerjasama dengan organisasi.
“ini kerjaan tim lo?” tanya ane
“iya nih, rada berat juga” jawab Totok.
Mahluk yang muncul tanpa koordinasi dan kemudian menjadi target organisasi memang akan menimbulkan banyak kesulitan. Karena organisasi tidak punya data yang jelas tentang mahluk terkait. Sehingga bisa menimbulkan resiko yang cukup besar untuk tim yang menangani.
“sabar-sabar deh Tok, lagian tim lo kan lumayan orang-orangnya” kata ane berusaha menghibur Totok.
Dia cuma ngangguk setuju. Lalu ane berjalan menuju ke kamar ane.
Dulu sebenarnya ane juga melalui masa penuh antusias, sama seperti yang dialami oleh Totok dan teman-temannya. Waktu itu ane menikmati bisa berdiskusi sama Albert, Feby, Ririn, Bastian dan lain-lain. Sayangnya masa-masa itu udah lewat.
Ane mencoba beristirahat sambil membaca beberapa dokumen yang masuk. Biasanya dokumen ini udah muncul di lantai kamar masing-masing anggota. Setau ane sih, dokumen ini diselipkan dari bawah pintu lalu didorong ke dalam kamar oleh pengantarnya.
Dari dokumen yang ane terima, enggak ada yang terlalu penting. Isinya cuma laporan mengenai aktifitas yang terjadi di sekitar lingkungan ane. Ada juga laporan kegiatan yang telah dilakukan oleh organisasi dan keberhasilan-keberhasilannya. Menurut ane ini sih rada berbau propaganda, toh kita juga ga tau benar atau tidak cerita keberhasilan yang tertulis di dokumen itu.
Baru ane mau siap-siap mandi, terdengar suara pintu diketuk.
“siapa?” tanya ane
“gw nih” dari suaranya ane kenal, ini si Mochtar.
palingan juga dia mau curhat soal cewek.
Dan benar pas ane buka pintu, dia langsung membuka pembicaraan
“sori banget, gw butuh saran lo lagi nih” kata si Mochtar sambil tetap berdiri di luar.
“apaan sih? soal Amy?” tebak ane
“iya” jawabnya mantap
“udah lah, lo cari yang laen aja, dia ga bakal mau sama lo” kata ane. Ane juga rada jengkel sih, si Mochtar ini masih ngebet aja ngejar Amy. Padahal udah sempat ditolak dia.
Mochtar ini sebenarnya angkatannya di organisasi di atas ane, tapi karirnya udah lama mentok. Ya karena dia kuliahnya juga ga beres, udah 6 tahun ga selesai. Di organisasi pun dia ga bisa maksimal. Cuma dia tetap dipakai di organisasi karena dia punya keahlian memperbaiki berbagai macam peralatan.
“Tar, lo tau kan posisi Amy sekarang?” tanya ane
“iye gw tau, tapi usaha kan boleh” jawabnya tetap berusaha minta saran.
“sekarang dia aja udah jadi anggota tingkat tinggi, sementara lo kuliah ga kelar-kelar” ane ngingetin Mochtar.
Amy sekarang memang udah jadi agen tingkat tinggi, yang pekerjaan maupun kegiatannya dirahasiakan. Biasanya agen pada posisi ini kerjaannya lebih banyak di area asimilasi alias banyak berinteraksi dengan mahluk luar angkasa.
“kalo lo emang nekat, ya lo beresin tuh kuliah, cari kerja yang bener. Siapa tau lo ada rejeki dan sukses, baru lo kejar si Amy. Udah lah gw, mo istirahat” kata ane sambil nutup pintu. Sementara si Mochtar mau ngomong lagi tapi pintu udah keburu ane tutup.
PART XII : Let’s find out!
Malam itu ane tidur dengan nggak terlalu nyenyak karena beberapa kali terbangun. Jam menunjukkan pukul dua pagi. Ane coba bangun dan keluar dari kamar. Sekalian ane mau ngambil minum atau camilan. Lorong menuju ke ruang depan kelihatan udah gelap. Kamar-kamar di sebelah ane juga udah pada mati lampunya.
Waktu sampai di ruang depan, ane lumayan kaget ngeliat masih ada orang disitu. Tadinya ane pikir itu si penjaga kosan,tapi ternyata bukan.
“ngapain lo ga tidur?” tanya ane
“gw ga bisa tidur nih” jawab Mochtar
“elu, masalah cewek aja pake ga bisa tidur” kata ane sambil duduk di salah satu kursi.
“bukan, ini bukan masalah itu” katanya sambil ngeliat ke arah halaman.
“terus apaan? kuliah?” tanya ane lagi.
Ane rada kasihan juga sama si Mochtar, kuliah ga jelas, kerjaan juga ga jelas. Padahal umur udah lebih tua dari ane.
“gw dapet ini nih” dia nyerahin selembar dokumen ke ane.
Ane lalu coba baca dokumen itu dengan hati-hati. Isi dokumen itu berupa misi pengintaian terhadap sosok yang diduga mahluk luar angkasa. Misi ini sepertinya diperuntukkan buat si Mochtar.
“ya udah lu jalanin aja” kata ane sambil balikin dokumen itu.
“ck….lo baca ga teliti” Mochtar malah balikin lagi itu dokumen ke ane
” iya gw tau ini bukan kategori hijau, tapi kan kita ga bisa selalu milih alien yang gampang” kata ane ngejelasin.
“barangkali aja ini kesempatan lo buat naik” lanjut ane lagi, berusaha memotivasi dia.
“kalo yang di dokumen ini sih emang begitu penjelasannya, tapi gw denger dari orang dalem, udah ada beberapa anggota yang gagal di misi ini” kali ini giliran Mochtar yang menjelaskan ke ane.
“bahkan yang terakhir sampe acara masuk Rumah Sakit segala” lanjutnya lagi.
“gw ga mau konyol, gw juga masih punya pikiran”
Tumben ini anak bisa mikir panjang. Ane kira dia simple-simple aja orangnya.
Ane liat ekspresi mukanya memang agak muram. Kayaknya ini jadi beban banget buat dia.
“ini kan bukan misi nangkep alien, cuma ngumpulin info aja” ane coba menenangkan dia.
“nggak juga, anggota yang terluka itu disebabkan karena si alien ini sadar dia dimata-matain. Sampe saat ini ga ada tim Penjaga yang mau nangkep karena mereka belum tahu kelemahan alien itu. Nah ini tugas gw buat mencari tau” kata-katanya kali ini terdengar lebih tegas. Kelihatan banget kalau dia kesal.
“ya udah lo mau gw bantuin?” ane akhirnya nawarin bantuan ke dia. Ya sekalian ane juga udah lama ga terlibat dalam tugas yang menarik.
“serius lo?” tanya Mochtar ga yakin
“iya walaupun ntar bantuan gw bakal diketahui juga sama organisasi. Tapi kalo berhasil juga ntar pada diem aja” kata ane dengan serius.
Ya apapun yang kami lakukan, kami sadar bahwa aktivitas kami terpantau oleh organisasi. Jadi pasti ketahuan kalau ane membantu Mochtar menjalankan misinya.
“tapi kalo ada resiko lo tanggung juga ya” kata ane lagi
“ok beres bro” Mochtar kelihatan agak lega.
Masih ada beberapa hari sebelum acara syuting dimulai. Jadi ane masih punya waktu buat bantu si Mochtar melaksanakan misinya.
—————————————————————-
Hari itu cuaca agak mendung. Ane bareng Mochtar naik motor ke lokasi target. Tempatnya agak jauh dari kampus ane. Setelah melewati area persawahan dan tanah-tanah kosong, akhirnya kita tiba di koordinat yang tepat. Di depan kami berdiri sebuah bangunan rumah sederhana yang tampak sudah tidak ada penghuninya.
Tembok rumah kelihatan dipenuhi berbagai coretan grafiti. Pagar depannya juga sudah copot. Mungkin dicuri orang untuk dijual sebagai besi tua. Pintu kayu menuju ke dalam rumah kelihatan keropos. Dari alat pemantau memang tampak ada aktifitas mahluk lain di dalam rumah. Kelihatannya nggak akan sulit untuk menemui mahluk ini.
“nggak bergerak nih dia” kata ane sambil melihat ke alat pemantau
“iya dia udah sering didatengin kali” kata Mochtar.
walaupun suaranya terdengar tenang, tapi dari ekspresinya dia kelihatan tegang.
Di sekitar kami kondisi tampak sepi, tidak ada kendaraan berlalu lalang. Selain motor milik Mochtar, tidak kelihatan ada kendaraan lain diparkir di sekitar situ. Rumah terdekat dari rumah ini jaraknya sekitar 500 meter.
Karena suasana sepi, ane nggak ragu mengeluarkan persenjataan yang sudah kami siapkan. Masing-masing dari kami menggenggam sebuah semacam pistol kecil seukuran telapak tangan. Di organisasi benda ini disebut Masteray.
Alat pemantau tetap tidak menunjukkan adanya pergerakkan dari mahluk di dalam rumah. Ane pun berjalan di depan Mochtar. Di dalam pekarangan hanya terdapat sampah berserakan. Mochtar lalu mengucapkan salam, tetapi tidak ada balasan. Beberapa kali dia mengulanginya, tetapi tidak ada respon.
Ane lalu mengetuk pintu kayu, selain suara ketukan yang timbul, tampak tidak ada suara lainnya. Lalu secara perlahan ane membuka pintu itu. Di belakang ane, si Mochtar tampak berjaga-jaga. Karena merasa tidak ada ancaman apa-apa, ane lalu memberanikan diri melangkah masuk ke dalam, disusul oleh Mochtar.
Ruangan depan tampak sama berantakannya dengan kondisi di pekarangan. Dari sana terlihat ada dua ruangan lagi, yang pintunya sudah jebol. Ane nggak tahu mahluk itu ada di sebelah mana. Merasa tetap tidak menemukan apa-apa, kami masuk ke ruangan samping. Lagi-lagi hanya sebuah ruangan yang berantakan.
Berarti tinggal satu ruangan lagi yang perlu kami periksa. Bisa dipastikan dia ada disana…..
PART XIII : Giant
“siapapun yang disana, kami datang dengan damai!” seru Mochtar ke arah ruangan yang tersisa.
kamipun memasuki ruangan tersebut dan mendapatkan seseorang sedang duduk bersila di atas karpet. Sosok ini mirip orang India , dia mengenakan jubah dan memakai ikat kepala. Dia terlihat menatap kami dengan tenang. Saat itu ane juga tidak merasakan adanya bahaya.
Meskipun demikian ane tetap waspada, karena menurut laporan, misi pengintaian sebelumnya gagal total, dan sebelum tim Penjaga menyergap alien ini sudah menghilang. Karena itu sebenarnya misi ini lebih mirip dengan misi penyergapan tanpa menggunakan banyak personil.
Ane sendiri tahu ada beberapa tim Penjaga sudah bersiap dalam radius 200-500 meter dari lokasi ini dan ane sudah menyalakan pemancar signal untuk menginformasikan posisi ane ke mereka.
“apakah Anda bisa ikut dengan kami?” tanya Mochtar
Pria ini hanya diam saja. Tetapi kemudian dia mulai membuka mulut dan mengatakan kalimat-kalimat yang tidak jelas.
“sepertinya ini bukan bahasa Bumi” kata ane pelan.
Mochtar kelihatan bingung, sama seperti yang ane rasakan.
Sementara orang itu terus bicara tidak jelas.
“kita harus hati-hati , jangan sampai dia salah paham” ane mengingatkan Mochtar.
Orang itu lalu berdiri, menggulung karpet tempat dia duduk. Dan di bawah karpet itu terdapat lempengan besi yang seolah menutupi sesuatu. Dia kemudian menggeser lempeng besi tersebut, memperlihatkan lubang di bawahnya. Kemudian dia menatap ke arah kami dan lagi-lagi berbicara dengan kalimat yang tidak kami mengerti.
Tiba-tiba ane merasa seperti terjadi gempa. Seakan-akan tanah di bawah ane bergerak. Mochtar juga kelihatan harus berpegangan ke salah satu sisi dinding untuk menjaga keseimbangannya. Si mahluk yang mirip orang India ini tampak tidak terpengaruh, perlahan kemudian dia menutup lubang itu dan gempa pun berhenti.
“dia kayaknya mau nunjukkin kalo ada sesuatu di bawah sana” ane berusaha mengartikan tindakan orang itu.
Lalu orang itu memasang kembali karpetnya dan kembali duduk di atasnya.
Sejauh ini dia tidak menunjukkan perilaku yang mengancam.
Beberapa saat kemudian kami mendengar suara keras dari luar bangunan rumah. “Motor gw!” Mochtar berseru sambil berlari ke arah luas, ane pun menyusul langkahnya dan meninggalkan mahluk itu.
Ane bisa lihat Mochtar berdiri di depan pintu masuk sambil menatap keluar. Dia kelihatan shock. “Ada apaan sih?” tanya ane
“Liat tuh!” katanya sambil nunjuk ke luar halaman rumah
Ane juga kaget saat melihat mahluk berbentuk seperti Komodo raksasa sedang mengunyah motor milik Mochtar.
Mochtar kelihatan mengeluarkan Masteray, tapi ane mencegah dia. Toh ane nggak tahu apakah Masteray mempan untuk mahluk itu.
“Black Plant!” ane menunjuk ke arah tanaman itu yang ada di halaman rumah. Nggak hanya satu tapi ada beberapa.
“tadi kayaknya ga ada” kata ane penasaran
“iya” jawab Mochtar.
Langit di luar pun terlihat berwarna aneh, warnanya biru kehijauan. Ane langsung lari balik ke ruangan tadi , tanpa pikir panjang ane menodongkan Masteray ke arah sosok yang masih duduk di atas karpet.
“kembalikan kami ke tempat asal!”
Dia kelihatan hanya tersenyum.
“saya tidak main-main Bung!” seru ane lagi
Dia lalu berdiri , menggulung karpetnya lagi, lalu membuka lempengan besi di lantai. Kali ini tidak terjadi gempa, tetapi dengan cepat orang itu melompat masuk ke dalam lubang.
“Brengsek!” ane merasa ini bakal jadi masalah.
Mochtar yang udah menyusul balik ke ruangan kelihatan agak panik
“gimana nih, motor gw ancur” katanya
“ga usah mikirin motor dulu, kalo kita masih bisa balik dalam keadaan hidup itu udah bagus” ane mengingatkan Mochtar
Dengan hati-hati ane berjalan ke arah lubang.
“dia tadi lompat kesini”
Ane coba menyalakan senter dan melihat ke isi lubang. Kelihatan kosong dan dalam. Sekelilingnya seperti dilapisi logam. Entah kemana orang itu menghilang.
“kita mau masuk sini juga?” tanya Mochtar
Ane ragu buat ngasih jawaban.
Brakk! tampak serpihan kayu berjatuhan dari atas. Dari langit-langit yang rusak kami bisa melihat mulut Komodo raksasa yang tadi merusak motor milik Mochtar.
Tanpa ragu Mochtar langsung menembakkan Masteray ke arah mahluk itu. Sinar yang melesat dari Masteray tampak telak mengenai leher si Komodo dan membuat badannya agak terguncang. Beberapa tembakkan kembali melesat, sebagian meleset dan menghancurkan langit-langit, tetapi beberapa tampak kembali mengenai mahluk raksasa itu.
Sepertinya usaha si Mochtar ada hasilnya, mahluk itu meraung dan kemudian kami bisa mendengar langkahnya menjauh dari bangunan rumah.
Kembali ke masalah berikutnya, ada dimanakah kami? dan apakah kami harus ikut terjun ke dalam lubang yang kedalamannya tidak jelas ini ?
PART XIV : Frogger
“hmm….gw ada sedikit pikiran nih” Mochtar memecah keheningan
“gimana kalo kita eksplorasi dulu tempat ini?” tanyanya ke ane
Sebelum ane memberi jawaban, dia mulai angkat bicara lagi
“yah, gimana juga kan gw ga kayak lo yang sering liat mahluk luar angkasa, lo juga udah pernah ke area asimilasi. Gw penasaran sih, mau lihat dunia alien itu kayak gimana. Ini mungkin kesempatan gw satu-satunya”
Kalo dari sudut pandang dia, ya ada benarnya juga. Andai ane berada di posisi dia, ane juga pastinya pengen melihat lebih banyak lagi hal yang berhubungan dengan mahluk luar angkasa. Ini memang kesempatan yang langka. Tapi ane juga berpikir tempat ini agak berbahaya, tidak jelas juga mahluk-mahluk apa yang ada disini.
“kita ga usah jalan jauh-jauh, kalo ada apa-apa kita balik lagi kesini” Mochtar berusaha membujuk ane.
“ok deh, kita lihat-lihat sebentar” akhirnya ane terpengaruh juga dengan bujukannya. Ane lalu memasang alat pemancar sinyal disana. Walau kecil kemungkinannya ane berharap sinyal itu bisa ditangkap oleh organisasi. Buat jaga-jaga juga sebagai penanda kalau nanti ane nyasar.
Kami lalu kembali berjalan keluar dari bangunan rumah, dan kali ini ane melihat lagi dengan jelas Black Plant yang tumbuh di halaman. Ane juga cukup penasaran melihat Black Plant yang tumbuh di daratan. Selama ini yang ane tahu Black Plant hidup di dalam air. Mochtar kelihatan mengeluarkan kamera digital dan mulai mengambil beberapa gambar.
Setelah keluar dari halaman rumah, kami bisa melihat ada berbagai pohon dengan bentuk yang aneh di seberang jalan. Ane tetap waspada, mungkin aja ada mahluk yang menunggu di balik pohon-pohon itu. Mochtar berjalan mendahului ane, dia menyusuri jalan yang entah mengarah kemana. Selain bangunan rumah, belum terlihat ada bangunan lainnya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ada suara dengungan yang cukup keras terdengar. Sepertinya ada sesuatu yang sedang bergerak ke arah kami. Ane pun mulai menggenggam Masteray yang daritadi belum ane tembakkan sekalipun. Mochtar juga melakukan hal yang sama.
Suara dengungan itu semakin mendekat.
“Di atas!” kata Mochtar sambil menunjuk ke arah langit.
Diantara warna langit yang kehijauan, ane bisa melihat ada sebuah benda besar menyerupai balon udara, tetapi di dasarnya ada baling-baling yang berputar. Kemudian ada suara yang tidak jelas keluar dari arah balon udara tersebut. Sepertinya suara itu ditujukkan ke arah kami. Lagi-lagi dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti.
“jangan ditembak” ane mengingatkan Mochtar. Ane hanya berdiri di posisi ane dan tetap melihat ke atas. Terlihat baling-baling di dasar balon udara itu berputar melambat dan akhirnya berhenti. Tetapi kendaraan itu tetap bisa melayang di langit. Tidak lama kemudian sebuah tangga tali diturunkan. Mochtar terlihat mengambil gambar dari balon udara itu, dan sepertinya mahluk di atas sana tidak mempermasalahkan tindakannya.
Ane bisa melihat ada mahluk yang keluar dari balon udara dan mulai menuruni tangga tali. Dari jauh terlihat wujudnya seperti manusia, tetapi bentuk kepalanya agak aneh. Setelah dia turun ke daratan barulah wujudnya terlihat jelas. Tingginya nggak jauh beda dengan tinggi ane, kulitnya berkerut-kerut berwarna hijau kuning. Wajahnya seperti katak.
Mochtar kelihatan terkejut melihat mahluk ini, dia cepat-cepat berpindah posisi ke belakang ane. Si muka katak ini sepertinya tidak membawa senjata. Tapi rata-rata mahluk luar angkasa yang ane temui memang tidak bersenjata karena kemampuan pertahanan diri mereka sudah bagus.
Dia lalu mulai mengatakan beberapa kalimat ke arah kami. Tapi karena tidak mengerti bahasanya, ane hanya melambaikan tangan. Menandakan ane nggak ngerti apa yang dia ucapkan. Ane lalu mengeluarkan tanda pengenal ane dan menyerahkan ke dia. Di tanda pengenal itu ada gambar bumi dan peta Indonesia. Ada juga keterangan mengenai posisi Bumi di tata surya.
Dia kelihatan terdiam sesaat. Sementara suara mahluk lain di balon udara terdengar lagi, seperti menanyakan kondisi rekannya yang ada di bawah. Si muka katak mengeluarkan semacam alat komunikasi, dan kelihatan berbicara dengan temannya yang di atas.
Mochtar lalu menunjuk-nunjuk ke arah rumah tempat kami berasal. Mahluk itu lalu berjalan melewati ane dan Mochtar, dia juga sepertinya ingin kami mengikuti dia. Kami bertiga lalu berjalan ke arah rumah, sementara suara dengungan baling-baling mulai terdengar. Balon udara juga terlihat mengikuti arah kami berjalan.
Tidak perlu waktu lama untuk kembali ke rumah tempat kami berasal. Disana si muka katak seolah mempersilahkan ane dan Mochtar masuk duluan ke dalam rumah. Ane lalu masuk, diikuti oleh Mochtar, kemudian baru mahluk itu menyusul. Tanpa berlama-lama ane masuk ke ruangan tempat lubang dimana si mahluk India melompat ke dalamnya. Sampai di depan lubang, kelihatan si muka katak terkejut. Ia lalu berseru ke arah ane dan Mochtar, dia menunjuk-nunjuk ke arah pintu ruangan.
Mungkin dia pengen ane dan Mochtar berjalan ke arah pintu. Ane pun menarik Mochtar yang kelihatan bingung . Kami berdua lalu mengamati mahluk itu dari dekat pintu. Mahluk itu seperti mengeluarkan sebuah benda bulat lalu melemparkannya ke dalam lubang. Dengan cepat dia berlari ke arah pintu sambil mendorong tubuh ane dan Mochtar.
Beberapa detik kemudian terdengar ledakan keras dari dalam ruangan.
“gila, dia ledakkin itu lubang” kata ane ke Mochtar
Mochtar lalu mendorong mahluk itu, untuk kemudian dia masuk ke dalam ruangan, memastikan apa yang terjadi disana. Ane lalu menyusul Mochtar dan bisa melihat dia kelihatan berlutut sambil menatap lubang yang di dalamnya sudah tertutup berbagai material.
“kita ga bisa balik” Mochtar tampak pucat
PART XV : Frogger (2)
Rasa takut Mochtar seolah berubah menjadi amarah, dengan cepat dia mengarahkan Masteray ke si muka katak yang berdiri dekat pintu ruangan. Blam! Sebelum berhasil menembakkan Masteray, sebuah kilatan cahaya sudah lebih dulu menyambar tubuh Mochtar, membuatnya terpental dan menabrak salah satu sisi tembok.
Rupanya tembakan itu berasal dari rekan si muka katak yang sudah menyusul masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian berseru-seru dengan suara keras sambil mengarahkan semacam senapan ke arah ane. Tapi ane dengan sigap bergerak menyamping dan beberapa kali menembakkan Masteray ke arah mereka. Terdengar suara tembok terhantam keras, rupanya tembakan ane meleset. Tapi ane memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil posisi di balik sebuah kotak kayu yang ukurannya cukup besar. Setidaknya kalau ada tembakkan tidak akan langsung mengenai ane.
Ane nggak tahu dengan jelas bagaimana kondisi Mochtar. Sementara dua mahluk berwajah katak sudah tidak terlihat di dekat pintu. Tapi ane yakin mereka masih ada di dalam bangunan rumah. Suasana yang tadinya ramai mendadak senyap. Setelah perhatikan dengan jelas, tembakkan Masteray ane tadi hanya mengenai tembok di dekat pintu, menyebabkan retakan yang cukup dalam.
Mungkin para mahluk muka katak itu kaget juga dengan tembakkan dari senjata ane. Kalau terkena langsung tentunya bisa berakibat fatal. Dari analisis ane, mereka sepertinya menunggu bantuan datang sebelum mulai menyerang kembali. Beberapa saat tidak ada pergerakan, ane memberanikan diri bergerak menuju ke arah Mochtar. Ane coba periksa denyut nadinya masih ada. Semoga dia hanya pingsan.
Ane bisa dengar ada pergerakkan di dekat pintu. Kembali ane mengarahkan Masteray kesana. Tidak lama kemudian terdengar dengung suara baling-baling dari arah atap. Melalui atap yang dirusak oleh Komodo raksasa ane bisa melihat ada beberapa balon udara di atas sana. Sepertinya posisi ane sudah terkepung. Mereka berhasil mendatangkan bala bantuan.
Terdengar suara berseru-seru dari atas sana, mereka tampak sedang berkomunikasi satu sama lain. Brak! Brak! Brak! Kayu dan reruntuhan lainnya jatuh dari arah atas. Tanpa berpikir panjang ane menarik tubuh Mochtar ke salah satu sudut ruangan. Langit-langit di atas ane mulai runtuh, terdengar suara desing tembakkan dari atas yang menghancurkan atap rumah.
Daripada mati konyol, ane menembakkan Masteray ke arah salah satu balon udara dan mengenai tepat di baling-balingnya. Balon tersebut kelihatan oleng dan menabrak balon udara di sebelahnya. Suara desing tembakkan pun berhenti, diganti suara seruan-seruan antara mahluk di atas sana. Duar! salah satu sisi tembok yang menghadap ke luar tampak bolong tertembak sesuatu.
Selain serangan dari udara , rupanya sudah ada pasukan lain yang tiba di daratan dan mulai menembak ke arah rumah. Tembakkan yang dilontarkan cukup kuat untuk mulai menghancurkan tembok rumah. Ane sebenarnya agak kerepotan karena selain menjaga diri ane, ane juga harus memastikan supaya Mochtar juga nggak kena tembakkan.
Ting! sebuah bola logam kecil terlempar dari arah luar masuk ke dalam ruangan. Granat! Dengan agak panik ane menggunakan potongan kayu menyepak bola logam tersebut, dengan harapan bola itu akan terlontar keluar. Sayangnya bola itu malah memantul ke dinding lalu masuk ke dalam lubang yang ada di dalam ruangan.
Ane menutup telinga ane , karena suara ledakkan keras terdengar. Serpihan bangunan menghujani tubuh ane. Suasana pun kembali hening. Ane bisa lihat asap mengepul dari dalam lubang. Sepertinya bola logam itu jatuh cukup jauh ke dalam lubang, melewati sela-sela reruntuhan yang sebelumnya menutup lubang tersebut. Ane tetap menjaga diri untuk tidak membuat suara, biar mereka berpikir ane sudah mati terkena granat tadi.
Suara langkah beberapa mahluk tampak mulai terdengar lagi, mereka sudah memasuki bangunan rumah. Kali ini ane nggak yakin bisa bertahan karena jumlah mereka pasti sangat banyak. Ane kemudian melihat beberapa mahluk dengan cepat masuk ke dalam ruangan tempat ane berada sambil menembakkan senjata mereka. Satu tembakkan mengenai kotak di depan ane dan menghancurkannya berkeping-keping.
Saat itu ane memilih untuk menyerah karena ane tau nggak akan menang kalau ane terus melawan. Ane melemparkan senjata ane dan mengangkat tangan tinggi-tinggi, semoga mereka tahu artinya. Salah satu dari mereka lalu menodongkan senjatanya ke arah muka ane. Tapi teman di sebelahnya kelihatan membentak dan membuatnya menurunkan senjata itu.
Mereka mulai berdiri mengelilingi posisi ane dan Mochtar sambil berbicara satu sama lain yang sedikitpun ane nggak ngerti. Satu mahluk kelihatan berjalan dan memeriksa lubang yang ada di dalam ruangan. Dia lalu memberitahukan mahluk lainnya yang kemudian ikut memeriksa lubang itu. Ane cukup lega mereka nggak mencelakai ane, setidaknya untuk saat itu, tidak tahu apa yang akan mereka lakukan nanti.
Kemudian, mahluk yang kelihatan seperti komandannya membentak ane, sambil mengisyaratkan agar ane bergeser. Ane pun menuruti kemauannya. Beberapa mahluk lalu berjalan dan menggotong tubuh Mochtar. Tadinya ane mau mencegah, tapi ya ane biarkan saja, toh ane sendiri dalam kondisi yang tidak jelas.
Mereka kelihatan membawa tubuh Mochtar keluar ruangan, entah mau dibawa kemana. Sementara ane di dalam ruangan bersama si komandan muka katak dan dua mahluk lainnya yang terus mengawasi ane.
PART XVI : Frogger (3)
Ane ga nyangka misi yang awalnya terlihat sederhana malah jadi begini. Walaupun begitu sebenarnya ane lebih menyukai situasi ini, daripada mengerjakan kerjaan-kerjaan yang nggak bermutu. Dari feeling ane sih, kayaknya ane nggak bakal kenapa-kenapa, begitu juga dengan si Mochtar.
Setelah melakukan pemeriksaan singkat, ane lalu digiring sama pasukan muka katak untuk masuk ke dalam kendaraan yang sudah disiapkan di luar bangunan. Ane melihat dua kendaraan seperti traktor dengan bak terbuka di belakangnya. Saat itu ane nggak melihat Mochtar, tapi sepertinya dia ada di salah satu kendaraan itu.
Ane naik di kendaraan yang ada di belakang, ditempatkan di bak terbuka bersama tiga mahluk muka katak. Di bagian depan ada dua orang, dimana salah satunya mengendarai kendaraan ini. Sejauh ini ane nggak melihat ada balon udara di langit, mungkin sudah kembali ke markasnya. Kendaraan yang ane naiki tampak mengeluarkan suara deru yang keras. Gerakannya juga tidak terlalu cepat.
Para mahluk muka katak yang berada di bak belakang bersama dengan ane kelihatan tetap menggenggam senjata mereka dan mengawasi gerak-gerik ane. Kendaraan ini sendiri seperti tidak dilengkapi senjata. Dugaan ane, teknologi mereka agak ketinggalan dibandingkan teknologi Bumi, tepatnya dibandingkan dengan teknologi yang dimiliki oleh organisasi. Terbukti dengan sekali tembak balon udara mereka langsung rusak.
Untuk ukuran kendaraan militer, sepertinya gerakan kendaraan ini terlalu pelan. Benar-benar seperti naik traktor. Sepanjang perjalanan ane nggak melihat ada bangunan berdiri di sisi jalan. Hanya ada pohon-pohon berbentuk aneh. Jalanan yang dilalui ini pun kelihatan lurus-lurus saja.
Di tengah perjalanan mahluk muka katak terlihat membuka semacam tas, mereka kemudian mengeluarkan benda berbentuk bulat seperti roti dan mulai menyantapnya. Tidak disangka salah satu dari mereka memberikan juga ke ane benda itu. Sebenarnya ane agak ragu apakah ini bisa dimakan sama ane yang manusia bumi. Tapi karena ane udah lapar, ya ane ambil aja makanan yang ditawarkan.
Bentuk makanan ini bulat, berwarna putih dan tidak berbau. Saat ane gigit agak-agak lengket dan mengeluarkan semacam uap. Di dalam makanan ini kelihatan ada sesuatu yang berwarna hijau terang, entah apa itu. Setelah beberapa gigitan ane mulai terbiasa dengan makanan ini, rasanya agak aneh dan tidak bisa dijelaskan. Tapi sejauh ane makan , kelihatannya nggak ada masalah. Ane pun mengacungkan jempol sambil tersenyum ke para mahluk muka katak. Mereka hanya menganggukkan kepala.
Tepat setelah ane menghabiskan makanan itu, iringan dua kendaraan ini berhenti. Apakah kami sudah tiba? Karena saat itu ane masih belum melihat ada bangunan apapun berdiri di sekitar sana. Tiba-tiba para mahluk katak berdiri di bak terbuka dan menyiagakan senjata mereka. Kelihatan mereka berbisik satu sama lain sambil mengarahkan senjata ke arah luar kendaraan.
Beberapa kali ane merasakan daratan seolah berguncang. Ane lihat para mahluk katak yang ada di kendaran depan juga menyiagakan senjata mereka. Guncangan tetap terjadi. Lalu salah satu mahluk itu menunjuk ke arah samping. Ane bisa melihat ada mahluk besar, seperti burung hantu melompat ke arah kami. Setiap kali kakinya menyentuh daratan, guncangan keras terjadi.
Mahluk itu sangat besar, mungkin sebesar Komodo raksasa, walaupun tampak memiliki sayap tetapi mahluk itu tetap bergerak dengan melompat.
Pasukan muka katak kelihatan panik dan mulai berseru satu sama lain. Mereka sama-sama mengarahkan senjata ke Burung Hantu raksasa. Semakin dekat mahluk raksasa itu semakin jelas kelihatan bentuknya. Ia memiliki mata yang jumlahnya tiga buah, sayap yang masih belum dibentangkan, kakinya seperti kaki burung tapi dilengkapi dengan kuku yang berkilauan seperti pedang.
Pasukan katak masih belum menembakkan senjata mereka, mungkin mereka menunggu jarak yang tepat. Mereka lalu membuka pintu bak belakang dan mulai keluar dari kendaraan, salah satu dari mereka juga menarik tangan ane untuk keluar. Begitu juga mahluk yang berada di bagian depan mulai turun. Tindakan yang sama juga dilakukan pasukan katak yang berada di kendaraan lainnya, mereka turun dari kendaraan. Saat itu ane cukup lega melihat Mochtar sudah sadar dan berdiri diantara pasukan katak yang bersembunyi di balik kendaraan.
Sepertinya pasukan katak menggunakan kendaraan mereka sebagai semacam barikade. Ane pun ikut bersembunyi di balik kendaraan yang sebelumnya kami gunakan. Lalu ane bisa melihat beberapa bola bercahaya turun dari atas langit lalu menghujam daratan. Blarr! kendaraan yang berada di depan tampak terkena salah satu bola cahaya dan mulai terbakar.
Tanpa dikomando, seluruh pasukan muka katak berlarian ke arah pohon-pohon di tepi jalan yang berlawanan dengan Burung Hantu raksasa, mereka meninggalkan kendaraan mereka begitu saja. Ane pun mengikuti tindakan mereka, tapi ane memisahkan diri dengan rombongan ane dan masuk ke dalam rombongan Mochtar. Sepertinya pasukan katak sudah tidak peduli dengan keberadaan ane dan Mochtar.
“gila nih” seru Mochtar waktu ketemu ane
“kayaknya monster ini sangat kuat, para muka katak ini kabur tanpa perlawanan” ane menanggapi.
Di sekitar kami, walaupun bersenjata, kelihatan tidak ada satupun diantara mereka yang berani menyerang raksasa itu. Mereka kelihatan pasrah saat lagi-lagi bola-bola cahaya menghujam daratan dan menghancurkan kendaraan yang tersisa.
PART XVII : Frogger (4)
Ane masih berpikir keras bagaimana agar bisa keluar dari situasi ini. Suara ledakan dari bola bercahaya yang berjatuhan masih terdengar jelas. Mahluk itu kini sudah berdiri di jalan tempat kendaraan yang tadi kami tumpangi berada. Matanya terlihat mengawasi daerah tempat kami bersembunyi. Komandan muka katak yang berdiri di dekat ane kelihatan terus mengawasi gerak-gerik mahluk raksasa itu.
Suasana senyap kembali pecah , pasukan muka katak berteriak-teriak sambil menembakkan senjata mereka. Ane bisa melihat salah seorang dari mereka terangkat ke atas seolah ditarik oleh sesuatu. Setelah lebih jelas diperhatikan tampak mata Burung Hantu raksasa mengeluarkan semacam sinar yang menarik tubuh salah satu muka katak hingga terbang melayang.
Tembakkan yang mengenai tubuh mahluk itu tampak tidak memberi pengaruh apa-apa, sementara si muka katak yang melayang di udara tampak terus menjerit-jerit. Beberapa saat kemudian paruh Burung Hantu raksasa menyambar tubuh mahluk malang itu. Komandan pasukan kelihatan terkejut tapi dia terus menembak meskipun usahanya seperti sia-sia.
Kembali Burung Hantu raksasa menatap kami yang bersembunyi di balik pohon. Sepertinya dia akan mengangkat salah satu dari kami lagi untuk dijadikan santapan. Dan memang benar seperti dugaan ane, kali ini dua orang pasukan katak mendadak melayang ke udara, melebihi tinggi pohon-pohon di sekeliling kami. Tidak butuh waktu lama untuk menyaksikan mereka disantap oleh si mahluk raksasa.
Pasukan muka katak yang tersisa tampak melarikan diri jauh ke dalam hutan, tersisa hanya ane, Mochtar dan si komandan pasukan. Mochtar kelihatan ingin mengikuti jejak pasukan katak yang melarikan diri, tapi kelihatan si komandan mencegah langkahnya sambil melambaikan tangan.
Dan memang benar kami kemudian mendengar suara jeritan dari dalam hutan. Sepertinya melarikan diri kesana juga bukanlah pilihan yang tepat. Ada bahaya lain yang menanti disana.
Sementara menunggu pun, menurut ane, pada akhirnya akan jadi santapan si Burung Hantu raksasa. Tangan komandan muka katak kemudian membentuk semacam pistol, dia kemudian menunjuk ke ane, lalu ke kendaraan yang terbakar. Ane nggak paham apa maksudnya. Ketika dia mengulangi gerakkan ini untuk kedua kalinya, baru ane paham.
Masteray! Maksudnya masteray ada di dalam mobil. Ya senjata ini sebelumnya terbukti efektif mengusir Komodo raksasa. Komandan menunjuk pada mobil yang letaknya di belakang. Ane lalu mengangguk.
“tar, masteray ada di mobil yang belakang” kata ane
“mau lo ambil? bahaya” Mochtar memperingatkan
“sama aja, diem disini malah nanti kita jadi makanan burung” kata ane
Komandan pasukan mulai menembakkan senjatanya lagi sambil sesekali menunjuk ke mobil tempat masteray berada. Sepertinya dia ingin mengalihkan perhatian mahluk itu supaya ane bisa mengambil masteray. Tanpa menunggu lama ane berlari ke arah mobil. Langkah ane sempat terhenti mendengar jeritan komandan muka katak, tubuhnya mulai terangkat ke atas.
“Tar,bantuin dia!” seru ane ke Mochtar sambil berusaha membuka pintu depan mobil. Pintu ini agak sulit dibuka mungkin karena efek terhantam bola cahaya tadi. Ane berusaha menarik pintu itu sekuat tenaga tapi belum berhasil.
Mochtar terdengar berteriak-teriak memaki monster itu. Ane hantam dengan badan pintu mobil yang masih macet. Krak! Pintu mulai bisa digeser walau masih berat, setelah akhirnya berhasil dibuka, ane mulai mencari dimana masteray berada sambil berharap si komandan katak belum bernasib sama seperti pasukannya.
Blam!! Suara ledakkan granat terdengar disusul suara benda jatuh menghantam daratan. Ane bisa lihat tubuh si komandan terkapar di sisi jalan. “Kena!” sahut Mochtar
Sepertinya dia melemparkan granat yang dia temukan di hutan. Mungkin terjatuh dari tubuh salah satu pasukan katak yang tadi terangkat ke atas.
Sial…! ane masih belum menemukan masteray.
“woi buruan! gw udah terbang nih!”
Kali ini ane lihat Mochtar yang terangkat ke langit.
Ane akhirnya bisa menemukan benda itu di bawah kursi depan. Dengan perasaan lega ane mengarahkan masteray ke si Burung Hantu raksasa
“tembak ! tembak!” seru Mochtar ketakutan
Ane menekan tombol masteray, tetapi tidak terjadi apa-apa. Ane berusaha berkali-kali tapi tidak ada tembakan yang keluar.
“woi gila! tembak!” Mochtar masih berteriak-teriak
“Rusak!” seru ane
Ane masih mencoba beberapa kali, tetap tidak berhasil.
Di sisi jalan , terlihat komandan katak juga menyaksikan usaha ane, tapi sepertinya dia nggak bisa banyak membantu. Dia kelihatan mencoba untuk berdiri tetapi terjatuh lagi.
Rasa takut mulai menjalar karena ane lihat paruh Burung Hantu raksasa sudah mendekati tubuh Mochtar.
Blam!! suara granat terdengar lagi. Sepertinya kali ini dilemparkan oleh si komandan muka katak. Tubuh Mochtar pun jatuh menghempas jalan.
Ane bisa mendengar dia mengerang kesakitan.
Komandan muka katak kelihatan hanya bisa menggerakkan tangannya saja. Dia mengisyaratkan supaya ane melarikan diri. Tidak jauh dari ane , Mochtar terbaring di jalan. Selain suara erangan tidak ada kata-kata yang keluar. Tinggal ane yang masih bisa berdiri. Dan saat itu ane juga sadar si Burung Hantu raksasa menyorotkan matanya ke arah ane.
PART XVIII : In The Air
Tidak dibutuhkan waktu lama untuk menduga-duga, monster Burung Hantu sudah menatap ke arah ane yang masih berdiri di dekat mobil. Ga lama kemudian, Ane mulai merasakan badan ane agak melayang ke atas. Dengan cepat ane berpegangan pada pintu mobil yang sudah rusak. Usaha ane sepertinya enggak terlalu efektif, karena tetap kaki ane melayang seolah-olah ditarik ke atas.
Sekarang semua tinggal bergantung sama kekuatan tangan ane yang berpegangan sama pintu mobil. Cukup lama ane bisa bertahan, sampai kemudian terdengar ledakan keras menghantam mobil, secara reflek tangan ane terlepas dari pintu mobil. Rupanya Burung Hantu menggunakan bola bercahaya untuk mengguncang mobil. Untung nggak kena ane, atau memang sengaja nggak dikenain ke ane, supaya dia bisa menyantap ane hidup-hidup.
Dalam waktu beberapa detik saja, badan ane sudah melayang sejajar dengan kepala si Burung Hantu raksasa. Ane bisa melihat tatapannya yang menyeramkan. Saat itu terbayang juga para pasukan katak yang sebelumnya sudah disantap mahluk ini. Di bawah sana, Mochtar kelihatan cuma bisa memandang ane dari tempat dia terkapar. Sementara si komandan muka katak kelihatan berusaha menggerakkan tubuhnya.
Masteray masih di tangan ane, tetapi beberapa kali ane coba tembakkan tetap nggak berfungsi.
“sial…!”
Mata Burung Hantu raksasa menatap ke arah ane dengan tajam. Dia sepertinya sudah siap untuk memangsa ane. Ane bisa melihat dengan cepat kepalanya mendekat lalu paruhnya terbuka memperlihatkan isi di dalam mulutnya. Masih terlihat sisa tubuh pasukan katak yang sebelumnya ia santap. Ane benar-benar nggak mau bernasib seperti itu.
“Brengsek!” Ane terus mencoba menembakkan masteray. Senjata ini seharusnya cukup tahan banting dalam kondisi apapun.
ZAP!! suara tembakkan terdengar dari masteray disusul suara pekikan kencang dari Burung Hantu raksasa
Tidak sampai sedetik, tubuh ane terjatuh di jalan, disusul suara dentuman keras yang membuat jalan bergetar. Beruntung! Di saat mencekam tadi masteray berhasil ditembakkan tepat ke dalam mulut Burung Hantu raksasa. Tembakkannya bahkan menembus belakang kepala monster itu. Perlahan ane bisa melihat tubuh Burung Hantu raksasa terbaring di jalan. Rasa sakit di badan ane menghalangi ane untuk berdiri, mungkin ada beberapa tulang yang patah atau retak, meskipun ane ga berharap hal ini terjadi.
Mochtar dan komandan katak juga sepertinya tidak bisa melakukan banyak pergerakan. Ane bisa mendengar si komandan katak mengucapkan beberapa kalimat, tapi ane nggak ngerti apa maksudnya.
“Kita selamat!” ane bisa mendengar suara Mochtar
Ya, memang kami selamat, tetapi dengan kondisi seperti ini kami masih butuh banyak keberuntungan untuk bisa kembali ke tempat asal kami. Mencoba duduk aja rasanya sulit, ane pun nggak mau memaksakan diri, ane terbaring sambil menatap langit yang berwarna kehijauan.
Entah berapa lama ane terbaring di jalan itu, sayup-sayup terdengar suara baling-baling dari balon udara. Tampak di langit ada lima balon udara. Seperti yang terjadi sebelumnya terdengar juga suara bersahut-sahutan di atas sana. Ane berharap mereka mau menolong kami dan semoga si komandan katak berbicara hal yang baik mengenai ane dan Mochtar.
Ane nggak bisa melihat situasi dengan jelas karena posisi ane yang masih terbaring. Tapi beberapa saat kemudian ane bisa melihat beberapa orang mengelilingi ane, orang-orang dengan wajah seperti orang India. Mereka menunjuk-nunjuk ane sambil bicara dalam bahasa yang juga tidak ane pahami. Bahasa mereka sepertinya berbeda dengan bahasa manusia muka katak. Dua orang lalu mencoba untuk memapah ane agar bisa berdiri, lalu satu orang mengajukan pertanyaan-pertanyaan ke ane.
Saat itu karena tidak mengerti , ane cuma bisa menggeleng. Tidak jauh dari ane, Mochtar juga kelihatan sedang ditanya-tanyai oleh orang-orang berwajah India yang berada di dekatanya. Ane bisa lihat satu orang berjalan menuju ke arah komandan katak yang terbaring di jalan. Dia lalu berteriak sambil mengeluarkan pistol yang diarahkan ke si komandan.
“Jangan ditembak!” ane berteriak, tapi sepertinya mereka nggak mengerti kata-kata ane. Letusan pistol pun terdengar. Ane mencoba berontak tapi malah membuat badan ane semakin sakit. Orang berwajah India yang ada di sebelah ane membentak ane seperti menyuruh ane untuk diam.
Dari kejadian ini sepertinya para mahluk muka katak dan orang-orang berwajah India tidak mempunyai hubungan yang baik. Barangkali mereka sedang bertempur satu sama lain. Dengan pasrah ane mengikuti saja ketika dipapah menuju salah satu balon udara. Mereka membawa Mochtar juga dan ditempatkan di balon udara yang sama dengan ane. Kotak tempat penumpang tampak disangga beberapa besi agar bisa berdiri stabil di jalan.
Seseorang kemudian menyalakan semacam pemicu gas , dan balon udara mulai melayang. Saat mencapai ketinggian tertentu, besi penyangga tampak secara otomatis terlipat ke atas dan baling-baling mulai berputar.
Di dalam kotak penumpang, selain bersama Mochtar ada empat orang berwajah India yang bersama dengan ane.
Ane cuma berharap untuk bisa bertemu dengan mahluk atau apapun yang bisa berkomunikasi dengan bahasa Bumi. Tidak terasa langit mulai terlihat gelap, ane tidak tahu pasti sudah seberapa jauh balon udara bergerak dari tempat ane dinaikkan ke benda ini. Dua orang berwajah India tampak tertidur, sementara dua orang rekannya tetap mengamati ane dan Mochtar.
Suara baling-baling terdengar semakin pelan. Ane bisa merasakan balon udara bergerak turun. Tidak lama kemudian guncangan kecil terjadi tanda kami sudah mencapai daratan.
PART XIX : Map of the World
Setelah kami turun ke daratan, kami diarahkan menuju ke sebuah lubang yang ada di atas tanah. Saat itu ane bisa melihat di atas tanah terdapat beberapa lubang yang sisinya dilapisi logam. Tampak terdapat tangga menuju ke bawah pada lubang dimana ane dan Mochtar diarahkan untuk bergerak kesana. Dengan hati-hati ane menuruni tangga yang tersedia.
Ternyata lubang ini cukup dalam, kira-kira 4 sampai 5 meter ane harus menuruni tangga yang tersedia sebelum menyentuh lantai. Saat kaki ane berhasil mencapai lantai, ane melihat situasi di sekeliling ane seperti berada di dalam ruang bawah tanah yang luas, yang diterangi dengan lampu-lampu putih di beberapa sudut ruangan. Beberapa orang berwajah India tampak memandang ane dan Mochtar dengan heran. Mereka juga mengeluarkan komentar yang ane nggak paham.
Beberapa diantara mereka kelihatan memegang senjata. Belum sempat ane mengamati seluruh ruangan, ane lalu digiring menuju salah satu sisi tembok ruangan. Disana salah satu orang yang mengikuti kami menekan tombol yang berada di dinding. Terdengar suara dengungan dimana lalu dinding di depan kami bergeser pelan, memperlihatkan sebuah ruangan di dalamnya. Ane dan Mochtar pun diminta masuk mengikuti orang yang tadi menekan tombol di dinding.
Di ruangan ini terdapat beberapa meja dan kursi. Juga tergantung bendera berwarna kuning merah. Ane juga bisa melihat ada benda semacam bola dunia di salah satu meja. Dari meja-meja yang ada, hanya satu meja yang ditempati. Seorang berwajah India dengan seragam militer tampak menempati meja tersebut. Dia lalu terlihat bicara panjang lebar dengan orang-orang yang menjaga kami. Mereka kedengaran berdebat keras. Entah apa yang sedang dibicarakan.
Beberapa orang kemudian keluar ruangan, meninggalkan dua orang bersenjata dan orang yang berseragam militer. Sepertinya dia semacam pejabat di tempat ini. Dia lalu tersenyum dan membuka telapak tangannya ke arah ane dan Mochtar, tapi kami nggak tahu harus bertindak apa, ane cuma membalas senyumannya aja. Kemudian orang ini mempersilahkan kami duduk dengan menunjuk kursi di depan mejanya.
Ane dan Mochtar pun lalu duduk. Tidak berapa lama kemudian dia menekan tombol di balik mejanya, lalu meja tersebut terbuka, memperlihatkan beberapa benda seperti roti dan botol-botol berisi cairan. Ia menunjuk benda-benda tersebut seperti mempersilahkan kami mengambilnya. Mochtar kelihatan terlebih dahulu mengambil benda yang mirip roti dan botol berisi cairan bening. Ane pun melakukan hal yang sama. Mungkin cairan bening di dalam botol itu air pikir ane.
Meja itu kemudian tertutup lagi. Kemudian dia berdiri dan minta kami mengikuti dia ke salah satu sudut ruangan, disana ada sebuah pintu, lalu dia membuka pintu itu dan memperlihatkan isi di dalam ruangan tersebut. Hahahah….rupanya ruangan ini semacam toilet. Dia lalu menggerakkan tangan seolah mempersilahkan bila kami ingin menggunakannya. Lalu ane dan Mochtar pun bergantian menggunakan fasilitas ini.
Seluruh air yang ada di toilet ini berwarna biru kehijauan. Saat mengenai kulit rasanya agak sedikit kental, tidak seperti air di Bumi. Tapi sejauh ane menggunakannya kelihatan nggak ada masalah terhadap kulit atau tubuh ane.
Selesai berurusan dengan toilet, kami lalu duduk kembali di depan meja si pejabat militer ini. Dia mencoba mengucapkan beberapa kata, tapi ane dan Mochtar tetap nggak mengerti. Mochtar kemudian terlihat mengeluarkan tanda pengenalnya. Si pejabat militer lalu mengamati dengan hati-hati benda tersebut. Terutama ketika melihat peta yang ada disana. Ane pun berinisiatif mengeluarkan KTP ane, barangkali aja ini bisa jadi informasi yang berharga untuk menunjukkan dimana kami berada.
Saat melihat KTP ane dan Peta Indonesia yang ada disana, si pejabat kelihatan semakin heran. Dia lalu memanggil dua penjaga yang daritadi hanya berdiri mengamati untuk mendekat ke arahnya. Mereka berdua pun melihat benda-benda ini dan saling bertanya-tanya. Si pejabat militer lalu menunjuk ke deretan huruf yang ada seolah menanyakan bunyi kata-kata yang ada.
“Indonesia” ane memberitahu bacaan yang tertera
“In…do..?” tanyanya, kelihatan ia kesulitan untuk mengucapkan Indonesia
“In do ne sia” ane berusaha mengulangi dengan lebih pelan
Kali ini kelihatan dia ragu untuk mengulanginya, mungkin dia takut salah ucap. Dia lalu membawa KTP ane untuk kemudian berjalan ke arah bola dunia yang terletak di salah satu meja. Kelihatan ia berusaha menemukan letak Indonesia pada benda itu. Dengan hati-hati ia memutar bola dunia sambil terus mengamati.
Lagi-lagi ia berseru, kali ini ia memanggil salah satu penjaga. Ia tampak meminta si penjaga ikut mencari letak pulau-pulau yang dimaksud.
“nid fan hyn”
“nid fan hyn”*
ane mendengar mereka berulangkali mengatakan kalimat itu. Saat itu ane nggak ngerti maksudnya, tapi karena mereka beberapa kali mengatakan sambil menggelengkan kepala, mungkin maksudnya “nggak ketemu” atau “nggak ada”
Untuk menyederhanakan permasalahan, lalu si pejabat militer dan salah satu penjaga menggotong bola dunia itu ke mejanya dan meletakkannya di hadapan kami. Si pejabat lalu menunjuk ke peta yang ada di KTP ane dan mengetuk-ngetuk bola dunia itu. Mungkin maksudnya supaya ane menunjukkan dimana letak Indonesia.
————————————————-
“nid fan hyn” = tidak ada disini
(setelah ane berhasil balik ke dunia ane, ane cek ini seperti bahasa Wales/Welsh)
PART XX : Big Land
Dengan hati-hati ane memperhatikan bola dunia di depan ane.
“beda ya” kata Mochtar
Hanya terdapat satu pulau besar seperti benua yang memenuhi permukaan bola dunia. Terdapat juga bentuk seperti lautan di bagian utara dan selatan (kalau di bola dunia versi Bumi, letak lautan ini kira-kira berada di kutub Utara dan Selatan). Selain benua yang besar ini tidak ada pulau-pulau lain. Simbol-simbol dan tulisan tampak memenuhi benda ini, ada gambar-gambar berbentuk binatang seperti kadang, burung, ular dan lain-lain.
Mungkin karena ane terlalu lama melihat bola dunia ini, si pejabat kemudian berbicara seperti sedang menegur ane. Beberapa kali ane menggelengkan kepala menandakan ane nggak menemukan Indonesia, bahkan negara lain yang mirip seperti pada peta di Bumi pun tidak ada. Mochtar yang berada di sebelah ane juga kelihatan penasaran.
Si pejabat militer kemudian berbicara dengan dua orang penjaga, seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Para penjaga kelihatan kaget dan keberatan dengan kata-kata si pejabat. Kemudian si pejabat militer tampak mengambil benda mirip telepon lalu mulai berbicara dengan suara keras. Sementara dua orang lainnya kelihatan bersungut-sungut.
Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka , ane bisa melihat beberapa orang dengan seragam militer hampir mirip dengan yang dipakai orang yang daritadi menanyai kami. Hanya saja orang-orang yang baru hadir ini kelihatan lebih tua wajahnya. Mereka menatap kami dengan serius dan saling berbisik satu sama lain. Dua orang penjaga kemudian diminta mengantarkan kami ke suatu tempat.
Dugaan ane, mereka mungkin sedang ingin membicarakan sesuatu yang tidak ingin kami dengar atau kami ketahui. Penjaga pun dengan sigap mengarahkan kami ke salah satu sudut ruangan dimana di dindingnya terdapat beberapa tombol. Salah satu dari mereka lalu menekan tombol yang terpasang disana. Dinding di depan kami terlihiat bergeser ke samping kanan dan kiri, memperlihatkan sebuah lorong yang panjang.
Ane dan Mochtar bersama dengan dua orang penjaga berjalan menyusuri lorong. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah ruangan yang cukup besar. Di ruangan ini terdapat beberapa gambar terpasang di dindingnya. Dan yang paling mencolok adalah adanya patung berbentuk pohon yang cukup besar terletak di tengah ruangan. Para penjaga lalu mengambil posisi di dekat pintu dan membiarkan kami berkeliling ruangan.
Disana ane bisa melihat ada peta yang tergantung di dinding, mungkin ini versi dua dimensi dari bola dunia yang tadi. Sama seperti pada bola dunia hanya ada daratan yang luas dengan lautan di sisi selatan dan utara.
“dunia apa nih?” tanya Mochtar
“nggak tau juga, yang jelas saat ini kita aman” jawab ane
“monster” kata Mochtar sambil menunjuk pada gambar lain yang terpasang disana.
Ya, ane bisa lihat gambar yang mirip foto menunjukkan mahluk raksasa berbentuk aneh. Mirip belalang tapi tidak mempunyai sayap. Di sebelah gambar ini juga terdapat gambar-gambar monster yang lain, termasuk burung hantu raksasa dan komodo raksasa.
“masteray masih ada” ane baru sadar setelah memasukkan tangan ane ke dalam saku celana. Mungkin karena terburu-buru melihat burung hantu raksasa, orang-orang berwajah India ini tidak sempat menggeledah kami.
“satu lagi udah ilang?” tanya Mochtar
“iya mungkin waktu sama pasukan katak tadi, entah dimana” kata ane sambil mengingat waktu bersama dengan pasukan katak. Ane lumayan menyesali karena nggak bisa mencegah terbunuhnya si komandan pasukan. Karena sebenarnya dia cukup baik dalam memperlakukan kami.
Selain masteray, peralatan lain yang kami bawa sudah tidak ada. Karena ketika bersama dengan pasukan katak, peralatan tersebut kami tinggal di kendaraan yang kemudian dirusak oleh burung hantu raksasa. Tapi ane masih berharap untuk bisa ditemukan atau mencari jalan keluar untuk kembali ke tempat asal kami, yaitu di Bumi.
Bagaimana prosesnya sehingga kami bisa sampai disini juga menurut ane masih agak nggak jelas. Kalau dari pemikiran ane, mungkin karena orang yang kami kejar itu membuka semacam gerbang untuk melintas ke planet atau lokasi lain dengan kecepatan tinggi. Memang ane sempat mendengar informasi mengenai gerbang atau tunnel untuk berpindah tempat. Karena di era supermodern menggunakan kendaraan untuk bergerak ke planet atau galaksi lain akan memakan waktu yang sangat (sangat) lama.
Kira-kira setelah setengah jam berada di ruangan ini, para penjaga kembali memanggil kami untuk mengikuti mereka. Berjalan melalui lorong yang sama, kami tiba di ruangan si pejabat militer yang tadi. Memasuki ruangan tersebut kami disambut tatapan dingin dari beberapa orang disana. Sepertinya mereka juga tidak bisa menahan diri untuk tidak penasaran. Lagi-lagi mereka mulai berbicara satu sama lain.
Seorang yang kelihatannya lebih tua dari yang lain mulai berbicara dengan nada tinggi dan menunjuk-nunjuk wajah si pejabat yang tadi menanyai kami. Si pejabat yang diperlakukan demikian tampak tidak terima dan balik berkata-kata dengan suara keras. Tidak perlu menunggu lama untuk melihat beberapa diantara mereka ikut berdebat keras. Dua orang yang menjaga kami hanya menatap kami dengan wajah heran. Mungkin mereka bingung harus melakukan apa.
PART XXI : Pictorial Sign
Perdebatan antara manusia berwajah India ini berlangsung cukup lama, sampai salah satu diantara mereka mengisyaratkan untuk tenang dan memperhatikan kami. Kembali beberapa pasang mata tampak menatap ke arah kami. Seorang pejabat berbaju biru dengan berbagai emblem militer bertanya kepada ane dan Mochtar. Tapi kami berdua nggak bisa menjawabnya, meskipun ane mencoba untuk memahami pertanyaan yang diajukan.
Dengung percakapan kembali terjadi setelah mereka melihat reaksi ane dan Mochtar. Timbul ide dalam pikiran ane untuk mempermudah komunikasi kami dengan orang-orang ini. Ane lalu memberi isyarat dengan tangan untuk meminta kertas dan alat tulis. Pejabat yang pertama kali bertemu dengan kami lalu menekan tombol di mejanya, lalu sebuah layar turun dari salah satu dinding di ruangan tersebut. Ia kemudian mengeluarkan benda sebesar spidol dan memberikannya ke ane.
“kita gambar aja cerita gimana kita sampai kesini” kata ane ke Mochtar
“wah ide bagus tuh” dia menanggapi.
Lalu ane berjalan menuju ke layar tersebut dan membuka tutup benda yang menyerupai spidol. Benda itu mengeluarkan cahaya di ujungnya. Ketika ane mencoba mencoret di layar, tampak keluar semacam sinar laser membuat coretan sesuai dengan gerak tangan ane. Seperti menulis dengan cahaya laser. Mochtar tampak kagum melihat benda yang ane pegang. Melihat reaksi Mochtar, si pejabat memberikan satu benda yang sama kepada Mochtar dan mempersilahkan dia untuk mencobanya.
Suasana di ruangan menjadi cair ketika melihat kami mencoba mencoretkan gambar di layar. Mereka sepertinya merasa dihargai karena kami tampak kagum dengan benda-benda yang mereka miliki. Bisa jadi mereka berpikir bahwa teknologi kami masih di bawah teknologi mereka, sehingga kami tidak menjadi ancaman bagi mereka.
Ane pun mulai menggambarkan cerita awal mengapa sampai ane bisa ada disini. Mulai dari usaha penyergapan yang dilakukan oleh Mochtar dan ane, sampai bertemu pasukan katak, Komodo Raksasa, balon udara, Burung Hantu Raksasa, dan akhirnya bertemu dengan mereka. Ane perhatikan ketika ane menggambar adegan menembak komodo raksasa maupun burung hantu raksasa, mereka kelihatan mengeluarkan beberapa komentar. Selesai ane menjelaskan, tampak seorang pejabat yang paling tua berjalan maju ke arah kami.
Ia kemudian meminta alat tulis dari ane dan menggambar sebuah pistol (masteray), ia seperti bertanya ada dimana benda ini.
“wah dia nanya soal masteray” kata ane ke Mochtar
“kasih aja, udah rusak juga kan” kata Mochtar sambil melirik ke saku ane.
“kalau teknologinya diambil mereka kan bahaya” ane menjelaskan
Si pejabat tua ini kemudian menunjuk adegan tertembaknya Komodo Raksasa dan Burung Hantu raksasa , kemudian ia bertepuk tangan. Seolah memberikan pujian kepada kami.
Lalu dengan hati-hati ane mengeluarkan masteray dan menunjukkannya. Saat ane melakukan ini, tampak dua penjaga menyiagakan senapan yang mereka bawa. Mungkin mereka berusaha mengantisipasi kalau-kalau kami melakukan tindakan agresif terhadap orang-orang di ruangan ini. Si pejabat tua kemudian kelihatan ingin melihat masteray yang ada di tangan ane, tapi ane menolak.
Mochtar kemudian menggunakan alat tulisnya dan menggambarkan bahwa senjata itu rusak.
“kasih aja suruh dia cobain” kata Mochtar ke ane
“terakhir masih bisa kok buat nembak monster Burung” ane ragu untuk memberikannya ke si pejabat. Tapi ane pikir andai nggak diberikan toh kalau dia mau mereka bisa memaksa kami untuk memberikannya, karena kami sudah kalah jumlah dan berada di wilayah mereka.
Lalu ane menyerahkan masteray ke tangannya. Dia kelihatan hati-hati memeriksa senjata itu. Dia kemudian mengarahkan senjata ke salah satu sudut ruangan. Beberapa orang tampak berseru mencegah agar dia tidak menembakkannya. Tetapi kelihatan si pejabat tua tidak mempedulikan seruan rekan-rekannya. Beberapa kali dia mencoba menekan senjata itu tetapi tidak mengeluarkan reaksi apa-apa.
Mochtar kemudian menunjuk berkali-kali ke gambar yang ia buat bahwa senjata tersebut rusak. Dia kemudian menggambar lagi , kali ini dia menggambar dirinya ditambah dengan peralatan, maka senjata itu dapat diperbaiki lagi untuk menembak monster. Mochtar memberi isyarat bahwa dia butuh peralatan. Si pejabat tua kemudian menunjuk ke gambar peralatan dan melihat ke Mochtar.
“gw bisa tuh benerin kalo ada alat-alatnya” kata Mochtar ke ane
Ane nggak memberi respon apa-apa, kali ini memang keahlian Mochtar dalam memperbaiki peralatan akan sangat dibutuhkan. Di satu sisi masteray yang sudah berfungsi akan sangat bermanfaat buat kami. Tapi di sisi lain senjata ini juga akan menjadi incaran bagi orang-orang berwajah India ini.
Pejabat pertama yang menemui kami kemudian memotong komunikasi kami, ia kemudian menggambar bentuk ruangan dan memberi isyarat kepada kami untuk beristirahat. Seperti sebelumnya, dua orang penjaga mengantarkan kami keluar dari ruangan ini untuk menuju ke ruangan lainnya. Kami kembali menyusuri beberapa lorong.
Beberapa orang yang berpapasan dengan kami tampak menatap kami dengan penasaran. Sementara dua orang penjaga kelihatan memberi penjelasan mengenai siapa kami kepada orang-orang ini.
PART XXII : Underground
Ruangan itu memiliki ukuran yang cukup luas untuk ditempati oleh kami berdua, di dalamnya terdapat dua buah ranjang seukuran orang dewasa dan disediakan juga kamar mandi di dalamnya. Tidak terdapat banyak perabotan lain di dalam ruangan ini. Tadinya ane pikir kami bakal ditempatkan di ruangan semacam sel penjara. Tetapi ternyata tidak. Meskipun demikian di depan pintu ruangan terdapat sebuah meja dimana ada dua orang bersenjata berjaga-jaga disana.
Mochtar kelihatan antusias selama berada disini, sementara ane lebih merasa cemas. Ane berpikir mengenai perbedaan waktu antara di tempat ini dan di bumi. Jangan sampai andai ane bisa kembali ke Bumi waktu ternyata sudah bergeser dengan lebih cepat.
“menarik juga ternyata disini” kata Mochtar sambil beristirahat
“gw sih pengen cepet balik” ane menanggapi dengan wajah serius
“yah kalo gw hilang juga ga ada yang nyari, hidup gw penuh kegagalan bro” Mochtar menjelaskan. “kalo disini gw bisa bereksplorasi dan memulai kehidupan yang mungkin lebih baik” lanjutnya lagi.
Benar juga, memang setahu ane si Mochtar juga sudah seperti nggak dianggap sama keluarganya. Karena studi yang terhambat dan kerjaan yang nggak jelas. Kalo ane ada di posisi dia juga mungkin ane akan berpikir begitu. Nggak lama kami berbincang-bincang, ane mulai merasa ngantuk dan tertidur, entah berapa jam ane ketiduran.
Getaran keras yang terasa di ruangan membuat ane dan Mochtar terbangun. Dengan segera kami menuju ke pintu untuk berlari keluar. Di luar ruangan, orang yang menjaga kami berusaha mencegah langkah kami, sambil mereka juga terlihat bersusah payah untuk berdiri dengan seimbang. Mereka kelihatan memerintahkan kami untuk kembali ke dalam ruangan, tapi ane bersikeras ingin tahu apa yang terjadi.
Salah satu dari penjaga kemudian mendorong ane dan Mochtar kembali masuk ke dalam ruangan. Getaran keras semakin kami rasakan. Dua penjaga itu ikut masuk ke dalam ruangan kami, kemudian mengeluarkan semacam catatan dan mulai menggambar menggunakan alat tulis yang ia miliki. Ia kemudian menunjukkan gambar yang sudah dibuat. Gambar monster besar. Dia kemudian menggambar lagi menunjukkan posisi kami yang berada di bawah tanah, sementara monster itu ada di permukaan tanah. Guncangan yang semakin keras membuat ane , Mochtar dan para penjaga itu tidak sanggup lagi untuk berdiri dengan baik. Kami memilih untuk tiarap di lantai.
Sebenarnya lubang tempat lorong dan ruangan-ruangan ini berada cukup dalam. Entah seberapa besar monster di permukaan tanah sampai bisa mengguncang tempat ini. Kira-kira limabelas menit kemudian guncangan mulai berhenti.
Ane sepertinya paham mengapa mereka tinggal di dalam lubang-lubang bawah tanah (dan dalam perjalanan dengan manusia katak pun ane nggak menemukan bangunan apa-apa di sisi jalan). Karena di atas permukaan tanah banyak monster berkeliaran. Monster-monster ini berukuran sangat besar dan mengerikan. Ane terbayang bagaimana Burung Hantu Raksasa bisa menyantap pasukan katak.
Karena hal ini juga sepertinya para manusia berwajah India ini tertarik dengan masteray. Mereka pasti akan memanfaatkannya untuk membasmi monster-monster di atas sana. Selain itu dengan senjata ini mereka juga pastinya sanggup mengalahkan bangsa lain yang ada di dunia ini.
Setelah situasi tenang, para penjaga memperingatkan kami untuk tetap berada di dalam ruangan. Mereka kemudian meninggalkan kami dan kembali berjaga di depan. Pemikiran ane mengenai masteray langsung ane utarakan ke Mochtar. Ane berusaha mencegah agar dia tidak memperbaiki masteray.
“memang ini bisa menolong mereka, tapi ini bisa menjadi senjata bagi mereka untuk memusnahkan bangsa lainnya. Lo inget kan gimana mereka membunuh si komandan katak”
“ah….tapi kalo orang-orang ini terus tinggal di bawah tanah ya ga bagus juga. Masak manusia harus kalah sama binatang” Mochtar kelihatan nggak setuju dengan pemikiran ane.
“gw harus membantu mereka”
“jangan, menurut gw mereka bersikap baik karena ingin tahu teknologi kita, lo ga tau kan apa yang akan mereka lakukan setelah bisa memproduksi senjata sendiri” ane tetap berusaha mempengaruhi Mochtar
“ya tapi kan kalau nggak dikasih tau pun mereka akan memaksa” katanya lagi beralasan
“iya tapi ingat tindakan kita bisa sangat mempengaruhi dunia ini, jangan kita jadi pemicu rusaknya tatanan disini” ane kali ini coba mengingatkan salah satu konsep yang ane pelajari di organisasi
Kali ini posisi ane dan Mochtar seperti posisi “alien” yang datang ke Bumi. Kami datang dengan sesuatu yang mungkin bisa mengubah sejarah tempat yang kami datangi. Karena itu kami harus sangat hati-hati dalam bertindak. Saat itu ane benar-benar berharap ada seseorang dari Bumi yang bisa menjemput kami dan melepaskan kami dari situasi ini.
Perasaan ane berkata si Mochtar ingin mendapatkan nama di dunia ini. Mungkin dia pikir di dunia ini dia bisa dapat kesempatan untuk jadi pahlawan. Ya memang benar, dengan memberikan teknologi masteray ke mereka, Mochtar pasti akan dianggap sebagai dewa penyelamat. Suatu hal yang tidak pernah ia rasakan di kehidupannya.
Bukan hak ane buat mencampuri kehidupan dia, tapi ane cuma berpikir kalau sebelumnya komandan katak aja mereka bunuh, apalagi kalau sudah punya masteray, orang-orang berwajah India ini pasti akan menguasai dunia mereka dan membantai bangsa yang lain.
PART XXIII : Switched Sides
Sesuai dengan dugaan ane, tidak lama setelah kejadian “gempa” kami kembali diarahkan oleh para penjaga menuju ke suatu ruangan. Disana tampak ada seorang wanita menggunakan jas lab menyambut kami. Melalui beberapa gambar yang ia buat, tampak ia ingin agar kami memperbaiki masteray, disana juga sudah disediakan makanan serta peralatan yang dibutuhkan.
“cakep juga dia” komentar Moctar terhadap wanita tersebut
“ya bolehlah” ane menyetujui
Si wanita yang merasa dikomentari tampak tersenyum dan beberapa kali menanyakan mengenai masteray. Walaupun tidak paham, Mochtar kelihatan berusaha menjelaskan sebisanya. Dia kemudian mulai bekerja dan sesekali kelihatan bercanda dengan wanita itu. Ane nggak terlalu banyak membantu karena ane nggak terlalu ngerti gimana memperbaiki benda itu.
“betah nih gw disini, mending ga usah balik”
“tar, tetap waspada. setelah mereka dapat apa yang mereka mau, kita bisa disingkirkan”
“udah lah , lo jangan negative thinking, santai aja”
“ya gw sih cuma ngingetin lo aja”
Brengsek! kelihatannya si Mochtar benar-benar terpancing untuk membagikan teknologi masteray ke mereka. Dia nggak berpikir panjang mengenai dampak yang bisa terjadi. Selain kami bertiga, di sudut ruangan, para penjaga terlihat tetap serius mengawasi gerak-gerik kami.
“namanya Liyn” Mochtar memberitahu ane nama wanita itu. Selain memperbaiki masteray, dia kelihatan berusaha mempelajari bahasa orang-orang berwajah India ini. Ane mencoba untuk bersikap ramah walaupun tetap menjaga jarak.
Acara memperbaiki masteray diselingi dengan makan bersama dimana kelihatan si Mochtar makin berakrab-akrab ria. Bukan hanya sama Liyn tapi juga dengan para penjaga yang ikut makan bersama dengan kami. Dengan gambar, para penjaga bercerita bahwa mereka sebenarnya punya rumah di permukaan tanah (mungkin maksudnya di jaman kakek nenek mereka), tapi kemudian rumah-rumah ini dihancurkan oleh mahluk raksasa.
Lewat gambar ane sempat bertanya mengenai manusia katak, reaksi mereka sangat negatif. Gambar manusia katak langsung disilang, dan mereka membuat isyarat yang melambangkan mereka sedang berkonflik dengan para manusia katak.
Setelah selesai makan, Mochtar berusaha keras memperbaiki masteray. Liyn kelihatan beberapa kali mencatat apa yang dilakukan oleh Mochtar. Pastilah dia bukan wanita biasa yang sekedar beramah-tamah. Mungkin dia sebenarnya personil intelijen yang sedang berusaha mencuri teknologi yang kami miliki.
“tar, jangan dibenerin sampai selesai, tahan aja”
“ah elo daritadi, santai aja lah, apa jangan-jangan lo iri sama kemampuan gw?”
“bukan gitu, lo pikir panjang dong”
“andai mereka bisa menguasai dunia ini, ya gapapa lah, kan berarti kita dianggap berjasa juga. Selama ini kan lo udah dapat prestasi bagus, nah sekarang giliran gw nih yang lagi naik daun”
Perdebatan ini nggak mau ane teruskan lagi, karena ga ada gunanya juga. Nggak akan ada gunanya juga kalau saat itu ane malah bertengkar sama si Mochtar. Apalagi posisi ane kurang begitu bagus. Ane cuma berharap masteray itu nggak bisa diperbaiki lagi.
Tapi ane ga yakin juga dengan pemikiran ane, karena setau ane memang si Mochtar sangat ahli dalam memperbaiki barang-barang milik organisasi. Hanya saja nasibnya yang kurang bagus sehingga dia nggak pernah dapat posisi yang tinggi di organisasi. Selain itu kehidupannya di luar organisasi juga berantakan. Selain kuliahnya yang berantakkan, di keluarganya juga dia selalu dibanding-bandingin sama kakak dan adiknya yang udah pada kerja dan punya penghasilan yang bagus.
Selama ane di tempat ini, ane nggak melihat adanya jam atau petunjuk waktu. Atau mungkin mereka punya petunjuk waktu tapi menggunakan alat yang berbeda. Bisa jadi juga karena mereka tinggal di bawah permukaan tanah jadinya nggak perlu petunjuk waktu, atau mungkin karena tidak ada matahari jadinya waktu tidak penting.
Dalam proses perbaikan masteray sempat seorang pejabat masuk ke dalam ruangan. Dia kelihatan sangat mengapresiasi usaha kami. Dia juga mempersilahkan kami untuk makan atau minum kalau dibutuhkan. Selain itu kelihatan dia juga berbicara serius dengan Liyn dan mengamati secara cermat catatan yang sudah dibuat. Kunjungan ini tidak berlangsung begitu lama, setelah itu dia keluar ruangan sambil tetap tersenyum kepada kami.
“Fix!” terdengar suara Mochtar penuh semangat
Lilyn terlihat bertepuk tangan, sementara ane memaksa diri untuk kelihatan senang. Para penjaga pun mendekati kami dan ingin mengamati masteray yang sudah selesai diperbaiki.
Mochtar lalu menggambar sesuatu, menunjukkan bahwa ia ingin mencoba untuk menembakkan masteray. Hal ini membuat wajah para penjaga terlihat tegang. Tetapi Liyn berusaha menenangkan mereka. Ia kemudian mengajak kami semuanya untuk berpindah ke ruangan lain.
Perjalanan kami ke ruangan yang dimaksud Liyn kali ini tidak hanya disertai dua orang penjaga, tetapi muncul sekitar empat sampai lima orang bersenjata turut mengiringi kami. Situasi ini membuat ane semakin waspada dengan apa yang akan terjadi. Mochtar kelihatan senang dan bangga dengan pekerjannya.
“hebat kan gw, ntar lo liat nih barang udah berfungsi lagi” katanya sambil membuat bentuk pistol dengan jari-jarinya.
Ane cuma mengangguk aja, karena tanggapan ane hanya akan membuat terjadinya perbedaan pendapat diantara kami.
“bro, kita bakal jadi pahlawan disini, barangkali nanti kita diangkat jadi pejabat”
PART XXIV : Halo?
Tibalah kami di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan berbagai jenis senjata. Terlihat juga ada beberapa target untuk latihan menembak yang terpasang disana. Sudah menunggu kami beberapa orang dengan seragam militer yang didampingi orang-orang bersenjata. Mereka menyambut kami dengan hangat dan menyalami kami satu persatu.
“yakin lo udah bener?”
“yakin lah”
Dengan dijaga ketat beberapa orang bersenjata, Mochtar kemudian dipersilahkan untuk mengambil posisi di salah satu tempat latihan tembak. Dia kelihatan santai berjalan kesana sambil melambaikan tangan ke Liyn yang dibalas dengan sebuah senyuman dari wanita tersebut.
Saat itu selain Lilyn di sebelah kanan, kiri dan di belakang ane terdapat juga beberapa orang bersenjata. Ketika berada di posisinya, Mochtar kelihatan tidak langsung membidikkan masteray. Dia tampak menuliskan sesuatu di kertas yang kemudian diberikan kepada salah seorang penjaga.
Penjaga itu tertawa dan mengatakan beberapa hal ke seisi ruangan yang disambut dengan tepuk tangan serta suara tawa. Ane nggak tahu apa yang diltuliskan oleh Mochtar. Melihat ekspresi ane, si Mochtar kemudian berseru
“gw minta mereka ngitung satu-dua-tiga, menirukan suara gw, baru akan gw tembakkan senjata ini!”
Banyak gaya ini anak.
“Satu!” kelihatan beberapa orang sulit menirukan kata-kata ini. Mochtar lalu minta mereka mengulanginya lagi.
“Satu!”
“Dua!”
“Tiga!”
Terdengar ledakkan keras yang Cumiakkan telinga. Beberapa orang tampak menutup telinga mereka karena kerasnya suara yang dihasilkan. Asap mengepul dari arah keluarnya tembakkan. Lalu terlihat jelas sebuah target sudah hancur berantakkan, tidak hanya itu, dinding di belakang target pun tampak retak.
Mochtar sepertinya mengatur kekuatan masteray pada tembakkan terkuat. Terdengar dengung orang di sekitar ane saling berkomentar sambil menunjuk ke arah dinding yang retak. Tidak lama kemudian suara tepuk tangan membahana , tepuk tangan yang ditujukkan untuk Mochtar. Para pejabat kelihatan tidak sabar untuk menyalami Mochtar, tidak ketinggalan Lilyn pun berjalan ke arah Mochtar dan memberikan salam.
Mendadak suasana meriah terhenti karena terdengar bunyi dering yang keras. Semacam bunyi alarm. Para penjaga dan orang-orang di ruangan tampak bersiaga. Begitu juga ane dan Mochtar, dengan cepat ane mendatangi Mochtar dan mengambil masteray dari tangannya. Pejabat militer yang ada disana kelihatan memberi perintah pada beberapa penjaga untuk melihat keluar.
Empat orang penjaga lalu tampak bergerak menuju ke arah pintu. Belum sampai mereka kesana tampak asap keluar dari sela-sela pintu. Hal ini membuat kondisi ruangan semakin gaduh. Beberapa orang tampak berusaha menutup hidung dan mulut mereka.
“ada apa nih?” tanya Mochtar
“nggak tau gw”. jawab ane, “mungkin ada serangan”
Asap yang berada di dalam ruangan semakin pekat dan membuat mata ane terasa pedih.
“gas air mata” kata ane sambil sedikit terbatuk-batuk.
Para penjaga yang berada di dekat pintu lalu membuka pintu tersebut, dan terlihat asap tebal memasuki ruangan. Pejabat militer terdengar berteriak marah karena kejadian ini. Dalam situasi ini jarak pandang ane menjadi sangat terbatas, pintu dan dinding di sekeliling ruangan sudah tertutup asap tebal. Ane berharap ini bukan asap beracun yang bisa menyebabkan kematian. Mochtar juga kelihatan bingung dan nggak tahu harus berbuat apa. Sementara beberapa orang yang tidak memegang senjata kelihatan mulai mengambil senjata yang ada di dalam ruangan.
Tidak lama kemudian terdengar suara seperti orang berkelahi, ane juga bisa melihat beberapa penjaga tampak terjatuh ke lantai. Mochtar terdengar berusaha memanggil Lilyn, mungkin dia khawatir dengan kondisi wanita itu.
“tar jangan terpisah” kata ane, tapi percuma saja, Mochtar sudah berjalan entah kemana. Dia berusaha mencari Lilyn.
Ane sendiri tetap menjaga masteray di tangan ane. Penjaga di sekeliling ane sudah nggak kelihatan, entah kemana. Suara perkelahian masih terdengar, ane nggak tahu ini perkelahian antara siapa melawan siapa. Apa jangan-jangan tempat ini diserang mahluk katak, atau mahluk lainnya yang lebih berbahaya. Semoga para manusia berwajah India bisa mengatasi kejadian ini, karena ane sendiri nggak tahu harus berjalan ke arah mana.
Brak! sesosok tubuh manusia berwajah India terjatuh di depan ane, sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Samar-samar ane bisa melihat sosok yang sepertinya pernah ane kenal.
“Halo”
Suara yang tidak bisa ane lupakan sampai sekarang. Suara mahluk yang hampir menghilangkan nyawa ane waktu dulu. Si alien 70an. Bagaimana dia bisa sampai kesini?
“Apa kabar Bung?”
ane mendengarnya memberikan pertanyaan ke ane. Dengan cepat ane membidikkan masteray ke arah suara tersebut. Tapi nggak langsung ane tembakkan, karena ane takut tembakkannya malah mengenai orang lain di dalam ruangan ini. Apalagi dengan setting tembakkan terkuat, pasti sangat mematikan.
Beberapa suara ledakkan terdengar di dalam ruangan, kilatan cahaya terang membutakan mata ane. Mendadak ane tidak bisa melihat dan merasa agak pusing. Ane coba memanggil-manggil Mochtar tetapi tidak ada jawaban, selain suara orang-orang lain yang berseru-seru di sekitar ane.
Benar-benar situasi yang kacau dan menegangkan. Pandangan ane tampak gelap dan tidak jelas. Berkali-kali ane terbatuk-batuk karena asap yang begitu pekat. Mata ane juga mengeluarkan air mata karena rasa pedih yang sangat terasa. Sial! Ane hanya berharap adanya keajaiban untuk keluar dari situasi yang mengerikan ini.
PART XXV : End of Day
Ane merasakan ada tangan yang menarik badan ane ke arahnya
” cepat ikut gue ” ane bisa dengar itu suara Panca
tanpa banyak tanya, ane mengikuti gerakannya. Samar-samar ane bisa melihat si alien 70an lagi menghadapi beberapa orang berwajah india. Dengan tangan kosong ia berhasil melumpuhkan beberapa orang dari mereka. Tetapi Mochtar yang ane cari-cari nggak kelihatan. Panca terus membimbing ane keluar dari ruangan, berlari melintasi beberapa lorong. Ia tidak segan menembakkan senjata kepada orang-orang yang berusaha menghalangi.
” si Mochtar dicari dulu ” kata ane
” ga tau dia dimana ” jawab Panca
Ane terus berlari mengikuti Panca, sampai tiba di sebuah ruangan. Disana sudah berdiri Kak L, ia berada di samping sebuah benda yang mirip cermin raksasa.
” waktu kita tidak banyak, mana yang lain ? ” tanya Kak L
” sebentar lagi menyusul ” jawab Panca
Ada perasaan lega bisa bertemu dengan Kak L dan Panca. Tapi ane masih bertanya-tanya, bagaimana caranya mereka bisa sampai kesini.
Tidak berapa lama kemudian terdengar suara Mochtar , tubuhnya tampak didorong paksa oleh si alien 70an.
” keras kepala ” kata si alien 70an
” baiklah, kalau sudah lengkap, mari kita tinggalkan tempat ini ” kata Kak L, ia kemudian menekan beberapa tombol yang ada di samping cermin raksasa.
” saya ingin menetap disini saja ” Mochtar mengutarakan maksudnya
Sesuai dugaan ane, memang dia kelihatan betah disini. Dia dianggap sebagai pahlawan. Belum lagi dia bisa ketemu Lilyn yang jadi pujaan hatinya. Kalo ane sih terserah dia kalau mau tetap disini, tapi sepertinya Kak L berpikiran lain.
” tidak, kamu harus tetap ikut kami ” kata Kak L dengan tegas
Alien 70an tampak terus mengawasi gerak gerik Mochtar. Dia kelihatan akan segera bertindak kalau-kalau Mochtar melakukan hal-hal yang bisa membahayakan orang-orang di ruangan ini. Dari luar ruangan terdengar langkah-langkah orang berlarian, terkadang juga ada seruan-seruan yang ane nggak mengerti. Sepertinya orang-orang di luar sana sedang mencari kami.
” saya menolak ” Mochtar lalu membalikkan badannya dan berusaha menuju ke pintu ruangan, tetapi alien 70an langsung berusaha meringkus dan mengunci lengannya. Perlawanan Mochtar sia-sia saja, karena alien 70an memang jauh lebih kuat.
“lepasin gua! ” bentak Mochtar, tetapi si alien 70an malah semakin memperkuat kunciannya, membuat Mochtar meringis kesakitan.
” gimana nih ? :” tanya Panca
” dia tetap ikut kita ” jawab Kak L
Mochtar terus berteriak-teriak, dan sepertinya suara teriakkannya berhasil menarik perhatian orang-orang di luar ruangan. Pintu ruangan yang terkunci dari dalam mulai digedor-gedor dengan keras.
“sial” kata Kak L
Panca membidikkan senjatanya ke arah pintu, siap ditembakkan ke siapa saja yang berani masuk ke dalam ruangan. Suara hantaman pada pintu ruangan terdengar semakin keras. Sebentar lagi pintu itu akan terbuka. Dan benar saja, beberapa detik kemudian pintu ruangan terbuka. Beberapa orang berseragam militer tampak menodongkan senjata ke arah kami. Tanpa ragu Panca menembakkan sejatanya dan merobohkan mereka semua.
Cermin raksasa mulai mengeluarkan cahaya, tanda aktivasi sudah berhasil.
“ayo cepat masuk ” perintah Kak L, dia lalu mengeluarkan senjata miliknya.
Mochtar dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki masih berusaha memberontak.
” lo duluan ” kata Panca ke ane
Ane agak ragu buat melangkah, sebenarnya ane mau menyarankan agar si Mochtar dibiarkan aja tinggal disitu.
Setelah beberapa orang berseragam dilumpuhkan sepertinya orang-orang di luar sana terdiam beberapa saat untuk menyusun strategi sebelum mulai menyerang kembali ke dalam ruangan.
” Kak L, si Mochtar dibiarin aja disini kalau maunya begitu ” ane berusaha membantu Mochtar memenuhi keinginannya
” terlalu berbahaya, dia bisa membocorkan teknologi organisasi ” kata Kak L menjelaskan
” kita nggak punya banyak waktu, sebaiknya kita mulai bergerak ” desak Panca. Ia sepertinya tahu kalau tadi tembakkannya ada yang meleset, bisa jadi salah satu dari mereka jadi korban dari senjata yang digunakan oleh orang-orang berwajah India.
” baiklah, lepaskan dia ” kata Kak L kepada alien 70an
Si alien 70an kelihatan ragu. Tapi akhirnya ia melonggarkan kunciannya sehingga Mochtar bisa melepaskan diri.
” sekarang kalian cepat masuk kesana ! ” perintah Kak L
si alien 70an tampak berlari menuju ke benda yang menyerupai cermin raksasa, lalu ia tampak masuk ke dalamnya. Cermin itu tidak pecah, hanya mengeluarkan suara berdesing saat alien 70 “memasuki benda itu “. Tubuh si alien 70an kelihatan menghilang entah kemana. Selanjutnya Panca melakukan hal yang sama, disusul oleh ane. Tepat sebelum ane masuk ke dalam cermin, ane mendengar suara tembakkan , lalu terdengar suara Mochtar berteriak. Entah apa yang terjadi ane nggak sempat menengok ke belakang.
Setelah melewati benda itu, pemandangan yang ada di sekitar ane, seperti memasuki sebuah terowongan dengan berbagai cahaya di sampingnya. Cahaya itu bergerak sangat cepat. Kepala ane terasa agak sakit, nggak lama kemudian ane nggak sadarkan diri.
” welcome back ” terdengar suara Panca saat ane mulai sadar
Ane bisa melihat bahwa ane berada di salah satu bangunan milik organisasi. Ane juga bisa melihat Ririn menatap cemas ke arah ane. Sementara Kak L dan alien 70an tampak berdiri di salah satu sudut ruangan.
” si Mochtar mana ? ” tanya ane ke Panca
” Well…..seorang pengkhianat harus diperlakukan seperti pengkhianat ” kata Kak L memberikan jawaban
Ane nggak berani bertanya lebih lanjut, tapi ane paham apa maksud dari kalimat yang diucapkan oleh Kak L.
PART XXVI : Deal or No Deal
Siang itu ane cuma bisa melamun, memikirkan pengalaman ane di dunia manusia katak dan manusia berwajah India. Walaupun sudah lewat beberapa hari, ane masih sering bermimpi tentang kejadian-kejadian disana. Di salah satu mimpi , ane ketemu sama si Mochtar, disana dia bilang bahwa hidupnya udah lebih baik. Dia juga udah menjalin hubungan dekat sama Lilyn. Tapi itu kan cuma mimpi ane. Enggak tahu yang sebenarnya terjadi seperti apa.
Sebelum meninggalkan tempat dimana ane kembali ke dunia ini, Kak L menjelaskan bahwa mereka berusaha keras untuk mengembalikan kami kesini. Termasuk menggunakan “jasa” si alien 70an untuk ikut serta di dalam misi. Kabarnya si alien 70an sudah lebih koperatif dibandingkan waktu dulu. Usaha organisasi menempatkannya dalam wilayah asimilasi yang terus menerus dipantau tampak membuahkan hasil. Tentunya bantuan yang diberikan si alien 70an nggak gratis. Umumnya para alien ini diberi reward berupa dukungan material maupun beberapa hal yang bisa membantu mereka dalam kehidupan disini. Bagi manusia mungkin hal-hal itu ga berarti, tapi bagi mereka hal yang diberikan dianggap sangat berharga. Yang paling tinggi nilainya adalah kesempatan untuk menempuh pendidikan, tentunya selama mereka menempuh pendidikan, akan ada orang-orang organisasi yang membantu menyembunyikan identitas mereka.
Nasib Mochtar yang sesungguhnya nggak jelas. Ane juga nggak berani menduga-duga. Sesama teman ane di organisasi juga nggak ada yang berani menyinggung tentang Mochtar. Kalo dari pengalaman ane dulu, orang yang dianggap “pengkhianat” pasti disingkirkan. Entah gimana caranya orang itu nggak akan beredar lagi di organisasi. Dan biasanya diberitakan orang tersebut berobat ke luar negeri, mengalami kecelakaan, dan lain-lain.
Lamunan ane berhenti ketika ane teringat bahwa ane ada janji untuk ketemu seseorang. Orang ini menghubungi ane kemarin, dia ingin menawarkan sesuatu yang penting. Pertemuan akan dilakukan di kedai kopi yang ada di daerah sekitar tempat ane kuliah dulu. Ane yakin bahwa pertemuan ini pun akan diawasi oleh orang-orang dari organisasi. Tapi orang yang mengundang ane ini sempat bilang bahwa segalanya akan berjalan dengan baik.
“ apa kabar ? “ sapa orang itu ketika mengenali sosok ane
“ baik “ ane lalu duduk di kursi yang ada di depannya
“ santai aja kita aman “ katanya sambil memberi isyarat dengan jarinya.
Ane bisa lihat ada beberapa orang yang duduk di dekat kami, tampaknya mereka teman-teman orang ini juga. Dan pastinya mereka menyembunyikan senjata mereka di suatu tempat. Orang itu lalu menyodorkan kartu namanya. Ia berasal dari lembaga intelijen X (samaran). Usianya sedikit lebih tua dari ane, dan lebih suka dipanggil Ben. Tidak lama setelah berkenalan, muncul rekannya yang lain , seorang wanita, bergabung untuk duduk bersama dengan kami.
“ Elly “ ia memperkenalkan dirinya
Tanpa diminta, Ben lalu menceritakan mengenai sepak terjang ane di organisasi. Hal ini cukup membuat ane terkejut.
“ kita ada tawaran kerjasama “ kata Ben serius
“ kerjasama apa? “ tanya ane
“ mudah kok. Lagipula kami juga tahu bahwa kamu sudah lama ingin keluar dari kehidupan organisasi “ kata Ben lagi
“ hmm…mungkin “
“ kenal orang ini ? “ Ben menyodorkan selembar dokumen pada ane
“ Febby?”
Ane bisa mengenali dia dari foto yang ada di dokumen itu. Terdapat beberapa penjelasan juga mengenai dirinya.
“ dia sudah bekerjasama dengan kami, sejak lama. Kami melindungi dia dari organisasi “ kali ini Elly yang berbicara.
“ kamu hanya perlu menyerahkan informasi mengenai orang-orang yang terlibat di dalam organisasi, dan kami akan membereskannya “ katanya lagi
“ bagaimana kalau saya menolak ? “
Walaupun ane memang ingin keluar dari organisasi, tapi ane juga nggak mau kalau teman-teman ane disana dicelakai. Terutama si Ririn. Menurut ane organisasi intelijen tempat Ben dan Elly bergabung juga belum tentu lebih baik dari organisasi yang ingin mereka hancurkan. Toh setelah mereka menghancurkan organisasi, maka mereka akan menggantinya dengan organisasi mereka, yang bisa jadi lebih buruk sepak terjangnya.
“ tentu hak kamu untuk menolak, kami juga tidak akan mencelakai kamu. Tapi ingatlah, untuk selamanya kamu akan terikat di organisasi. Ini merupakan kesempatan emas untuk memperoleh kebebasan “.
Kata “kebebasan” yang diucapkan oleh Ben terdengar bagaikan guntur yang memecah langit.
“ mereka bukan orang-orang yang mudah untuk dibereskan “ ane menanggapi kalimat yang tadi diucapkan oleh Elly.
Tentu saja, organisasi dilengkapi dengan persenjataan canggih dan peralatan yang memadai bukan urusan mudah untuk mengatakan akan membereskan mereka. Belum lagi organisasi juga dibantu oleh para alien yang bersedia bekerjasama dengan mereka.
“ kami lebih baik dari mereka , dinas intelijen ini sudah mendunia “
“ ya, saya tahu tentang hal itu”
“ lalu ? “
“ bagaimana kalian akan membereskan mereka ? “
“ itu urusan kami. Yang kamu perlu lakukan hanya memberikan data yang kami butuhkan. “
“ saya menolak “
Bagi ane tawaran kebebasan yang mereka berikan hanyalah tawaran semu belaka. Ane hanya akan berpindah dari satu “kandang” ke “kandang” lainnya. Ane ingin memperoleh kebebasan dengan cara dan perjuangan ane sendiri. Bukan dengan diberikan oleh orang lain. Apalagi kalau ane harus mengkhianati dan mencelakai teman-teman ane sendiri.
Mendengar penolakan ane, tampak beberapa orang yang mengawasi kami mulai bergerak untuk berdiri. Tetapi Ben memberi isyarat kepada mereka untuk kembali ke posisi duduk mereka.
“ baiklah, terserah kamu, tetapi saat perang dimulai, kamu harus menentukan di pihak mana kamu berada. “ Ben menutup pembicaraan. Ia tampak tidak mengekspresikan apapun atas penolakan yang ane lakukan. Begitu juga Elly, ia hanya menarik kembali dokumen mengenai Febby dari atas meja.
PART XXVII : Deal or No Deal (2)
Kesetiaan ane sudah teruji sebelumnya. Sebenarnya ini bukan masalah setia pada organisasi, tapi lebih ke rasa setia kawan. Ane mau aja keluar dari organisasi tapi tanpa perlu menjadikan teman-teman ane sebagai korban. Apalagi organisasi intel ini termasuk licik dan penuh tipu muslihat. Mereka memang memiliki kekuatan yang sangat besar, keterlibatan mereka dalam pergantian penguasa di berbagai negara sudah menjadi rahasia umum.
Ane nggak mau mengulangi kesalahan ane yang dulu. Nggak lama setelah bertemu orang-orang dari organisasi intel, ane langsung menghubungi Kak L untuk bertemu. Awalnya Kak L agak enggan, mungkin dia pikir ane mau membahas mengenai nasib si Mochtar yang entah bagaimana. Tapi setelah ane berbicara mengenai perekrutan, dia bersedia untuk bertemu dengan ane di gedung milik organisasi.
Di ruangan itu sudah ada ane, Panca, Ririn dan Kak L . Sudah lama kami tidak bertemu bersama-sama. Tapi sekarang situasinya sudah berubah, dulu kami adalah anak-anak baru yang mendapat bimbingan dari organisasi. Saat ini peranan kami lebih seperti rekan kerja bagi Kak L. Ia juga tampak lebih serius dalam memperlakukan kami. Meskipun sikap ramah tamahnya tetap ia perlihatkan.
“ jadi mereka sudah menemui kamu ? “ tanya Kak L
“ iya “
“ hmm….organisasi intelijen sebesar itu, mau berurusan dengan organisasi ini…menarik….” Kak L tampak tersenyum. Entah apa maksudnya.
“ saya rasa ini berbahaya Kak L “ Panca terlihat serius.
“ iya , Kak L bisa memahami kondisinya “ Kak L masih terlihat santai
“ jadi apa yang harus kita lakukan ? “ tanya Ririn
“ Pada dasarnya organisasi juga menjalin kerjasama dengan organisasi lainnya, termasuk beberapa organisasi intelijen. Tetapi diantara kami sendiri pun seringkali saling menjatuhkan. Ini masalah kepentingan. Yang jelas mereka selalu ingin berkuasa lebih dari siapapun “ Kak L menerangkan.
“ Kak L sendiri juga sudah mengetahui, bahwa ada beberapa diantara anggota organisasi yang berperan sebagai double agent. Mungkin kita bisa memberi sedikit peringatan dengan menyingkirkan salah satu double agent milik mereka “
Ane yang bisa dibilang baru balik dari dunia yang aneh kembali mendapat tugas dari organisasi. Kali ini bukan untuk menghadapi alien atau mahluk luar angkasa, tapi untuk membantu menyingkirkan anggota organisasi yang berperan sebagai double agent. Untuk kali ini, ane akan mendampingi Panca, rekan ane yang sudah lama ane kenal. Sebenarnya posisi Panca di organisasi sudah lebih tinggi daripada ane, tetapi ia tetap menghargai ane.
Panca dan Ane sudah mendiskusikan rencana untuk menyingkirkan si double agent. Kami yakin rencana ini akan berhasil. Kebetulan ane sangat ingin agar rencana ini berhasil, karena si double agent itu adalah seseorang yang pernah menjebak ane. Siapa lagi kalau bukan Alma. Tentunya bukan hal mudah untuk menjalankan tugas ini. Karena Alma juga dilindungi oleh orang penting di organisasi. Selain itu ia juga selalu bersembunyi seperti tikus. Kalau tidak ada kepentingan dia tidak akan meninggalkan tempat kerjanya – yang mungkin sudah seperti rumah keduanya. Sebuah ruangan yang dipenuhi oleh komputer canggih. Selain itu ruangan tersebut juga sudah dipasangi berbagai sistem keamanan. Kami perlu untuk memancingnya keluar darisana.
Untuk memuluskan rencana ini, kami berusaha membujuk Amy untuk terlibat. Kami tahu bahwa diam-diam Alma mengagumi Amy.
“ Apa untungnya kalo gue ikutan ? “ tanya Amy
“ hmm…ini semua demi kepentingan organisasi. Jasa lo pasti akan kami laporkan juga “ kata Ane.
Sebagai orang lama di organisasi, ane tahu bahwa Amy sangat berdedikasi terhadap organisasi. Bisa dibilang ia adalah pengikut paling fanatik di organisasi. Ia juga terlihat memiliki ambisi untuk dinaikkan posisinya.
“ tapi lo tau kan, Alma itu punya backing yang kuat “ kata Amy dengan serius
“ iya gue tau, tapi ini kan udah atas ijin Kak L “ ane menjelaskan
“ Hahaha….lo percaya begitu aja sama Kak L ? Kak L sama backingnya si Alma kan memang berlawanan. Bisa jadi ini cuma akal-akalan Kak L buat menjegal lawannya itu “
Kata-kata Amy ini ada benarnya juga. Memang sih, di organisasi sendiri terdapat persaingan internal. Seperti dulu pernah dikatakan sama Albert.
“ Menurut gue, Kak L pasti punya perhitungan sendiri. Lagipula ini demi masa depan organisasi. Lo mau jadi korban sasaran intel ? “ Panca berusaha mempengaruhi Amy
“ Ah! Semua yang dibilang Kak L, pasti lo turutin, memangnya lo pikir gue nggak tau hubungan lo sama Kak L “ bukannya terpengaruh, tampak Amy malah menyerang Panca dengan kata-katanya.
“ Jadinya lo mau ikut apa nggak nih ? “ Ane segera memotong pembicaraan sebelum Panca terpancing emosinya.
“ Gue mau ikut tapi dengan satu syarat “
“ Apa? “
“ Gue butuh dokumen X- 676 “
“ enggak mungkin itu ! “
Ane menolak syarat yang diberikan oleh Amy. Dokumen tersebut adalah sesuatu yang sangat penting yang disimpan secara rahasia oleh organisasi. Hanya beberapa orang yang mengetahui keberadaannya, termasuk ane. Karena ane sendiri terkait di dalam dokumen itu.
“ masak lo ga bisa dapetin ? “
“ dapet darimana? “
“ Ririn “
Brengsek! Si Amy sepertinya mau memanfaatkan hubungan ane dan Ririn untuk mendapatkan dokumen itu. Panca yang nggak begitu mengetahui soal dokumen yang dimaksud hanya diam saja, mendengarkan pembicaraan kami. Tapi tentunya ia berharap tugas ini bisa berjalan dengan baik. Apalagi ini tugas yang diberikan langsung oleh Kak L, wanita yang menjadi idolanya.
“ Deal ? “
PART XXVIII : Deal or No Deal (3)
“ nggak mungkin kayaknya dapetin dokumen itu “ kata ane ke Panca setelah Amy pergi.
“ hmm susah juga nih urusannya “ Panca kelihatan berpikir keras.
“ Lo ga mau coba minta ke Ririn ? “ tanyanya
Ane sebenernya memang nggak mau melibatkan Ririn. Kalau ketahuan membocorkan dokumen itu, Ririn bisa kena masalah besar. Mungkin bisa pakai cara lain untuk memancing si Alma.
“ Gimana ? “ Panca kembali mendesak
Ane cuma menggeleng. “ Gue pikirin dulu deh, ada cara lain atau enggak “
Sorenya ane ketemu dengan Ririn. Memang kita udah janji untuk ketemuan. Bukan untuk bicarain masalah Alma, tapi memang ane lagi mau ketemu sama dia. Seperti biasanya, dia selalu enak untuk dilihat dan untuk diajak bicara. Sikapnya selalu pengertian, dan yang pasti dia selalu mendukung ane baik waktu ane lagi memiliki posisi bagus di organisasi maupun di saat ini.
Di pertemuan itu kita lebih banyak bicara mengenai hal-hal yang ringan. Seputar kehidupan sehari-hari, diselingi dengan beberapa cerita lucu. Tetapi akhirnya Ririn mulai menyinggung mengenai tugas yang diberikan oleh Kak L. Mau nggak mau ane cerita mengenai rencana yang ane buat dengan Panca. Termasuk syarat yang diberikan oleh Amy.
“ Wah…..agak sulit ya “ kata Ririn menanggapi cerita ane.
“ Iya, tapi menurut gue pasti ada cara lain “
“ lo mau gue bantu? “
Memang bagi Ririn sangat mudah untuk mendapatkan akses ke berbagai dokumen penting. Dan sesuai dugaan ane, dia pasti akan berusaha membantu ane.
“ Nggak usah Rin, ntar kalo ada apa-apa malah menyulitkan lo “
“ Hahaha….menyulitkan gue ? bukannya sejak bersama dengan lo gue selalu mengalami kesulitan ya “ katanya sambil tersenyum.
Hehehe…bener juga sih. Ane sudah melalui berbagai masa-masa menyulitkan bersama dengan gadis ini. Tapi ane nggak mau memanfaatkan hal ini untuk kepentingan ane sendiri.
“ lagipula kalau memang ada kesulitan, ya gue sekalian cabut aja dari organisasi “ kata Ririn dengan enteng. Ane agak kaget juga dengan kata-katanya. Karena setau ane, dia cukup betah berada di organisasi dan nggak pernah ada masalah apa-apa.
“ gue berpikir sampai sejauh mana sih kita mau bertahan dalam kondisi seperti ini. Organisasi udah nggak aman, banyak intrik. Belum lagi adanya persaingan dengan organisasi lain. Gue mau hidup damai aja kayak orang-orang lainnya “ Ririn mengatakan hal yang sebenarnya juga merupakan pemikiran ane belakangan ini.
“ udahlah, lo ga usah pusing, ntar soal dokumen itu biar gue urus “ Ririn memutuskan. Ane mendiamkan saja, dan mulai membicarakan topik-topik lainnya. Percuma juga sepertinya mencegah tindakannya. Tapi setidaknya ane lega bahwa Ririn akhirnya punya pemikiran yang sama dengan ane. Mudah-mudahan aja ada jalan keluar bagi kami berdua untuk lepas dari organisasi.
Dokumen 676 berisi berbagai operasi penting yang terkait dengan keberadaan mahluk luar angkasa di Bumi, terutama di wilayah Indonesia. Cerita mengenai pertempuran maupun kerjasama yang berlangsung tampak secara detail digambarkan pada dokumen yang terdiri dari ratusan lembar tersebut. Dokumen ini hanya bisa diakses melalui jaringan khusus yang dimiliki oleh organisasi. Pengambilan dokumen akan terekam dengan ketat. Sehingga siapapun yang membocorkannya akan segera ketahuan.
Setelah bertemu dengan Ririn, ane pun berniat balik. Tapi baru beberapa langkah berpisah sama Ririn, ane bertemu dengan beberapa orang yang ane kenal. Raymond, si sutradara dan Gadis, cewek jago beladiri yang berada dalam satu proyek dengan Raymond. Kabarnya waktu ane berada di dunia Katak, syuting project sudah berjalan. Mereka mengambil beberapa gambar yang tidak memerlukan kehadiran ane. Sebenarnya memang kemarin-kemarin ane ada dihubungi sama Gadis, tapi nggak terlalu ane tanggapin.
“ Wah….kebetulan banget nih “ kata Raymond dengan gaya bicaranya yang khas. “ I udah cari you kemana-mana , you sehat kan ? “ tanyanya
“ sehat “ jawab ane singkat
“ ayo kita duduk-duduk dulu, I mau bahas kelanjutan kerjasama kita nih “ kata Raymond. Gadis kelihatan cuma senyum-senyum aja.
“ ya udah boleh deh “ jawab ane. Kebetulan ane juga berniat mundur dari proyek ini. Ane memang mau sengaja mengurangi aktifitas yang berkaitan dengan organisasi. Secara perlahan mau coba untuk berusaha hidup di luar organisasi. Jadinya nanti kalau memang Ririn dan Ane udah keluar dari organisasi, kita udah punya modal kehidupan sendiri.
Kami bertiga lalu masuk ke sebuah restoran cepat saji di sebelah restoran tempat tadi ane dan Ririn ketemu. Ane hanya memesan minuman. Sementara Raymond dan Gadis memesan paket makanan yang tersedia.
“ yang lain ga ada yang bisa diandalin “ Raymond membuka pembicaraan “ ga ada yang natural aktingnya , you kapan bisa mulai gabung lagi ? “ tanya Raymond. Sepertinya dia tahu kalo ane ada tugas dari Kak L, jadinya dia nggak berani secara langsung mendesak ane.
“ itu dia, kayaknya mendingan lo cari orang lain aja deh “ jawab ane
“ hmm memangnya ada masalah apa nih ? “ kali ini Gadis yang bertanya. Ia kelihatan sedikit kecewa dengan jawaban ane. “ ga boleh sama pacar ya ? “ tanyanya lagi.
“ hahaha…bukan begitu, tau sendiri kan, di organisasi banyak operasi yang lagi dilakukan. Gue ga bisa ikut-ikutan main film dulu “ kata ane menjelaskan.
“ itu sih gampang. Kalo I bisa maintain ijin buat you untuk main film “ Raymond kelihatan yakin dengan kata-katanya. “ I kenal banyak petinggi disana “ tambahnya lagi.
PART XXIX : Transaction
Diskusi mengenai film dengan Raymond dan Gadis berjalan lebih lama dari yang ane bayangkan. Ane udah berusaha menolak dengan segala cara, tetapi mereka tetap memaksa. Akhirnya ane gantung aja jawabannya. Karena mau ditolak berapa kalipun mereka pasti akan terus berusaha membujuk ane.
“ jadi gimana nih ? “ tanya Raymond
“ gini aja deh bagusnya, mending lo pastiin dulu ijin untuk gue main film. Kalo udah pasti ya gue sih ikutan aja “ jawab ane.
“ ok deh kalo gitu, u ntar tinggal tunggu kabar “ Raymond kelihatan puas dengan jawaban ane.
Sementara dia bersiap-siap buat cabut, Gadis kelihatan masih mau ngobrol-ngobrol dengan ane. Raymond yang keliatannya mengerti situasi ini, langsung pamitan sama kita berdua .
“ keliatannya si Raymond kesengsem berat tuh sama lo “ kata Gadis bercanda
“ ah gila….gue sih masih normal “ ane menanggapi
“ memang benar sih pendapat lo, kalo mau fokus di film ya di film aja. Karena kalo sambil ngerjain yang lain-lain pasti sulit lah “
“ iya bener tuh, makanya gue nggak mau lah kalo setengah-setengah, entar jadi ganggu “
“ sekarang lo lagi ada kerjaan apa ? “
“ biasa lah, tugas kecil-kecilan “ Ane tentunya harus menjaga kerahasiaan tugas kali ini. Bisa berantakan kalo sampe bocor. Lagian ane juga belum terlalu tau si Gadis ini ada di pihak mana atau dekat dengan siapa aja di organisasi.
“ ya lo jaga diri lah baik-baik, yang gue tau, ada dinas rahasia yang lagi mau membersihkan organisasi “
Hmm…sepertinya isu mengenai dinas rahasia vs organisasi sudah diketahui banyak orang. Berarti sebenarnya keadaan organisasi sedang dalam masa gawat.
————————————
Hanya berselang dua hari, dokumen X-676 sudah berada di tangan ane.
“ dijamin asli “ kata Ririn menyerahkan dokumen tersebut ke tangan ane. Memang yang di tangan ane ini hanya copy-an tetapi ini hasil copy dari dokumen yang asli (menurut Ririn).
“ ok, thanks “ kata ane.
“ goodluck ya “ pesan Ririn ke ane
“ lo juga, jaga diri lo baik-baik “
Saat itu kami menyadari bahwa tindakan memindahkan dokumen ke orang lain tanpa ijin merupakan pelanggaran yang berbahaya. Menurut ane kemungkinan besar bisa ketahuan. Tapi ane percaya bahwa Ririn akan baik-baik aja. Lagipula kalau ada apa-apa Kak L pasti akan mendukung kami.
Tanpa menunggu lama, ane langsung menemui Panca dan Amy
“ mana barangnya ? “ tanya Amy
“ nih “ ane menyodorkan dokumen yang sudah berada di dalam amplop cokelat.
Amy kelihatan ragu waktu menerima dokumen tersebut. Sebenarnya dia sendiri pasti nggak pernah lihat dokumen yang asli seperti apa.
“ gimana ? “ tanya Panca
“ ok, gue percaya aja deh, tapi nanti kalau sampe ketahuan ini ga asli, ya lo pada bakal terima akibatnya “ Amy mengatakan kalimat ini dengan serius.
“ santai aja, ngapain juga gua nipu “ ane berusaha meyakinkan Amy
“ jadi gimana rencananya ? “ tanya Amy
Kami kemudian menjelaskan rencana yang akan dijalankan. Amy akan mencoba untuk ngajak Alma ketemuan di suatu tempat. Dengan alasan ingin membicarakan sesuatu yang bersifat rahasia. Disana nanti ane dan Panca akan memantau terus.
Sesuai kesepakatan, Amy dan Alma bertemu di sebuah bangunan kosong di pinggiran kota. Dan dugaan ane ternyata tepat, mudah untuk Amy ngajak si Alma ketemu di luar tempat kerjanya.
“ ada apa nih? “ tanya Alma ke Amy. Suaranya terdengar jelas dari tempat ane dan Panca mengamati
“ biasa masalah organisasi “ jawab Amy
“ O…ada yang bisa gue bantu ? “
“ ini mengenai dinas rahasia yang mengincar organisasi “
“ Dinas rahasia? Apaan tuh? Gue ga ngerti “ Alma kelihatan pura-pura nggak tahu.
“ O…lu nggak tau, ya udah kalo gitu gue mungkin salah orang “ Amy tampak kesal. Aktingnya meyakinkan. Bentar lagi si Alma pasti akan buka mulut.
“ Hahaha…tenang. Apa sih yang gue ga tahu “ si Alma mulai sok penting
Mereka berdua kemudian mulai berbicara mengenai dinas rahasia yang mengancam organisasi. Si Amy berpura-pura ingin bergabung dan menanyakan siapa-siapa aja orang di organisasi yang terlibat. Alma kelihatan dengan senang hati membocorkan segala sesuatu yang dia ketahui. Dia nggak sadar kalau pembicaraan ini udah direkam dengan kamera pengintai yang ditempatkan oleh ane dan Panca. Kalau rekaman ini ane serahin ke Kak L, si Alma bakal disikat abis sama orang-orang yang masih setia sama organisasi.
Sebelum berpisah, Alma kelihatan menjabat tangan Amy, dan dalam beberapa detik tubuh Amy tampak tersungkur ke lantai. Si Alma kayaknya menggunakan semacam gelombang listrik untuk melumpuhkan Amy. Setelah yakin Amy sudah tidak berdaya, Alma tampak berusaha melucuti pakaian Amy. Brengsek !
“ Eh Anj*ng, jangan macam-macam lo! “ bentak ane . Ane keluar dari tempat ane bersembunyi dan berjalan ke arah Alma. Panca tadinya berusaha menahan ane, tapi ane udah keburu memperlihatkan diri. Alma kelihatan terkejut melihat kemunculan ane. Dia agak takut, karena dia tahu ane udah mengetahui pembicaraan yang dia lakukan tadi.
“ Lo jangan ikut campur “ Alma mencoba menggertak ane. Dia memasukkan tangan ke dalam saku celananya. Ane sadar dia pasti menyembunyikan senjata, mungkin master ray. Sebelum dia bertindak lebih jauh ane dengan cepat bergerak dan menendang perutnya. Tendangan ane yang ane lakukan sekuat tenaga tampak membuatnya terpental dan jatuh ke lantai. Ane memang udah berniat ngehajar ini anak dari dulu-dulu. Belum sempat dia berdiri, ane langsung memukul mukanya, dan kena dengan telak. Dia cuma bisa menjerit kesakitan.
Ane kemudian berusaha mengunci tangannya, tapi saat telapak tangannya menyentuh lengan ane, badan ane langsung terasa lemas. Sial, ane terlalu bernafsu pengen ngabisin dia, ane melupakan senjata yang tadi dia gunakan buat melumpuhkan Amy.
“ gobl*k lo! “ katanya sambil bangkit berdiri. Dia kemudian mengeluarkan masteray dan membidikkannya ke kepala ane.
PART XXX : Old Friend
Beberapa detik kemudian ledakan keras terdengar, tubuh Alma terjatuh ke belakang. Sebuah tembakan dari Panca kelihatannya telak mengenai si brengsek itu. Ane segera berdiri dan memeriksa kondisi Amy, sepertinya dia baik-baik saja. Tapi dia belum sadarkan diri. Di belakang ane, Panca kelihatan mempercepat langkahnya. Dia berjalan ke arah Alma yang terkapar di lantai. Agak panik Panca berusaha memeriksa denyut nadi Alma. Ane sendiri ga tau dengan kekuatan seberapa Panca menembakkan masteray miliknya. Seinget ane, kekuatan penuh bisa membunuh monster yang waktu itu mengancam nyawa ane di dunia manusia katak.
“ masih idup dia “ Panca kelihatan lega
“ bagusnya tadi lu bunuh sekalian “ ane masih kesal. Si Alma ini benar-benar mahluk ga bermoral.
Amy kelihatan mulai sadar. Awalnya dia masih agak kaget. Ane dan Panca berusaha menenangkan dia. Keliatan banget, kalau dia benar-benar emosi. Apalagi saat tahu bahwa si Alma mau berbuat macam-macam ke dirinya.
“ biar gw yang bunuh ! “ Amy merebut masteray yang ada di genggaman Panca
“ jangan! “ ane berusaha mencegah.
Kalo sampe si Alma mati duluan, dia nggak akan bisa dimintai keterangan lagi mengenai orang-orang yang menjadi mata-mata di dalam organisasi. Lagipula andai dia diserahkan ke kak L, pasti dia akan mendapatkan balasan yang setimpal. Ane ngerti sih bahwa Amy merasa udah hampir dilecehkan. Pastinya dia udah benci abis sama Alma.
Di tengah-tengah perdebatan yang terjadi antara ane , Amy dan Panca, tiba-tiba terdengar suara tembakkan. Entah darimana arahnya, tapi ane bisa lihat yang tertembak adalah tubuh Alma. Langsung mengarah ke jantungnya. Seketika itu juga kami bertiga meningkatkan kewaspadaan.
“ hai teman lama “
Ane bisa mengenali suara ini. Begitu juga dengan Panca. Itu suara Febby. Tidak lama kemudian memang kami melihat sosoknya , keluar dari balik salah satu tumpukkan barang yang ada di dalam ruangan. Amy dengan cepat mengarahkan masteraynya. Tapi Febby kelihatan mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa di dekat atap bangunan sudah ada beberapa temannya yang membidikkan senapan ke arah kami bertiga. Memang setelah ane melihat ke atas, terdapat beberapa sosok memakai penutup muka sedang membidikkan senjata mereka ke arah kami. Sepertinya salah satu dari mereka juga yang menembak Alma.
“ well….sekarang pengkhianat sudah tidak ada. Bukankah ini menguntungkan kedua pihak ? “ tanya Febby dengan suara datar.
“ mau apa lu ? “ tanya Amy ketus
“ hmm…itu pertanyaan yang bagus, kalau kalian mau selamat, cepat serahkan dokumen X-676 ke gue “ jawab Febby. Dia kelihatan tenang. “ atau, kalau nggak bersedia, ya terpaksa di ruangan ini akan bertambah tiga mayat lagi “
Ane terkejut dengan permintaan Febby. Kesepakatan mengenai dokumen itu cuma diketahui sama ane, Panca, Ririn dan Amy. Bagaimana si Febby bisa tau? Apakah ada dari kami yang membocorkan mengenai kesepakatan ini ?
Kalau dari ekspresinya, keliatan banget kalau Amy nggak mau menyerahkan dokumen yang sudah ia dapatkan. Perasaan ane mengatakan hal buruk akan segera terjadi. Dan benar saja, Amy kelihatan dengan cepat bergerak ke samping dan menembakkan masteray ke atas. Ane dan Panca juga nggak tinggal diam, kami berusaha bergerak mencari perlindungan, sementara suara rentetan tembakkan terdengar. Mereka kayaknya lebih mengincar Amy. Tetapi sepertinya gadis itu berhasil menempati posisi yang lebih aman. Bagaimanapun juga dia nggak bisa diremehkan.
Posisi kami bertiga memang kurang menguntungkan, karena mudah terlihat dari arah sana. Desingan peluru yang membentur benda-benda di dekat ane cukup menciutkan nyali. Musuh kami menggunakan senjata sungguhan yang bisa mematikan orang. Berbeda dengan kami bertiga yang memakai masteray, senjata yang bisa diatur kekuatannya. Dari posisi ini akan sulit menembak ke atas tanpa menjadi sasaran empuk. Karena saat menembakkan senjata, posisi akan menjadi terekspos dengan jelas.
Dari tempat ane berlindung, ane melihat si Febby udah nggak ada di tempat semula. Sepertinya dia sudah bergerak ke tempat lain dan ikut menyerang kami yang sedang berlindung.
“ sial gua ga ada senjata jarak jauh “ kata Panca. Masteray miliknya tadi diambil Amy
Ane sendiri juga nggak bawa masteray.
“ panggil bantuan “ kata ane sambil ngeluarin alat komunikasi. Sialnya sinyal yang ada kelihatan sangat minim, bahkan hampir tidak ada. Sepertinya musuh menggunakan alat untuk mematikan sinyal.
Tiga kali terdengar suara ledakkan keras, dan ane bisa melihat beberapa bagian dari sisi langit-langit terlihat hancur. Tembakkan dari Amy berhasil mengenai musuh yang berada di atas sana.
“ Panca! Tolong gue, gue kena….” suara Amy terdengar meminta pertolongan. Selama beberapa detik tidak terdengar suara tembakkan. Ane yakin bahwa mereka yang menyerang dari atas sudah berhasil dilumpuhkan. Tetapi sebenarnya keadaan belum sepenuhnya aman,
Febby pasti masih berada di sekitar sini dan mengincar kami bertiga. Suara erangan dari Amy membuat ane segera keluar dari tempat berlindung dan mencarinya. Panca kelihatan bergerak di depan ane.
Amy kelihatan terluka di bahunya. Darah mengalir cukup banyak membasahi pakaian yang ia kenakan. Dia tampak meringis menahan rasa sakit.
“ sial, gue kena, nih lo pegang “ Amy menyerahkan masteray ke tangan ane.
Panca kelihatan cemas melihat kondisi Amy. Nggak lama kemudian terdengar beberapa suara langkah kaki bergerak cepat ke arah kami.
Hanya dalam hitungan detik, beberapa orang muncul di belakang maupun di depan tempat kami berlindung. Mereka semua membawa senjata api. Beberapa ada yang menodongkan ke arah kami. Ane bisa melihat dengan jelas Febby ada diantara mereka.
“ hentikan melawan, kalian kalah jumlah “ Febby memperingatkan. “ gue masih berbaik hati karena kita pernah kenal sebelumnya. Mudah bagi gue untuk membunuh kalian bertiga dan mengambil dokumen itu dari kalian “ katanya lagi.
Side Line
Philadelphia Tunnel
Teknologi yang kita lihat sekarang sebagian besar sudah ada 10-15 tahun yang lalu. Hanya saja saat itu penggunaannya sangat terbatas, oleh pihak intelijen atau militer. Internet sudah umum digunakan sejak tahun 1980an. Demikian juga peralatan seperti chip, microchip dan berbagai senjata yang kita anggap canggih, merupakan hal yang biasa di dunia intelijen tahun 1940-1970.
Penjelajahan luar angkasa pun telah mendapatkan berbagai fakta yang selama ini tidak pernah diungkapkan. Bahwa ada kehidupan lain di luar sana. Akan tetapi fakta ini tampak begitu menakutkan bagi pemerintah negara adidaya sekalipun, karena teknologi “mereka” sangat maju . Stephen Hawking seorang fisikawan bahkan pernah mengungkapkan bahwa sebaiknya “mereka” tidak menemukan Bumi. Karena bila hal itu terjadi, nasib kita akan sama seperti nasib bangsa Indian ketika orang Eropa mencapai benua Amerika.
Apa yang ane lihat hari itu benar-benar mungkin sulit dipercaya.
“ini pengembangan dari Philadelphia Project” Professor KN menjelaskan
“sudah disempurnakan beberapa kali”
“bisa menembus waktu?” tanya ane
“hahahah….itu hanya cerita isapan jempol, ini digunakan untuk melewati kecepatan cahaya, mencapai tempat yang amat jauh darisini” katanya sambil menunjukkan beberapa bagian dari benda raksasa ini.
Sebuah terowongan besar terbuat dari berbagai bahan logam. Kabel-kabel berukuran raksasa tampak tersambung pada beberapa bagiannya. Monitor di sekitarnya juga tampak terus menayangkan data-data yang berubah-ubah.
“sudah beberapa kali digunakan untuk melintas ke negeri mereka” Professor KN mengatakannya sambil memperlihatkan beberapa gambar “negeri alien”.
“dengan bantuan satelit xxx-xx, kita bisa menghubungi mereka dengan cepat”
Ya memang hubungan dengan mereka sudah terjalin lama, walaupun dalam fakta ilmiah yang diungkapkan, manusia belum pernah bisa melakukan kontak secara langsung dengan mahluk luar angkasa. Ane sangat kagum dengan peralatan canggih di dalam fasilitas riset milik organisasi. Dan ini tidak hanya ada disini, tetapi juga terdapat pada cabang-cabang organisasi di negara lain.
“kita harus berhati-hati dalam menggunakan tunnel ini, oleh karea itu memastikan bahwa tempat tujuan akan sangat aman untuk dikunjungi bisa membutuhkan waktu belasan tahun, terkadang sampai anggota tim riset sudah berganti baru operasi dilaksanakan. ” katanya menjelaskan.
Memang benar, kalau sembarangan membukan tunnel ini, bisa jadi ketakutan dari Stephen Hawking menjadi kenyataan. Alien yang menemukan dunia baru untuk dikuasai, dengan teknologi mereka yang lebih maju. Karenanya sasaran dari tunnel ini diarahkan pada dunia alien yang memiliki sikap koperatif dan teknologinya diperkirakan berada di bahwa teknologi yang dimiliki oleh Bumi.
Faktor keselamatan dalam membuka tunnel juga sangat penting untuk diperhitungkan. Dalam Philadelphia Project yang pertama, beberapa prajurit Amerika yang turut serta dalam percobaan tubuhnya tersedot dan ada yang menyatu dengan logam di sekitar peralatan. Sangat mengerikan! Bahkan sebagian besar dari mereka meninggal karena pengaruh tekanan energi yang sulit dikendalikan.
“Tunnel ini sendiri selain disempurnakan oleh kita, juga turut dibangun dengan teknologi dari bangsa xxxxxxxxx yang datang ke Bumi di tahun 1977. Mereka menambahkan sistem pengamanan dan pengendalian energi yang kita butuhkan”
“rumit sekali sepertinya” kata ane sambil terus mengagumi benda di depan ane. Benar-benar sesuatu yang luar biasa.
Pengembangan dari rancangan Da Vinci, disempurnakan dengan pemikiran Einstein yang tidak pernah diungkapkan. Menjadi suatu karya yang dapat melintasi batasan kehidupan di Bumi. Eksplorasi tidak hanya sebatas pada Bumi sendiri tetapi sudah mencapai ke planet-planet lain di luar tata surya. Memang sukar dipercaya. Sama seperti sulit mempercayai bila dikatakan beberapa film Box Office bertema alien dan mahluk luar angkasa sesungguhnya melibatkan mahluk luar angkasa yang sebenarnya.
Hal ini dilakukan untuk melihat reaksi penduduk Bumi terhadap asimilasi dengan mahluk luar angkasa. Tentunya hanya pihak-pihak yang memiliki kekuasaan yang mengetahui tentang hal ini. Aktor dan aktris di film pun tidak menyadari bahwa mereka sedang bermain peran bersama dengan mahluk luar angkasa sungguhan.
Penggambaran mahluk luar angkasa mulai dari yang agresif, lucu, bersahabat , bijaksana dan berbagai karakter lainnya telah secara lengkap disampaikan melalui film-film science fiction. Usaha ini akan terus dilakukan , mungkin sampai berabad-abad, sampai asimilasi dengan mahluk luar angkasa bisa diterima dengan baik.
“dunia ini jauh lebih besar dari yang kita kira. Dan terlalu sombong bila kita menganggap bahwa hanya kita yang berada di alam semesta sebesar ini” kalimat Professor KN, ilmuwan asal Inggris ini benar-benar tertanam di pikiran ane sampai saat ini.
“apa yang kita anggap mustahil saat ini, sebenarnya mungkin sudah bisa dilakukan atau sudah terjadi pada bagian lain di dunia” katanya lagi. Mengingatkan ane pada betapa tertinggalnya teknologi masa kini, yang sebenarnya sudah ditemukan 10-15 tahun lalu, seperti yang sudah ane tuliskan di atas.
*seluruh percakapan dengan Professor KN menggunakan bahasa Inggris
Revelation
X334
1961, bukan tahun yang ramah bagi dunia. Kegagalan Amerika pada operasi Bay of Pigs berujung konflik yang berkepanjangan. Tidak hanya antara Amerika Serikat dan Kuba, tetapi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perang dingin berlanjut sampai kepada krisis nuklir, yang masih melibatkan tiga negara yang sudah disebutkan sebelumnya. Peringatan mengenai akan gagalnya invasi ke Kuba sudah pernah dilakukan oleh beberapa analis. Namun jauh sebelum para analis mengatakan hal ini, seseorang dengan identitas misterius sudah berusaha melakukannya.
Dalam dokumen yang dirahasiakan, orang atau mahluk tersebut diberi kode X334. Perawakannya sedang, berkulit putih dengan rambut ikal berwarna coklat. Ia memiliki mata dengan retina kehijauan. Pakaiannya seperti warga Amerika pada umumnya. Dalam periode tahun 1956-1959 ia berusaha untuk bertemu dengan Eisenhower yang saat itu menjabat sebagai Presiden. Tentu saja niatnya selalu mengalami hambatan. Ia hanya dianggap sebagai orang sinting yang suka mencari sensasi. Tidak sembarang orang bisa bertemu dengan Presiden.
Beberapa tabloid lokal pernah menanyakan maksud dari keinginannya untuk bertemu Presiden. Saat itu ia hanya menjawab bahwa akan terjadi pembantaian yang memalukan Amerika pada tahun 1961. Tetapi ia tidak menjelaskan secara detail apa maksudnya. Ia hanya ingin menyampaikannya secara langsung kepada Presiden. CIA yang ketika itu dibentuk sebagai kontra dari KGB terlalu sibuk untuk menginvestigasi lebih lanjut hasil wawancara dari tabloid-tabloid kecil tersebut. Mereka lebih terobsesi pada situasi krisis yang melanda Kuba. Negara kecil itu sedang bergejolak. CIA sudah mencium bahwa pengaruh Amerika akan memudar dari wilayah tersebut.
Dugaan CIA menjadi kenyataan, pada tahun 1959, Fulgencio Batista digantikan secara paksa oleh Fidel Castro. CIA dan Eisenhower tidak menyukai hal ini. Apalagi setelah itu Kuba lebih memilih untuk bersekutu dengan Uni Soviet. Hal yang terburuk yang dapat terjadi adalah bila Kuba dijadikan basis Komunis untuk menancapkan pengaruhnya di Amerika Latin, dan selanjutnya menyerbu Amerika Serikat. Kuba bisa menjadi tempat ideal untuk mendirikan beberapa peluncur rudal untuk memporak –porandakan benua Amerika.
X334 saat itu masih berusaha keras menghubungi Presiden. Usahanya sedikit membuahkan hasil ketika salah satu agen CIA bernama James Murray bersedia menemuinya. Catatan yang diberikan oleh X334 cukup menarik, mengenai penyerbuan yang gagal. Beberapa hal yang disebutkan adalah :
Yang Haus Darah akan menguasai Amerika
Burung Besi Amerika akan runtuh
Ribuan harus ditukar dengan jutaan
Hanya 3 kalimat tersebut yang ia sampaikan pada Agen Murray. Secara hati-hati Murray meneruskannya kepada Eisenhower. Tentunya X334 berharap Eisenhower akan memanggilnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Tetapi saat itu Eisenhower menganggap ini semua hanya omong kosong dan menganggap X334 adalah mata-mata KGB yang berusaha mengancam kepentingan Amerika. Ia secara khusus menugaskan Agen Murray untuk mengamati tindak tanduk X334.
Di suatu malam yang cerah, Agen Murray dan Agen Silver masih dalam misi pengawasan terhadap X334. Mereka dari kejauhan mengamati rumah yang dijadikan tempat tinggal orang tersebut. Tepat pukul sepuluh malam, ada cahaya terang terlihat dari dalam rumah. Tertarik dengan hal ini kedua agen berusaha menghubungi rekan-rekan mereka. Tetapi saat itu alat komunikasi yang mereka gunakan mendadak tidak berfungsi. Cahaya terang tersebut tampak berkelap kelip untuk beberapa saat. Agen Murray memutuskan untuk mendekati bangunan tersebut, sementara Agen Silver mengawasi dari jauh. Beberapa meter sebelum Agen Murray mencapai pintu bangunan, terdengar suara ledakan keras.
Agen Silver dapat melihat rekannya terpental di jalanan. Beberapa warga yang tinggal di dekat sana tampak berlarian dengan panik keluar dari rumah mereka. Tanpa berlama-lama, Agen Silver dan Agen Murray menerjang pintu bangunan untuk memeriksa kondisi di dalam sana. Di dalamnya mereka menemukan berkotak-kotak yang berisi lembaran kertas dengan tulisan-tulisan yang aneh. Di sebuah ruangan mereka juga melihat semacam alat komunikasi yang tidak mereka kenali. Ketika itu mereka tetap menduga bahwa X334 adalah agen KGB.
Dugaan ini terpatahkan saat mereka menemukan mahluk menyerupai manusia yang tampak meleleh dan lengket di lantai ruang bawah tanah. Mereka saat itu tidak yakin apakah mahluk tersebut masih bernyawa atau tidak. Dengan segera mereka menutup ruangan dan melarang siapapun untuk masuk, sampai tiba agen-agen CIA lainnya. Hasil penemuan ini tidak pernah terungkap pada publik. Mahluk tersebut disembunyikan entah dimana. Fakta menunjukkan bahwa mahluk tersebut sudah tidak bernyawa ( berdasarkan autopsi yang dilakukan oleh Dr Kennard, rekanan CIA).
Semua prediksi yang disampaikan oleh X334 terjadi dengan tepat. Eisenhower digantikan oleh Kennedy (yang dalam pemilihan umum, bersama dengan Nixon saingannya tampak bersikap agresif terhadap isu Kuba ).Invasi ke Kuba gagal total. Beberapa pesawat pengebom B-26 dijatuhkan, sementara sebagian lagi enggan untuk melaksanakan tugas karena gentar dengan berondongan senjata anti pesawat yang dimiliki Kuba. Kira-kira 1.100 an orang tahanan harus ditukar dengan uang sebesar 53 juta USD.
Menyadari kesalahannya Eisenhower memprakarsai (secara rahasia) Project Louie yang dilakukan bersamaan dengan Project Blue Book. Sampai akhir 90an Project Louie masih terus berjalan dengan tujuan untuk menyaring informasi yang bersifat ektraterestrial. Project-Project serupa juga banyak ditiru oleh negara maupun badan intelijen yang ada di dunia. Mau tidak mau mereka harus menerima bahwa terdapat kehadiran mahluk lain yang memiliki peradaban yang lebih baik. Kebebalan dan ketertutupan hanya akan berujung bencana.
Sumber : Ringkasan Dokumen X-676, bagian 10Y26, Bay of Pig Invasion
Ending
Catatan Blog: Sayang nya cerita tidak dilanjutkan oleh penulis (hancurkan666) setelah lama menunggu, user hancurkan666, mengatasnamakan Bintang 1213, menuliskan pesan berikut
Zavic Tunnel dan Indonesia ditulis oleh Bintang 1213
Halo semuanya. Secara resmi, saya yang gantikan hancurkan666 karena yang bersangkutan untuk sementara dalam status nonaktif. Disebabkan karena beberapa hal yang perlu dievaluasi oleh kami. Akan tetapi tulisan-tulisan yang bersangkutan tetap bisa dibaca karena menurut kami tidak ada hal-hal yang signifikan untuk merugikan kami.Sebaliknya kami malah mendukung bila ada user yang ingin menyebarkan tulisan-tulisannya melalui media sosial.
Untuk versi kelanjutan tulisannya masih dalam proses evaluasi dari kami. Semoga dalam waktu dekat bisa kami tampilkan disini. Saat ini bila para user berkenan bisa menyempatkan diri membaca Pesan Perdamaian yang saya tulis dimana pesan ini sudah melalui proses verifikasi dari Liga ke 7.
Seperti kita ketahui bersama saat ini dunia yang kita tinggali, tepatnya planet Bumi sudah dipenuhi berbagai kejahatan maupun perusakan. Baik dalam bentuk sosial maupun fisik. Dari tahun ke tahun tampak tidak ada tanda-tanda akan adanya perbaikan. Perusakan terus berlanjut dan hanya menguntungkan sebagian kecil orang yang saat ini sedang membangun Terowongan Zavic (Zavic Tunnel / Tunnel through Flaming Core). Pembangunan dunia baru di bawah terowongan memakan dana yang sangat besar, dimana dana ini didapat dari penjualan senjata di negara-negara yang sedang bertempur, permainan harga minyak dan lain-lain.
Energi Nuklir yang saat ini sedang dipromosikan untuk digunakan oleh berbagai negara, pada dasarnya adalah bahaya terselubung. Dimana pada saatnya nanti ketika Dunia Zavic sudah dibentuk, seluruh reaktor nuklir akan diledakkan secara terencana yang berakibat pada jatuhnya peradaban manusia Bumi (sebagian besar). Kekuatan nuklir akan seperti kanker ganas yang merusak secara tidak terlihat. Hal ini terbukti dengan peristiwa Chernobyl yang sebenarnya adalah rekayasa untuk melihat seberapa hebat kehancuran yang diakibatkan karena Nuklir. Penampakkan hewan-hewan yang mengalami deformitas juga merupakan bukti percobaan radiasi nuklir yang sedang dilakukan.
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki peranan penting dalam pembangunan Zavic Tunnel. Secara rahasia, beberapa pulau di Indonesia sudah dijadikan sebagai tempat ujicoba yang ideal. Pulau-pulau ini letaknya sangat terisolasi dan sulit dijangkau dengan sarana transportasi awam. Secara hati-hati, segala proses eksperimen yang dilakukan tidak pernah sampai mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia secara umum. Keberadaan instalasi rahasia ini pun tidak melibatkan pemerintah Indonesia meskipun ada beberapa warga negara Indonesia yang terlibat dalam proyek ini. Khususnya mereka yang teridentifikasi memiliki kemampuan yang outstanding.
Saat ini kami masih terus memantau perkembangan Zavic Tunnel dan proyek-proyek yang mendukungnya. Melalui persahabatan yang kami bangun dengan para Faraway Friends, kami yakin bahwa suatu saat nanti kami bisa mencegah terjadinya kiamat Nuklir di Bumi. Para Faraway Friends memiliki kemampuan yang sangat baik dan bisa diandalkan untuk memecahkan permasalahan di Bumi. Akan tetapi sebagian besar dari mereka masih perlu beradaptasi dengan situasi di Bumi. Kami sangat berharap teman-teman di Bumi bisa terus mengembangkan teknologi non Nuklir serta terus mendukung harmonisasi antar masyarakat.
Keberadaan konflik yang bersifat agresi tidak akan membuat Bumi menjadi lebih baik.
Salam Perdamaian,
Bintang 1213
Note : Segala bentuk komunikasi di luar user ini berada di luar tanggungjawab kami.
- GeekOut Drivers - October 24, 2025
- Setup dnscrypt-proxy on Ubuntu 24.04 (Raspberry Pi 5) - September 4, 2024
- Mosh your VPS from Windows using Cygwin - May 12, 2024