Catatan Blog: Cerita ini di salin dari tulisan di Kaskus oleh user hancurkan666. Sebelum membaca tulisan berikut ada baiknya membaca cerita sebelumnya di sini
Second Coming
The Lost Child (Part I)
Kemampuan transfer memori yang ane miliki ternyata membawa peranan ane di organisasi semakin meningkat. Di tahun ke dua ane aktif di organisasi, ane menggunakan kemampuan ini dengan sebaik-baiknya. Ane sering dipercaya untuk melakukan transfer memori agar lebih mengenal masalah-masalah yang dihadapi organisasi. Transfer memori selain untuk mempelajari hal-hal yang bersifat masa lalu juga berfungsi untuk membersihkan atau menghancurkan memori yang rusak atau terhambat dari seorang anggota organisasi.
Caranya nggak terlalu sulit, yang penting kita hanya perlu untuk tetap fokus dan bisa bertahan dalam prosesnya. Kita berperan sebagai tokoh atau seseorang yang berjuang bersama si klien untuk melakukan perubahan memori. Kejadian yang cukup berkesan adalah ketika ane harus berhadapan dengan dark memori atau memori yang terkontaminasi entah darimana asalnya.
Perkenalan ane pertama kali dengan dark memori adalah ketika ane diminta bantuan untuk memeriksa memori seorang anak dari salah satu petinggi organisasi. Si orangtua merasa perlu dilakukan proses pembersihan memori karena sejak kematian saudara kandung si anak, anak tersebut jadi lebih banyak bengong dan mengatakan hal-hal yang enggak jelas. Beberapa anggota organisasi sudah mencoba untuk melakukan pembersihan memori namun selalu gagal karena mereka nggak “senatural” ane (itu kata orang organisasi).
Namanya Mark, usianya kira-kira lima tahun. Ia hanya menatap kosong ketika bertemu dengan ane. Orangtuanya sempat khawatir transfer memori nggak akan bisa dilakukan. Tapi saat itu, Kak L yang mendampingi ane berusaha menenangkan. Dan memang benar transfer memori akhirnya bisa berjalan. Tetapi, prosesnya cukup melelahkan bagi ane.
Dari tatapan kosongnya, ane tiba di semacam tempat yang memiliki pemandangan serba pucat nggak jelas. Saat itu ane nggak merasakan keberadaan Mark. Pemandangan yang ane lihat adalah deretan rumah-rumah yang tertata rapi. Ada jalanan yang cukup panjang di depan rumah-rumah tersebut. Ane berusaha berorientasi dan mengenali lingkungan ini. Setelah beberapa saat ane tetap tidak bertemu seorangpun disana. Mungkin memang karena pikiran anak itu kosong.
“ siapa kamu ? “
Ane mendengar suara orang bertanya, dan lumayan kaget juga saat melihat sesosok mahluk yang nggak terlalu jelas sedang duduk di atas tiang listrik. Menyerupai manusia tetapi tubuhnya berwarna abu-abu pekat. Wajahnya nggak terlihat jelas, karena ane jauh berada di bawah dia.
“ saya seseorang yang berusaha menolong “ jawab ane.
“ masuklah ke rumah yang itu “ ia menunjuk pada salah satu rumah.
Kata-katanya ane anggap sebagai keinginan dari Mark agar ane masuk lebih dalam ke memorinya.
“ tapi….” Ucapan ini membuat ane menahan langkah ane dan ingin mendengar lanjutannya.
“ mungkin kamu tidak akan kembali “
“ saya pasti kembali “
“ tidak….karena dia ada disana “
“ siapa dia? “
Pertanyaan ane ini nggak dijawab, sebaliknya sosok itu kelihatan semakin kabur dan menghilang. Apapun yang terjadi ane tetap ingin melanjutkan proses yang berlangsung. Ane berjalan menuju rumah yang ditunjuk oleh sosok tadi. Gerbangnya tidak dikunci, saat berada di dekat pintu, ane mencoba mengetuk tetapi tidak ada jawaban. Ane lalu memberanikan diri membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, suasananya agak gelap, tetapi ane masih bisa melihat seluk beluk rumah. Beberapa bagian dinding tampak sudah mengelupas. Ane bisa mendengar suara langkah kaki ane sendiri setiap kali melangkah di dalam rumah. Suaranya cukup keras. Tidak ada sesuatu yang spesial sampai ane menemukan sebuah album foto di atas meja yang ada di sudut ruang tamu.
Isinya tidak terlalu jelas, hanya gambar-gambar buram. Sulit untuk mengenali orang-orang yang ada di album foto tersebut. Pada beberapa foto bahkan wajah dari orang yang ada tampak menghilang. Lembar demi lembar ane buka, berharap mendapat suatu petunjuk. Tepat pada lembar terakhir ane melihat sebuah gambar yang membuat jantung ane berdetak kencang. Gambar ini memancarkan sesuatu yang kurang menyenangkan.
Seorang anak perempuan menundukkan wajahnya, di sekelilingnya terdapat beberapa orang berjubah hitam , dengan kepala tertutup kain yang juga berwarna hitam. Masing-masing orang berjubah memegang lilin yang menyala. Gambar ini memiliki latar belakang dinding berwarna putih dengan beberapa bercak hitam, membentuk semacam simbol. Ane mencoba memperjelas gambar dengan menggosok telapak tangan ane ke permukaan gambar, tetapi tidak terjadi apa-apa. Tetapi beberapa detik kemudian ane bisa mendengar ada suara semacam orang sedang berdoa bersama-sama dari salah satu ruangan.
Suara semacam doa yang dipanjatkan itu ane nggak tahu pake bahasa apa. Seperti ada beberapa orang sedang memanjatkan doa, sebagian laki-laki dan sebagian lagi perempuan. Ane memberanikan diri berjalan mendekati ruangan tempat suara-suara itu berasal. Setiap langkah ane lakukan dengan hati-hati meskipun ane sudah terbiasa dengan kondisi suram ini. Lantunan doa yang ane dengar nggak membuat ane merasa tenang, sebaliknya malah semacam ada perasaan aneh. Lama-lama ane menyadari bahwa ini bukan orang-orang memanjatkan doa, tetapi semacam orang-orang mengucapkan mantra atau melakukan pemujaan terhadap sesuatu.
Ane benar-benar terkejut saat merasa ada sebuah tangan yang mencengkeram pergelangan kaki kanan ane. Memang saat ane lihat ada sebuah tangan yang keluar dari lantai dan memegang dengan keras pergelangan kaki ane. Belum sempat ane melakukan tindakan, tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuat ane semakin terkesiap. Sebuah kepala muncul di dekat tangan tersebut. Kepala itu mendongak menatap ke arah ane. Sebuah wajah pucat dengan rambut pendek. Seorang laki-laki.
“ pulanglah “ katanya
“ tidak, biarkan saya melanjutkan, saya hanya ingin memberi pertolongan “
Jawaban ane ini disambut dengan kemunculan beberapa tangan lagi dari bawah lantai. Jumlahnya tidak terhitung. Tangan-tangan itu menggapai-gapai udara kecuali sebuah tangan yang masih menahan langkah ane. Kepala yang menatap ke ane kelihatan ingin mengucapkan sesuatu tetapi ane nggak bisa mendengar dengan jelas, karena suara lantunan dari salah satu ruangan terdengar semakin keras.
Suara jeritan melengking terdengar sesaat. Bersamaan dengan itu tangan-tangan yang bermunculan dari lantai terlihat terkulai lemas, begitu juga dengan tangan yang menahan langkah ane. Kepala yang tadi muncul menghilang entah kemana. Yang ane liihat hanyalah tangan-tangan kaku seperti pohon-pohon yang hampir mati.
Album foto yang ane tinggalkan kelihatan terbuka dengan sendirinya, halaman-halaman tampak terbolak balik dengan cepat. Kemudian lembar demi lembar foto terlepas keluar. Saat foto terakhir, yaitu foto anak perempuan yang dikelilingi orang berjubah hitam, terlepas keluar, mendadak situasi menjadi gelap total. Situasi mendadak hening tanpa suara. Beberapa saat kemudian ane melihat beberapa lilin menyala di sekeliling ane.
The Lost Child (PART II)
Ruangan kembali diterangi cahaya lilin, tetapi ane sadar bahwa kondisi di sekeliling ane sudah berubah. Ini sudah bukan di rumah yang ane masuki. Atau mungkin ane berada di ruangan lain di dalam rumah itu, ane nggak tau. Di depan ane berdiri seseorang berpakaian rapi, seorang pria memakai jas dan celana panjang hitam. Dia memegang semacam jam antik di tangan kanannya. Mukanya pucat seperti mayat.
“ ini bukan tempatmu, kembalilah “
“ tidak, saya harus menolong anak ini “
“ tetapi ada bagian sulit yang tidak bisa dibongkar “
Ane tau, yang dia bicarakan adalah mengenai memori yang membeku atau terhambat di dalam pikiran Mark. Dalam beberapa kali perbaikan memori, ane juga ada satu dua kali bertemu dengan karakter yang ingin menyampaikan hal yang sama. Karakter ini adalah bagian dari diri klien yang ingin agar memorinya tidak diakses lebih lanjut lagi.
“ tidak, Anda harus kembali “ suara orang itu terdengar datar.
“ biarkan saya melanjutkan prosesnya “ ane tetap berpegang pada pendirian ane
Pria tersebut lalu memutar jam yang ada di tangannya, bersamaan dengan tindakannya itu, kondisi di sekeliling ane tampak berputar kencang. Ane harus menutup mata karena semakin dilihat kepala ane bisa merasa pusing. Beberapa menit kemudian ane bisa mendengar suara gumaman anak-anak kecil. Kali ini ane sudah berada di lingkungan yang berbeda .
Situasinya berwarna agak kekuningan, seperti foto-foto klasik. Ane berdiri di depan bangunan sekolah.
“ ingin bertemu siapa ? “ tanya seorang wanita, wajahnya agak menyeramkan. Ia memiliki rambut pendek , agak kurus dan saat melangkah kakinya seperti agak melayang di udara.
“ Mark “ jawab ane
“ tidak ada yang namanya Mark di tempat ini “
“ Klara “ ane memberikan satu nama lagi, nama adik Mark yang usianya kira-kira tiga setengah tahun.
“ baiklah sebentar lagi anak-anak keluar “
Dan memang benar kata-katanya. Sebaris anak-anak tampak keluar menuju gerbang sekolah. Wajah mereka ada yang jelas dan ada yang tidak jelas. Setiap anak menyebutkan namanya di depan wanita itu, dan tidak ada yang bernama Klara. Setiap setelah menyebutkan nama, anak-anak itu menghilang entah kemana. Ane mencoba menunggu dengan sabar sampai semua anak menghilang.
“ tidak ada lagi? “ tanya ane
“ hmm masih ada satu tetapi Anda harus melihatnya sendiri di dalam sana “ katanya sambil tersenyum mencurigakan.
Wanita itu lalu melangkah ke dalam bangunan sekolah. Ane mengikutinya dari belakang. Isi bangunan sekolah itu terlihat agak aneh, seluruh dindingnya berwarna putih. Di dalam kelas kursi tertata rapi. Ada beberapa sosok hitam terkadang kelihatan di dalam kelas, entah siapa mereka dan apa yang merka lakukan.
“ itu tempatnya “ si wanita menunjuk ke kelas yang ada di pojok
Dia berhenti pada posisi berdirinya seolah meminta agar ane sendiri yang masuk ke dalam kelas itu. Ane lalu melangkahkan kaki dan berjalan menuju kelas tersebut. Isinya sama seperti kelas-kelas lainnya hanya saja ada sesuatu yang ganjil. Di belakang kelas ada sebuah peti mati berukuran tidak terlalu besar. Peti itu sudah tertutup.
Saat ane berjalan mendekati benda itu, tiba-tiba ane merasakan sesuatu bergerak cepat mendahului langkah ane. Hanya dalam sekejap wanita yang tadi jadi penunjuk jalan sudah berdiri di pinggir peti mati. Ia masih tampak tersenyum. Pada jendela-jendela kelas ane bisa melihat beberapa sosok hitam tampak berdiri mengamati ane.
“ kami sudah menunggumu “ kata si wanita itu ke ane
“ menunggu untuk apa ? “ tanya ane penasaran
“ anak ini butuh teman “ jawabnya
Jelas di telinga ane sayup-sayup terdengar suara ketukan dari arah peti mati. Seseorang di dalamnya yang melakukan ketukan itu.
“ yang di dalam situ masih hidup? “ tanya ane
“ tidak ada bedanya, sebentar lagi ia akan mati lemas “ jawab si wanita
Ane berjalan ke arah peti mati, melewati tubuh si wanita , semakin dekat ke peti mati ane bisa mendengar suara ketukan semakin jelas. Mendadak dari meja yang ada di samping ane muncul sebuah tangan yang menggenggam lengan ane. Dengan cepat ane berusaha melepaskan genggaman itu. Tetapi sudah muncul tangan lain yang memegang pergelangan kaki ane. Sekuat tenaga ane berusaha melepaskan diri.
“ tolong! “ terdengar suara anak kecil dari dalam peti mati.
Usaha ane untuk mendekati peti itu masih terhambat dengan tangan-tangan yang menahan ane. Wanita yang ada di dalam kelas bersama ane mulai bergerak mendekati peti. Saat melewati ane yang masih tertahan sama tangan-tangan yang bermunculan, dia kelihatan menunjukkan senyum sinis. Tepat di depan peti mati ia memberi isyarat kepada sosok-sosok hitam yang ada di balik jendela.
Salah satu sosok hitam melemparkan sebuah botol yang kemudian ditangkap oleh si wanita. Ane masih bisa dengar teriakan minta tolong dari dalam peti mati. Tetapi kelihatannya si wanita nggak peduli, dia lalu membuka botol dan menuangkan isinya ke atas peti mati. Ane bisa mencium bau minyak tanah.
“ hentikan! “
Tetapi teriakan ane tidak dipedulikan. Si wanita malah tertawa senang dengan apa yang dia lakukan. Seorang sosok hitam kelihatan berjalan memasuki kelas, dia membawa sebatang lilin yang sudah menyala di tangannya. Tanpa perlu berpikir jauh, ane sudah menyadari akan digunakan untuk apa lilin itu. Ane semakin berusaha keras melepaskan diri. Tetapi sosok hitam itu tanpa kesulitan berjalan melewati ane. Dia lalu menyerahkan lilin yang ada di tangannya ke si wanita.
“ tolong ! tolong ! “ suara teriakan panik terdengar dari dalam peti mati.
“ dari debu kembali menjadi debu “ kata si wanita, ia mengatakannya seolah-olah yang ada di dalam peti tersebut sudah tidak bernyawa lagi.
Sosok hitam yang tadi menyerahkan lilin sudah berjalan kembali ke luar ruangan. Suara ketukan dari dalam peti terdengar semakin keras, sepertinya seseorang yang berada di dalamnya menyadari bahwa bahaya sudah semakin mengancam.
“ jangan! Kumohon jangan bakar dia, dia masih hidup “ teriak seorang anak laki-laki yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Itu Mark, akhirnya ia muncul dalam proses ini.
“ diamlah, jangan berisik, dia sudah mati “ bentak si wanita. “ biarkan api ini menyelesaikan semuanya”
“ Jangan! “ Mark menjerit ia berusaha berlari menuju ke peti mati, tetapi sebuah tangan yang keluar dari papan tulis dengan cepat mencekal kerah bajunya dari belakang. Tubuh Mark bergerak ditarik sampai merapat ke papan tulis. Ia hanya bisa menjerit-jerit menyaksikan si wanita menyulutkan api ke atas peti mati yang sudah dilumuri minyak tanah.
The Lost Child (Part III)
Dalam sekejap api mulai merambat di atas peti mati. Si wanita tertawa nyaring, ia kelihatan puas dengan tindakan yang sudah ia lakukan. Suara gerakan di dalam peti mati terdengar makin kencang, tapi sepertinya sia-sia, peti itu tertutup rapat dan mulai terbakar bagian atasnya. Mark kelihatan meronta-ronta tetapi ia tetap tidak bisa meloloskan diri.
Ane tau dalam kondisi seperti ini apa yang harus ane lakukan. Dengan cepat ane mengaktifkan golden sphere, bentuknya berupa lingkaran cahaya keemasan yang mampu menghancurkan beberapa penghalang di dalam memori. Sifatnya hanya sementara. Ane diajarkan tehnik ini dari petinggi organisasi yang sudah fasih dalam transfer memori.
Golden sphere bekerja dengan baik dan berhasil menyingkirkan tangan-tangan yang menghalangi ane, dengan cepat ane mendekati peti mati, mencoba menahan panas, ane buka salah satu segel pengunci yang ada di samping peti. Si wanita kelihatan agak menjauh dari ane, dia sepertinya takut dengan keberadaan Golden sphere yang mengelilingi ane. Setelah segel terbuka, tutup peti mati tersentak ke atas, seorang anak perempuan terlihat sedang menangis.
Tanpa berpikir panjang ane menggendong anak itu dan berlari menuju ke tempat Mark yang masih terperangkap. Sebelum tiba di dekat Mark, kelihatan tangan yang menahan tubuh Mark juga menghilang.
“ ayo kita keluar dari sini “ kata ane sambil berlari keluar kelas, tetap sambil menggendong si anak perempuan. Mark berlari mengikuti ane dari belakang.
Sosok-sosok hitam yang berada di depan kelas kelihatan berlompatan kesana kemari menghindari langkah ane. Sebentar lagi Golden sphere akan menghilang, ane berharap proses ini bisa segera berakhir dengan baik. Untuk sementara memang ane bisa merasa aman. Begitu juga dengan Mark yang berlari di dekat ane.
Tepat ketika keluar dari bangunan sekolah, Golden sphere menghilang. Ane menurunkan si anak perempuan dari pelukan ane.
“ Karla! “ Mark kelihatan senang bertemu dengan anak itu
“ Mark?” tanya si anak perempuan
“ ayo kita pulang Karla “ ajak Mark
“ baiklah “ Karla kelihatan setuju dengan ajakan Mark.
Ane agak heran, seharusnya kalau proses berjalan dengan lancar, maka kondisi di sekitar ane akan berubah menjadi lebih baik. Tetapi pemandangan suram dari bangunan sekolah masih ada. Dan ane juga bisa melihat beberapa sosok hitam diam-diam masih mengamati kami dari dalam bangunan sekolah. Pasti masih ada yang belum beres.
“ kita harus pulang sekarang “ kata Mark ke ane
Ane sendiri bingung harus melangkah kemana, karena selain bangunan sekolah, nggak ada bangunan lain yang kelihatan jelas.
“ Karla ayo ikut ke rumah, pasti Papa dan Mama akan senang “ Mark menggandeng tangan adiknya.
Dari kejauhan ane bisa mendengar suara musik, semacam musik marching band. Dan memang benar beberapa saat kemudian kelihatan sebarisan orang dengan peralatan musik berjalan secara teratur ke arah kami. Dandanan mereka terlihat aneh. Dan bisa dibilang menyeramkan. Wajah-wajah pucat dengan beberapa goresan hitam disertai aksesoris berupa rantai di tubuh mereka.
Karla kelihatan berlindung di balik tubuh Mark.
“ mereka datang “ kata Karla
“ siapa mereka ? “ tanya Mark
“ orang-orang jahat “ jawab anak perempuan itu
Beberapa meter dari tempat kami berdiri, sekumpulan orang aneh itu berhenti. Mereka juga menghentikan permainan musik yang mereka mainkan. Salah satu dari mereka yang memegang semacam tongkat komando berjalan mendekat.
“ hei anak kecil, mari ikut kami “ ajaknya , yang ia maksud pasti Karla
“ Tidak, dia ikut bersama kami “ kata ane dengan tegas.
“ hmm…pengacau, kau datang dari tempat lain, begitu juga dengan anak laki-laki itu, kalian boleh pergi dengan selamat “ si pimpinan rombongan berkata demikian ke ane.
“ tidak , kalianlah yang pengacau, kalian menghambat proses ini “ ane berbalik menyalahkan mereka.
“ benarkah begitu, kau orang luar, mulai saat ini tidak bisa ikut campur lagi “ katanya dengan nada yakin.
Hanya dalam hitungan detik setelah kata-katanya, ane bisa merasakan badan ane terasa ringan. Seluruh tubuh ane kelihatan agak transparan, keberadaan ane di lingkungan ini mulai menipis. Pasti karena terjadi konflik antara memori yang membeku dengan keinginan Mark menyelesaikan proses ini.
Mark dan Karla kelihatan heran dengan kondisi ane, sekaligus mereka juga tampak takut karena harus berhadapan dengan serombongan orang aneh yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“ Mark! Sekarang semua tergantung padamu “ kata ane ke Mark “ yakinlah kau bisa menolong Karla “
“ hahahah! Sia-sia serahkan saja anak itu dan kau boleh kembali dengan selamat “ kata si pimpinan rombongan, ia lalu bergerak maju bersama dengan orang-orang di belakangnya, mendekati Mark. Karla yang ada di belakang Mark terlihat semakin ketakutan. Ane mencoba menghalangi gerakan rombongan aneh ini, tetapi mereka lewat begitu saja menembus badan ane.
“ Fokus Mark! Yakinlah bahwa kau bisa menolong Karla “ ane berusaha membangkitkan keyakinan positif dalam diri Mark. Sesuatu yang selama ini tidak ia miliki. Ia terlalu tenggelam di dalam kesedihannya dan merasa tidak berdaya dengan kematian Karla. Kali ini ia memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan. Bukan membangkitkan Karla dari kematian tetapi membiarkannya pergi dengan tenang dari memori buruk yang selama ini tersimpan.
Tubuh Mark tampak bergetar kencang, ia ketakutan. Ia juga kelihatannya tidak berani melarikan diri karena terlalu takut. Hanya beberapa langkah lagi orang-orang aneh itu bisa mengancam keselamatan Mark dan Karla. Dan memang benar akhirnya mereka berkerumun di sekeliling Mark dan Karla, beberapa orang mencoba menarik tubuh Mark , sementara yang lainnya berusaha membawa Karla secara paksa.
“ Ayolah Mark! Kita sudah sejauh ini! Kemunculanmu di dalam sekolah tadi sudah menandakan adanya keinginan untuk menolong Karla! “ ane terus mencoba membangun memori positif dalam diri Mark.
“ Minggir kalian mahluk jelek! “ Mark berteriak melayangkan tinjunya ke salah satu orang aneh. Tidak disangka orang tersebut terpental ke udara setinggi beberapa meter sebelum kemudian jatuh menghempas daratan. Mark kelihatan bingung dengan kekuatannya. Begitu juga orang-orang aneh di sekitarnya, mereka sepertinya bertanya-tanya mengenai apa yang telah terjadi.
Side Line
House of White, Part 1 : 876
Ane masih ingat bangunannya, warna putih semua. Organisasi menyebutnya House of White. Mungkin biar mirip White House kali ya. Bentuk bangunannya kotak-kotak kaku seperti rumah susun jaman dulu. Temboknya dicat putih, sampai ke pintunya juga. Ane ga bisa ceritain lokasi maupun gimana prosesnya ane bisa berada disitu.
Bersama ane ada Ririn dan Panca juga. Ane sempat liat si Bastian tapi kayaknya dia sengaja dipisah sama kita yang bertiga. Pintu depannya bisa otomatis terbuka saat kita lewati, ya biasa aja sih, kayak pintu di mal gitu. Bedanya ada semacam layer cahaya gitu. Mungkin ini sensor untuk memeriksa pengunjung.
Disana kami disambut Mr.Kaspar, laki-laki kulit putih dari Swiss. Mr Kaspar lumayan bisa bahasa Indonesia. Setelah berbasa basi sebentar kita diantar untuk menuju suatu ruangan. Jalannya lumayan jauh, di kiri kanan kita banyak pintu warna putih yang tertutup, nggak ada lambang atau tulisan apapun.
“baik silahkan kalian masuk kesini” kata Mr Kaspar mempersilahkan kita masuk salah satu ruangan.
Melihat kita semua ragu-ragu, lalu dia membuka pintu ruangan tersebut. Di dalam ruangan terlihat ada sesosok manusia lagi duduk di kursi, di depannya ada meja dan banyak kertas. Ruangan dan perabotannya semua berwarna putih.
“ini 876” kata Mr Kaspar sambil menunjuk ke orang tersebut.
Orang itu sama sekali tidak melihat ke kami yang datang. Dia terus menerus melakukan kegiatan mencorat-coret kertas. Hanya ada bentuk-bentuk oval di kertas itu. Kalau dilihat-lihat tumpukkan kertas lainnya juga bergambar sama. Entah sudah berapa banyak yang digambar oleh orang ini.
“hai 876” Panca mencoba menyapa orang itu. Tetapi tidak mendapat tanggapan.
“boleh dilihat?” tanya ane , ane mau megang salah satu kertas itu.
si 876 tidak menjawab. Mr Kaspar menggerakkan tangan seolah mempersilahkan ane mengambil kertas yang ada.
Waktu ane ngambil kertas yang sudah digambar, 876 juga tidak memberi reaksi apa-apa. Memang kertas itu hanya ada coretan gambar oval aja. Sementara ane mengamati kertas-kertas yang ada, Ririn berjalan keliling ruangan. Sepertinya dia mencoba mencari informasi lain selain kertas-kertas yang ada.
“well, silahkan kalian berinteraksi dengan 876, 1 jam lagi saya kembali, kalian laporkan hasilnya” , kata Mr Kaspar sebelum ia pergi meninggalkan kami.
876 masih terus menerus mencoret tumpukkan kertas yang ada.
“gimana nih?” tanya Panca
“kayaknya dia blank” jawab ane
“bahaya ga kira-kira?” Panca nanya lagi
“nggak tau deh”, ane juga nggak bisa mastiin sih dia berbahaya atau nggak.
“kamarnya gini doang isinya” kata Ririn.
Keliatannya Ririn nggak menemukan sesuatu yang menarik di ruangan itu. Yang ane liat selain meja dan kursi, ada juga tempat tidur, dan ada pintu ke ruangan lain, mungkin itu toilet. Selain kertas-kertas itu nggak ada hal lain yang menarik.
“coba deketin aja” kata Ririn
Ane pelan-pelan berjalan ke belakang 876, yang bersangkutan samasekali nggak ngeliat ke ane ataupun yang lainnya. Ane lalu nepuk bahunya dia. Tetap dia nggak bikin reaksi apa-apa.
“ambil aja pulpen yang buat gambar” usul Panca
“ah gila lo, ntar dia ngamuk gimana” , ane nggak sreg sama usul Panca
“ya dicoba aja” si Ririn nambahin
“iya kalo ada apa-apa kan kita bertiga” kata Panca lagi.
876 tetap menatap kosong sambil terus menggambar. Dia samasekali nggak ngeluarin suara. Yang terdengar di ruangan itu cuma suara goresan pulpen ke atas kertas. Ane coba goyang-goyangin badannya tapi dia juga seolah nggak menganggap ane ada disitu.
“lama bener lo, udah ambil aja” si Panca tetap maksa ane ngambil pulpen yang dipakai 876. Mendadak tangan Panca bergerak cepat menarik pulpen itu. 876 keliatan tersentak sebentar, terus dia diam mengamati gambar yang dia buat. Nggak lama kemudian dia berdiri berjalan ke pintu (yang ane pikir itu toilet), lalu buka pintu itu dan masuk ke dalam sana.
“ayo ikutin” ajak Panca.
“itu WC kali”, kata ane.
Panca agak melangkah cepat mencoba buka pintu itu, dan memang pintu itu terbuka. Waktu pintu terbuka kita bisa lihat dari luar bahwa ada ruangan warna putih di dalamnya. Tetapi 876 sepertinya nggak ada disitu.
“masuk gak?” tanya ane
Ririn keliatan agak ragu-ragu. Sementara Panca sepertinya penasaran.
“kita keluar dulu aja lapor sama Mr. Kaspar” usul Ririn.
“jangan , kita belum dapat info apa-apa” cegah Panca
“ya udah susul aja” kata ane.
Panca duluan masuk ke ruangan itu, disusul ane dan Ririn.
Waktu kita masuk, otomatis pintu yang tadi terbuka langsung nutup lagi. Ruangan itu benar- benar kosong. Selain pintu di belakang kita, nggak ada pintu lainnya lagi. Agak panik Ririn membuka pintu di belakangnya, lalu masuk ke ruangan awal, ane dan Panca buru-buru nyusul.
Disana kita lihat 876 lagi duduk di posisi awal seperti waktu kita ketemu, sambil menggambar di kertas!
House of White, Part 2 : Paperwork
Benar-benar membingungkan apa yang ane alami. Panca dan Ririn juga kaget melihat 876 udah balik ke posisi asal di ruangan semula. Kita bertiga langsung balik ke ruangan awal dan menutup pintu di belakang kita. Sementara 876 mencoret-coret kertas seolah tidak terjadi apa-apa. Ane coba buka pintu di belakang ane lagi dan nengok ke dalam, kosong nggak ada apa-apa.
“kok bisa ya?” tanya ane
“ga tau deh” jawab Panca
“darimana dia bisa balik?” tanya ane lagi
baik Ririn maupun Panca sepertinya nggak bisa menjawab kebingungan ane. Ya mereka sendiri juga bingung keliatannya. Pelan-pelan tanpa dikomando kita bertiga mendekati 876.
“halo, bisa ngomong sebentar?” tanya ane ke 876
seperti sudah diduga dia tetap menggambar dan nggak peduli dengan pertanyaan ane.
“udahlah kita keluar aja, ngapain ngurusin dia” kata Panca rada ga sabar.
Entah dia nggak sabar atau sebenarnya dia takut dengan situasi aneh ini.
“iya gw setuju, kita keluar aja cari Mr. Kaspar” ajak Ririn.
Sebenarnya ane masih penasaran, tapi ya sudahlah. Ane juga ga mau sendirian di ruangan ini bareng si 876. Ririn keliatan membuka pintu keluar, tapi begitu dia ngeliat keluar dia keliatan terkejut.
“loh kok?” Ririn kebingungan
“kenapa Rin?” tanya ane
“liat sendiri deh” jawab Ririn
Ane dan Panca ikut mendekat ke arah pintu yang terbuka. Ane melihat itu bukan lorong menuju ke ruangan 876, tetapi ruangan putih , sama seperti ruangan tempat 876 tadi menghilang.
“astaga, apa-apaan sih nih” Panca keliatan rada emosi
“kalau begini kita nggak bisa balik” kata Panca lagi.
“tahan pintunya Rin” kata ane ke Ririn. Ane lalu bergerak ke arah pintu satu lagi. Ane penasaran. Waktu ane buka, isinya juga ruangan putih .
“Panca, coba dicek nih dua pintu ini cuma mengarah ke ruangan kosong” ane minta Panca mastiin yang ane lihat.
Panca melihat ke ruangan di pintu yang dibuka Ririn, terus dia berjalan ke arah ane dan melihat ke ruangan yang pintunya ane buka. Panca keliatan agak panik. Sepertinya dia juga nggak habis pikir dengan berubahnya ruangan di dekat pintu masuk.
“nggak jelas nih” kata Panca sambil berjalan ke arah 876.
“kita jangan sampai kepisah, kalo pintu ruangan ditutup dan dibuka, ada kemungkinan ruangan di dalamnya berubah” Ririn mencoba melakukan analisis.
“iya gw setuju” ane mendukung pendapat Ririn.
“kuncinya ada di dia nih” kata Panca sambil nunjuk ke 876
“kita gebuk aja gimana” Panca keliatan mulai nggak sabar
“jangan” cegah Ririn
“gini aja, ambil pulpennya lagi, tapi masing-masing dari kita jaga pintu, jadi kalau dia menuju pintu kita cegah supaya dia nggak bisa masuk, terus kita liihat apa yang terjadi” Ririn memberikan usul yang menurut ane bisa dicoba.
“ok , gw dan Panca akan jaga pintu-pintu ini, lo ambil pulpennya Rin” kata ane sambil nyuruh Panca jaga “pintu masuk” sementara ane di pintu yang ane sangka pintu WC. Ririn kelihatan bergerak dengan hati-hati mendekati 876. Mukanya tampak tegang.
“tenang Rin, kalo ada apa-apa gw bantu” Panca keliatan berusaha menenangkan Ririn.
“maaf ya” Ririn lalu dengan cepat mengambil pulpen yang dipakai 876. Lalu Ririn buru-buru menjauh dan mendekat ke Panca. Sementara 876 duduk diam melihat ke kertas yang sudah dia gambar-gambar. Ane juga deg-degan menunggu ke arah mana dia akan bergerak. Apakah ke pintu yang ane jaga, atau ke arah pintu di dekat Panca dan Ririn.
“dia nggak gerak” kata Panca memecah keheningan
“gimana nih?” tanya Ririn. Dari suaranya dia terdengar ketakutan
“tunggu aja dulu” jawab ane. Sebenarnya ane juga nggak ngerti dengan situasi yang sedang terjadi. Ane yakin ini terjadi di dunia nyata.
“Rin, coba ambil kertas-kertasnya,terus buang ke ruangan sebelah” kata ane ke Ririn.
“ga berani gw” jawab Ririn.
“ya udah lo gantiin gw jaga pintu” kata ane lagi.
“gw aja yang ambil kertasnya, Rin lo jagain pintunya ya” kata Panca sambil bergerak menuju ke 876
Waktu Panca mau ngambil kertas yang lagi dilihat sama 876 , tiba-tiba telapak tangan 876 nahan kertas itu. Panca keliatan kaget dan melangkah mundur.
“876” 876 tiba-tiba menyebutkan namanya.
dari suaranya ane baru tahu kalau dia perempuan. Ya karena memang wujudnya nggak jelas. Dia pakai baju putih-putih , kemeja kaku wara putih, celana panjang putih , dan rambutnya pendek.
ane juga dengar walau agak samar-samar, suara goresan pena ke kertas. Tapi bukan dari 876 di depan ane. Ane nengok ke ruangan di belakang ane dan ane lihat ada sosok mirip 876 lagi duduk di kursi dan menggambar di atas kertas yang ada di meja. Ririn terdengar menjerit terkejut, ane rasa dia dan Panca juga melihat hal yang sama di belakang pintu terbuka yang mereka jaga.
House of White, Part 3 : Middle
Kondisinya sekarang semakin rumit, ada tiga orang 876 di tiga ruangan berbeda. Yang dua orang lagi gambar, yang satu lagi berdiri, seperti menatap kosong ke arah Panca. Ane tetap berusaha berpikir untuk memecahkan hal ini. Ririn sesekali nengok ke ruangan di belakangnya, memastikan memang ada 876 lain disana. Panca yang tadinya keliatan berani sekarang lebih banyak diam.
Kalo yang ane pikir 876 ini mungkin bukan manusia. Atau manusia tapi punya kemampuan khusus. Selain gambar oval di kertas, nggak ada gambar-gambar lain. Dugaan ane sih dia gambar UFO.
“kita kekunci disini nih” kata Ririn
“ga ada ide gw” Panca menanggapi
Sekarang si 876 sudah duduk lagi dan mulai menggambar. Jadi kalau dilihat sekeliling, seluruh 876 lagi gambar di ruangan masing-masing. Bedanya di ruangan lain nggak ada ane , Ririn dan Panca. Kalo diperhatikan para 876 ini melakukan gerakan yang sama waktu menggambar.
“tutup aja pintunya” ane nutup pintu di belakang ane
Ririn juga keliatan melakukan hal yang sama.
“kalo dibuka lagi pasti 876 di ruangan lain udah ga ada” ane asal nebak, tapi dugaan ane seperti itu sih.
Dan memang waktu ane buka pintu di belakang ane , 876 disana udah nggak ada, yang ada cuma ruangan kosong. Ririn melakukan hal yang sama dan sepertinya dia juga ngeliat ruangan kosong di belakangnya.
“sepertinya ini semacam pecahan dimensi pararel. Ada pergerakan ruang dan waktu secara parsial” Ririn mencoba melakukan analisis.
“876 ini terjebak di dimensi waktu tertentu, dia cuma bisa melakukan hal-hal yang sama berulang-ulang. Kehadiran kita kesini agak mengacaukan sekuens yang dia lakukan, makanya tercipta ruangan dan episode lain untuk mempertahankan sekuens yang ada” lanjut Ririn.
“berarti kita ikut terjebak bersama si 876 ini, ruangan-ruangan di sebelah cuma dimensi bentukan untuk mempertahankan sekuens si 876” ane menyimpulkan.
Panca kayaknya nggak sreg dengan kata “terjebak”
“artinya mau kita ngapain juga disini, sebenarnya waktu dan tempat di ruangan sebelah tetap menangkap episode yang sama, yaitu si 876 lagi menggambar” Ririn menambah penjelasannya.
“dimensi pararel ini muncul sejak kita masuk kesini, tapi selain kita kan ada Mr Kaspar” kata ane mengingatkan
“harusnya kehadiran Mr Kaspar juga mengganggu sekuens yang ada” ane nambahin lagi.
“kita udah ke dua ruangan di sebelah tapi enggak ada siapa-siapa” kata Panca. “dimana si Mr Kaspar?” tanya Panca , walau dia tahu nggak ada diantara kita yang bisa jawab pertanyaannya.
“kita harus bikin sekuens yang nggak mungkin” Ririn sepertinya punya ide.
“Panca, lo coba tarik kertasnya, nanti pasti dia akan berdiri lagi, dan kalau kita buka pintu-pintu yang ada, akan muncul 876 lainnya. Kita usahakan ada dua atau lebih 876 di satu ruangan atau dimensi, itu hal yang nggak mungkin terjadi”
“bener juga Rin” Panca mendukung ide Ririn
Ane juga mengangguk setuju. Walau ane ga tau juga apa yang akan terjadi nantinya. Semoga bukan suatu hal yang lebih gawat.
Panca lalu mengulangi tindakan dia sebelumnya, dia mencoba menarik kertas yang lagi digambar sama 876. Dan memang kemudian 876 menahan kertas itu. Panca melangkah mundur ke belakang. Dan kita bisa dengar
“876” suara itu keluar dari si 876.
Ane cepat-cepat buka pintu di belakang ane, begitu juga Ririn. Dan benar ternyata di dua ruangan itu sudah ada 876 yang sedang menggambar di kertas.
“ingat tiap masuk ruangan pintunya ditahan aja, karena dia akan tertutup otomatis, jangan sampai kita terpisah” ane mengingatkan
“gimana mindahin 876 yang di sebelah?” tanya Panca
“tarik paksa aja” jawab ane
Panca lalu masuk ke ruangan yang pintunya dijaga sama Ririn. Ane bisa denger sih suara-suara berisik.
“Gimana Rin?” tanya ane, karena ane ga bisa lihat ke ruangan itu
“lagi ditarik” jawab Ririn.
“ngelawan ga?” tanya ane lagi
“kayaknya nggak tuh” jawab Ririn sambil ngeliat ke ruangan yang ada si Panca.
Ga berapa lama ane bisa dengar suara Panca.
“Rin, bantu tarik tangannya” Panca minta bantuan Ririn.
Kayaknya dia udah sampai dekat pintu yang dijaga sama Ririn.
“Susah” kata Ririn, dia kelihatan berusaha mengulurkan tangan tapi agak nggak sampai ke yang dituju.
“tetap jaga pintunya Rin” ane mengingatkan, ane ga mau sampe terpisah dari mereka. Keliatan banget sepertinya Panca dan Ririn bersusah payah untuk narik 876 untuk masuk satu ruangan dengan 876 lainnya. Sementara 876 yang di ruangan tengah kelihatan diam saja. 876 yang di ruangan belakang ane tetap gambar-gambar dan nggak memperhatikan kejadian di ruangan lain.
“dikit lagi” ane dengar suara Panca, sepertinya hampir berhasil dia membawa 876 dari sana ke ruang tengah.
“dorong aja!” seru Ririn ke Panca.
dan memang beberapa saat kemudian ada sosok 876 lain terdorong masuk ke ruangan, disusul dengan Panca di belakangnya. Dan kita semua menanti apa yang selanjutnya bakal terjadi. Pertemuan dua sosok 876 di dalam ruangan yang sama.
Andaikan analisis Ririn benar pun, ane nggak tau akan terjadi apa.
House of White, Part 4 : Flip
Dalam sekedipan mata muncul kilatan cahaya yang membuat penglihatan jadi nggak jelas. Selanjutnya terdengar semacam dentuman keras. Ane nggak bisa dengar suara Ririn maupun Panca, ane juga nggak bisa melihat apa-apa , mata ane saat itu seperti abis melihat blitz. Kejadian ini hanya berlangsung beberapa detik. Tapi ane juga ga mastiin sih berapa lama.
Waktu ane sadar, ane berada di ruangan yang gelap. Anehnya setiap ane coba melangkah lantai yang ane injak bercahaya.
“Panca? Ririn?” ane coba manggil dua teman ane. Tetapi nggak ada jawaban. Beberapa kali ane coba pun nggak ada suara yang menjawab. Ruangan ini sepertinya sangat besar. Ane lalu coba berjalan agak cepat untuk mencapai sisi ruangan. Ane mau mencari pintu keluar.
Kira-kira setelah lebih dari dua puluh langkah ane bisa menemukan dinding ruangan. Dindingnya dingin seperti terbuat dari logam. Darisana ane menyusuri dinding itu, berharap bisa ketemu ruangan atau pintu. Sesekali ane juga coba manggil Ririn dan Panca. Dalam penyusuran ane akhirnya ane nemu semacam pintu.
Saat ane geser, ane seperti terjatuh ke bawah. Dan memang ane jatuh terduduk di suatu tempat yang sepertinya ane pernah kesana. Udaranya dingin dan banyak pohon pinus. Dari tempat ane duduk , ane bisa lihat tugu berwarna putih. Ah! itu tugu Soekarno. Ane akhirnya ingat bahwa ane berada di area hutan di Puncak Pass.
“Ririn? Panca?” ane coba manggil teman-teman ane. Tapi tetap nggak ada jawaban. Dari jauh ane bisa mendengar ada suara anak-anak. Karena penasaran ane coba berjalan ke arah suara itu, berharap ketemu orang yang mungkin bisa membantu ane. Lumayan kaget ane waktu agak mendekat ke arah suara ane lihat anak-anak yang main bola itu seperti ane waktu kecil lagi main sama anak misterius. Bola metaliknya juga sama.
Ane coba melangkah lebih dekat tapi ane seolah-olah nabrak dinding yang enggak terlihat. Waktu ane lihat sekeliling, ane cuma melihat ada kotak dari logam di atas langit, nggak terlalu tinggi jaraknya dari kepala ane. Sepertinya ane jatuh darisana tadi. Ane coba manggil anak-anak itu tetapi mereka seperti nggak mendengar suara ane.
“hey naik!” ada suara orang manggil ane. Arahnya dari kotak besi yang melayang itu. Nggak terlalu jelas wujud orang tersebut.
“cepat!” katanya lagi. Ane bisa melihat ada tangga dari logam berkilauan diturunkan dari kotak itu.
Ane lalu lari menuju tangga itu. Pelan-pelan ane manjat tangga itu dan naik menuju ke dalam kotak. Orang yang manggil ane masih nggak kelihatan, mungkin dia ada di dalam kotak . Waktu ane akhirnya sampai dan berhasil masuk lagi ke dalam kotak. Ane sadar ada perubahan di dalam kotak tersebut.
Ane melihat sekeliling ane berwarna putih, seperti waktu di dalam House of White. Ane juga bisa melihat lorong tempat Mr Kaspar mengantar ane bersama teman-teman ane menuju ruangan tempat 876 berada. Ane lumayan lega bisa kembali ke tempat semula. Tetapi ane masih kuatir dengan kondisi Ririn dan Panca. Entah dimana mereka.
Ane coba manggil-manggil Ririn, Panca dan Mr Kaspar. Sama seperti sebelumnya, nggak ada jawaban. Ane coba berjalan menyusuri lorong , melewati pintu-pintu di sisi lorong itu. Ane nggak berani buka pintu-pintu itu, takut nanti malah ane muncul di tempat yang ane nggak kenal. Di ujung lorong ada sebuah pintu yang sepertinya ada cahaya terang di dalamnya. Karena dari sisi maupun bawah pintu terllihat ada kilau cahaya.
Karena penasaran, ane buka pintu itu dan masuk ke ruangan di dalamnya. Ternyata pintu itu menuju ke luar gedung. Ane bisa dengar suara burung berkicau. Di depan ane ada taman berwarna hijau yang rumputnya dipotong rapi. Disana ada kursi taman dimana ane bisa melihat Mr Kaspar lagi duduk disana.
Ane juga melihat Ririn berdiri di dekat situ, dia keliatan lagi nangis.
“Rin!” panggil ane
waktu dia ngeliat ane, dia langsung lari dan meluk ane
“gw ga tahan, gw mau pulang” kata Ririn. Dia nangis sesenggukan.
Mr Kaspar melihat ke arah kami dengan tatapan dingin.
“Panca mana Rin?” tanya ane
“gw nggak tau, gw takut” jawab Ririn.
“Bentar Rin” ane lalu berjalan ke arah Mr Kaspar
“Mr Kaspar, Panca dimana?” tanya ane.
Mr Kaspar nggak ngasih jawaban, tetapi dia nunjuk ke pintu di belakang ane. Tempat ane keluar menuju taman. Ane melihat pintu itu perlahan terbuka. Panca terlihat memasuki area taman dengan tergesa-gesa.
Dia keliatan terburu-buru dan langsung nyamperin Ririn. Ane juga berbalik jalan ke arah teman-teman ane.
“lo gapapa?” tanya ane
“gw nggak apa-apa” jawab Panca
Dari penglihatan ane , secara fisik kayaknya Panca maupun Ririn baik-baik aja. Nggak ada luka atau cedera.
” L, sepertinya mereka lebih baik daripada Albert dan teman-temannya” terdengar suara Mr Kaspar berbicara.
Sepertinya dia bicara sama Kak L,, tapi ane sendiri nggak melihat Kak L ada dimana.
” kalian benar-benar pilihan” kata Mr Kaspar ke arah kami bertiga.
“Cukup! saya mau pulang! ” Ririn agak berteriak ke Mr Kaspar
ane bisa merasakan Ririn sangat erat memegang lengan ane.
Panca kelihatan lebih tenang , tapi dia nggak berkomentar apa-apa.
House of White, Part 5 : Decision
“Dasar anak-anak baru, baru begitu sudah mau mundur”
kalimat itu diucapkan oleh seseorang yang entah muncul darimana. Dia datang berjalan dan berdiri di samping Mr.Kaspar
“Apakah generasi baru di organisasi mentalnya seperti ini?” tanya orang itu ke Mr Kaspar.
“Zahra, bagaimana kondisi 876?” tanya Mr. Kaspar pada orang yang ia sebut Zahra. Seorang perempuan dengan wajah Timur Tengah.
“876 stabil”, jawab Zahra
“nona yang ingin pulang, apakah ini bisa diartikan sebagai pengunduran diri dari organisasi?” tanya Zahra
Ririn masih menangis di samping ane.
“tolong pertanyaan saya dijawab” desak Zahra
Zahra dari penampakkannya seperti tidak terlalu jauh beda umurnya dari kita bertiga, bahkan mungkin masih seumuran. Tetapi kelihatan sikapnya tegas, berbading terbalik sama Kak L.
“maaf , saya ingin kehidupan yang normal saja” jawab Ririn pelan.
“oh begitu? maksud kamu, kamu ingin kembali ke masa dimana kamu tidak diakui siapapun walaupun kamu memiliki kecerdasan yang luar biasa? atau kamu memang merasa lebih nyaiman ketika kamu jadi sasaran untuk dihina orang lain?” Zahra mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tajam.
Ririn kelihatan tidak menanggapi lagi. Panca sepertinya mau bicara sesuatu tetapi dia kelihatan ragu.
“Performa kalian sangat baik dan tidak diragukan lagi, kalian akan menjadi penerus di organisasi” , Mr Kaspar tampak memecah situasi yang menegangkan.
“tetapi semua kembali kepada keputusan kalian, ingin berhenti atau melanjutkan”, Mr. Kaspar menyelesaikan kalimatnya sambil menatap ke arah kami bertiga.
“tenangin diri dulu Rin”, ane berusaha agar Ririn nggak membuat keputusan karena emosi sesaat.
“maaf gw udah nggak mau lanjut lagi” kata Ririn ke ane dan Panca. “maafin gw ya teman-teman”
Ane sebenarnya sedih juga kalau Ririn mundur dari organisasi. Karena ane bakal kehilangan rekan lagi, setelah Febby dan Albert. Tetapi di sisi lain ane juga kasihan ngeliat kondisi si Ririn, sepertinya dia shock karena pengalaman yang baru kita alami. Ane nggak tahu sih setelah kepisah tadi apa yang dialami Ririn maupun Panca.
“mungkin kita perlu bicara dengan L mengenai hal ini” kata Mr. Kaspar
“saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi” , Zahra dengan tegas menanggapi.
“anak muda jaman sekarang memang harus belajar menghormati yang lebih senior”
ane mendengar suara Kak L mengatakan itu. Ekpresi wajah Ririn dan Panca kelihatan lebih santai mengetahui Kak L ada di dekat sana.
Dan memang benar, Kak L kelihatan baru keluar dari gedung di belakang kami. Melihat Kak L, Ririn langsung berlari dan memeluk Kak L.
“Ririn takut kak” kata Ririn di pelukan Kak L
Kak L kelihatan tenang dan membelai rambut Ririn.
“tenang ya sayang” kata Kak L sambil menatap ke Ririn.
“drama” kata Zahra singkat melihat adegan yang terjadi antara Kak L dan Ririn.
“Ririn percaya sama Kak L?” tanya Kak L lembut
“iya Kak L” jawab Ririn singkat
“Ririn mau kan , bantu Kak L di organisasi?” tanya Kak L lagi
kali ini Ririn diam saja , tidak memberikan jawaban.
“Ririn sayang nggak sama Kak L? ” Kak L kembali nanya ke Ririn
“sayang kak, Ririn sayang banget” jawab Ririn sambil menyeka air matanya
“kalau Ririn sayang sama Kak L, Ririn tetap mau di organisasi kan?” tanya Kak L mengarahkan.
“drama yang memuakkan” Zahra berkomentar
“hai anak-anak baru, kalian tahu apa itu surface department kan? isinya dipenuhi orang bermulut manis” Zahra menyindir Kak L
Ane juga tahu sih, sikap Kak L selama ini terlalu baik. Tetapi bagaimana juga selama ini Kak L nggak pernah terlihat melakukan hal yang negatif untuk kami bertiga. Panca kelihatan nggak suka dengan kata-kata Zahra.
“Baiklah L, mereka bertiga bisa lanjut ke tingkat berikutnya. Tetapi keputusan tetap di tangan mereka” kata Mr. Kaspar ke Kak L, dia lalu berdiri dan berjalan ke arah taman. Tidak lama kemudian Zahra menyusul langkah Mr. Kaspar.
Tetapi sebelumnya dia mengatakan sesuatu yang ditujukan ke Panca
“sepertinya kamu tidak lebih baik dari orangtua kamu”
“Anda pernah bertemu mereka?” tanya Panca. Tetapi Zahra tidak memberi jawaban dan terus melangkah mengikuti Mr Kaspar.
Panca mencoba mengejar Zahra , tetapi Kak L mencegah
“jangan Panca” kata Kak L memperingatkan.
Kami lalu duduk di kursi yang ada di taman. Kehadiran Kak L seperti menghilangkan nuansa aneh dari House of White. Kami bercerita hal-hal yang sudah kami alami. Ririn juga kelihatan sudah jauh lebih tenang, meskipun belum banyak berbicara. Dia juga tidak membahas mengenai niatnya untuk berhenti dari organisasi.
Dari tempat ane duduk, ane bisa lihat bangunan misterius dengan pintu-pintu anehnya. Ane nggak berani menebak-nebak, selain 876 ada mahluk apalagi disana. Siapa 876 sebenarnya juga ane masih penasaran, apakah dia manusia atau mungkin dia mahluk dari planet lain.
“yang penting kalian tidak celaka” Kak L menyimpulkan dari cerita yang ane dan Panca katakan. Ririn memang belum mau cerita saat itu.
“Kak L akan ceritakan beberapa hal yang perlu kalian ketahui, tapi mungkin tidak sekarang” Kak L sepertinya tahu bahwa kami masih sangat penasaran dengan hal-hal yang terjadi di House of White.
Where is Our Table? Part 1 : All Out
Dapat dikatakan kalau ini salah satu masa paling sibuk yang dihadapi oleh organisasi. Sebenarnya ini hanya masalah “kecil”, tetapi bisa berdampak fatal kalau dibiarkan. Hampir seluruh anggota organisasi dari tiap cabang diturunkan, hanya untuk melacak keberadaan sebuah meja berlaci 6 yang terbuat dari kayu.
Bukan mejanya yang istimewa, tetapi isi di dalamnya. Mahluk luar angkasa yang berhasil ditangkap beberapa hari lalu ternyata sempat menyembunyikan “sesuatu” di dalam laci meja. Saat itu tim berhasil meringkusnya di sebuah pameran furniture. Selang beberapa hari organisasi berusaha melacak keberadaan meja tersebut, tetapi sepertinya sudah berpindah tangan. Lagipula meja seperti itu ternyata tidak hanya satu tetapi ada beberapa buah.
Yang mempersulit lagi ialah si mahluk luar angkasa tidak mau mengatakan secara detail deskripsi meja tempat ia menyembunyikan barang itu. Ia hanya mengatakan meja berlaci 6 terbuat dari kayu. Sejauh ini beberapa peserta pameran sudah didatangi oleh perwakilan organisasi untuk mencari meja yang dimaksud, namun ketika menemukan meja yang dideskripsikan , tidak ditemukan barang yang tersembunyi.
“sejauh yang gw tahu, barangnya masih belum keluar dari meja, karena kalau sampai dikeluarkan dari laci pasti alarm darurat akan berbunyi” Amy memberitahu ane dan rekan-rekan di dalam tim.
“tugas kita untuk melacak di area 12, disini banyak orang yang berjualan furniture” kata ane
“yup, karena itu kita bagi tugas” Amy menanggapi kata-kata ane
“jangan lupa tetap waspada dan buka laci meja sesuai prosedur” Amy mengingatkan.
“iya ini kan bahaya tingkat tinggi, sampai para pejabat ikut turun” Panca menambahkan.
“jadi kita pura-pura belanja nih?” tanya Ririn agak bercanda
“ya lakukan aja semaksimal yang kalian bisa” jawab Amy.
Di beberapa wilayah, Mr Kaspar, Kak L, Zahra, Robin, dan petinggi-petinggi lain ikut berusaha melacak keberadaan benda yang dimaksud. Tentunya mereka khawatir kalau benda itu sampai jatuh ke tangan organisasi lain, atau ke musuh bebuyutan mereka, si Dragon Lady.
Ane bareng dengan Ririn dan Putra mulai masuk ke salah satu tempat usaha mebel yang berada dalam daftar yang diberikan organisasi. Disana kami disambut seorang pegawai.
“meja berlaci 6 yang ada di pameran?” tanya si pegawai berusaha meyakinkan.
“iya benar Pak, apakah masih ada?” Putra balik bertanya
“O masih tuh di dalam ada” pegawai itu meminta kami ikut ke bagian belakang bangunan.
Memang benar disana ada sebuah meja berlaci 6.
“Kita lihat dulu ya” kata Putra
“Silahkan” jawab si pegawai tanpa rasa curiga
Ane, Ririn dan Putra berjalan mengelilingi meja.
“mungkin disini?” tanya Putra pelan
“coba discan aja”” usul Ririn
Kemudian ane mengeluarkan alat yang diberikan oleh tim Riset. Si pegawai keliatan heran melihat alat itu.
“ini buat ngukur Pak” kata ane jelasin
“boleh kan Pak?” tanya ane
“eh….silahkan” jawab pegawai itu ragu-ragu
Alat lalu mulai dinyalakan, dan dari scanner tersebut tidak tertangkap ada isi yang mencurigakan di dalam setiap laci meja. Tanpa ragu Putra mulai membuka satu persatu laci dan memang tidak ada apa-apa di dalamnya.
“gimana mas?” tanya pegawai itu ke ane
“hmm kayaknya masih kurang cocok” jawab ane beralasan.
Ririn dan Putra keliatan lega sekaligus kecewa juga. Lega karena kami nggak perlu nanganin yang macam-macam, tapi kecewa karena kita nggak dapat hasil apa-apa. Kami pun lalu pamit untuk pergi ke tempat lain.
“tunggu!” si pegawai berseru
“ada apa Pak?” tanya Ririn
“sebenarnya kemarin ada 1 meja lagi, waktu mau dibuka lacinya agak sulit, saya pikir rusak. Tapi udah terlanjur dibeli sama orang” pegawai itu menjelaskan.
“di lacinya ada isinya Pak?” tanya ane penasaran
“iya, kalau mejanya digeser, seperti ada yang bergerak, tapi karena kita lagi sibuk, mungkin isinya sisa bahan atau sesuatu, jadi nggak ada yang meriksa lagi” pegawai itu menambahkan penjelasannya.
“sekarang ada dimana mejanya?” tanya ane
“wah harus dicek dulu kemarin sudah dijual kemana” jawab pegawai itu. Keliatannya dia agak curiga dengan kegiatan yang kami lakukan.
Kami pun berusaha bernegosiasi dengan sabar supaya mendapat informasi lebih lanjut. Kami yakin itu meja yang dicari. Sejauh ini kontak kami dengan tim lain pun belum ada yang menyatakan berhasil menemukan benda itu. Kabar yang sudah didapat adalah adanya pergerakan dari orang-orang di luar organisasi yang menanyakan keberadaan meja itu di beberapa tempat yang juga didatangi oleh tim dari organisasi.
benar-benar kami harus berpacu dengan waktu
Where is Our Table? Part 2 : Klik!
Setelah mendapatkan informasi yang cukup akurat, kami bertiga segera pergi ke lokasi berikutnya. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menuju tempat tersebut. Tempat itu berupa gudang dengan ukuran yang cukup besar. Di halamannya terlihat beberapa pekerja sedang beristirahat.
“Meja? yang mana ya?” tanya salah satu pekerja yang kami temui
“yang berlaci 6 mas yang kemarin baru diambil dari tempatnya Pak Tarmizi” Putra menjelaskan
“Ooo yang itu, kalau mau lihat ada tuh di belakang” kata si pekerja
“Ya kalo nggak ngerepotin kita mau lihat bentar” kata Putra sambil mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan.
Melihat tindakan Putra, si pekerja tampak bersemangat mengantar kami melihat meja itu.
“Ini nih mejanya” si pekerja nunjukkin meja itu ke kita bertiga
“Ditinggal aja mas, gapapapa, kita cuma ngukur bentar” kata Putra sambil memberikan uang.
Nggak lama kemudian pekerja itu pergi meninggalkan kita bertiga.
Tanpa diminta Ririn melakukan scanning terhadap meja itu. Terdengar bunyi yang berbeda keluar dari peralatan yang digunakan oleh Ririn, yang menandakan adanya sesuatu di dalam meja.
“kita beli aja, terus angkut” usul Putra.
“sebelumnya kabarin dulu tim lain” kata ane sambil mencoba menghubungi tim lain.
Belum selesai kami berbicara, terdengar suara berderak keras dari dalam meja. Ririn yang terkejut langsung mundur beberapa langkah. Sementara Putra dengan cepat meraih tasnya, ane juga melakukan hal yang sama. Kita berniat mengeluarkan alat kejut listrik.
Brakk!! terdengar suara keras. Tidak lama kemudian Ririn menjerit tertahan. Ane dan Putra bisa melihat jelas ada sesosok mahluk di belakang Ririn. Mahluk itu menyerupai manusia tetapi dipenuhi warna hitam. Dia terlihat jelas sedang menodongkan pistol ke kepala Ririn.
“kejutan” kata mahluk itu singkat
“tahan bung” Putra memperingatkan
“oh ya? tenang saja, revolver ini hanya berisi satu peluru, kalau teman kalian beruntung, dia tidak akan kenapa-kenapa” mahluk itu menjelaskan sambil tetap mengarahkan pistol ke Ririn.
“tetapi kalau dia tidak beruntung, kita bisa segera melihat isi kepalanya”
Ane dan Putra nggak berani bertindak gegabah. Ririn kelihatan sangat ketakutan.
“bagaimana kalau kita coba tembakan pertama, apakah pistol ini akan meletus atau tidak?” mahluk itu menawarkan
“jangan” kata Ririn memohon.
“senjata dari Bumi memang menarik” kata mahluk itu sambil bersiap menekan pelatuk pada pistol. Dengan cepat dia memindahkan arah pistol ke Putra sambil menekan pelatuk.
Klik! Pistol tidak meletus, kemudian dia kembali mengarahkan pistol ke Ririn.
“kamu beruntung” katanya ke Putra
“kalian bisa segera maju menyerang saya kalau mau, barangkali 3-4 kali pelatuk bisa saya tekan dan pistol tidak meletus” katanya lagi
“tetapi bisa jadi pistol langsung meletus begitu kalian bergerak, sekali lagi ini tergantung pada keberuntungan”
“kamu mau apa?” tanya Ririn
“saya hanya ingin main-main” jawab si mahluk
“kita bisa selesaikan ini baik-baik” ane berusaha membujuk
“Diam!” katanya berseru sambil menekan pelatuk
Klik! lagi-lagi pistol tidak berbunyi
Ane lega, tapi juga takut, karena kemungkinan besar pistol akan mengeluarkan peluru pada kesempatan berikutnya.
“sekarang kemungkinannya 1 banding 4” kata mahluk itu sambil tersenyum
Ririn kelihatan pucat. Putra juga tidak bisa berbuat banyak . Begitu juga dengan ane. Kami dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan.
“kecuali ada yang bisa bergerak lebih cepat daripada peluru, mungkin kalian bisa memenangkan permainan ini” mahluk itu menjelaskan sesuatu yang tidak mungkin bisa kita lakukan.
“saya ada tawaran menarik, kamu lumpuhkan teman kamu dengan alat kejut yang kalian punya, sebagai imbalan saya akan menembak satu kali ke ruang kosong, siapa tahu tembakkan berikutnya akan mengeluarkan peluru” mahluk itu menawarkan ke ane untuk melumpuhkan Putra dengan alat kejut listrik.
“sial” kata Putra singkat. “lo lakuin aja yang dia mau” kata Putra ke ane
“lu gila Put” ane agak keberatan
“hahahah….kamu lebih milih perempuan ini mati ” mahluk itu mencoba memprovokasi ane.
“nih cepet!” kata Putra menyerahkan alat kejut listrik yang sudah diaktifkan ke ane.
Si Ririn menatap ane dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya ini pilihan yang berat buat ane. Posisi ane dan Putra terlalu jauh untuk menyerang mahluk itu. Ririn juga berdiri membelakangi revolver sehingga sulit buat dia untuk melakukan pergerakan.
“bagaimana? atau saya tembakkan ke kepala perempuan ini?'” mahluk itu mencoba mengancam ane. Ririn kelihatan menutup matanya, dia ketakutan. Ane merasa sangat nggak berguna, padahal setelah insiden sebelumnya ane berjanji buat ngelindungin dia.
Where is Our Table? Part 3 : Last Words
Dengan terpaksa ane sentuhkan alat kejut ke badannya Putra. Seketika itu juga dia bergerak tidak beraturan seperti orang kejang, dalam waktu beberapa detik dia langsung terjatuh ke lantai. Ririn kelihatan menangis dan berlutut. Sementara si mahluk menembakkan pistol ke arah samping.
“Klik” ternyata pistol masih belum meletus
“Sial” kata ane singkat
” wah wah wah, ternyata masih belum beruntung, kemungkinannya sekarang tinggal 1 banding 3″ si mahluk itu seakan mengejek ane dan Ririn
“Brengsek” ane mengumpat
“sabar , karena ada 3 kesempatan lagi, bagaimana kalau kita bagi rata, 1 akan saya tembakkan ke arah saya sendiri, satu ke kamu dan satu lagi ke perempuan ini, bagaimana?” lagi-lagi dia memberi tawaran gila.
Tapi tawaran kali ini berarti ada kemungkinan dia akan tertembak pistolnya sendiri.
“Siapa mau jadi sasaran pertama?” mahluk itu bertanya
Ririn terdiam nggak menjawab, begitu juga dengan ane.
“Ok, kalo gitu ,saya coba duluan” dia lalu membuat keputusan sendiri
Ane dan Ririn pastinya berharap dia akan tertembak pelurunya sendiri.
Gerakan mahluk ini juga sangat cepat, andai pistol tidak meletus dia segera mengarahkan ke Ririn.
Seperti dugaan ane, dengan cepat dia mengarahkan pistol ke kepalanya, menekan pelatuk, lalu….
“Klik!” ternyata tidak meletus dan dia kembali mengarahkan pistol ke Ririn
“Wah ternyata saya yang beruntung” katanya sambil tersenyum
Ane benar-benar kesal. Saat itu ane berharap ada bantuan, tapi sepertinya percuma karena ane belum sempat kontak siapa-siapa.
“Berapa kemungkinannya sekarang?” tanya dia
Ririn terdengar menangis terisak
“Berapa!?” katanya membentak
“Giliran siapa sekarang?” tanyanya dengan nada suara yang kembali tenang
“Biar gw ambil dua-duanya” jawab ane.
Ane pikir biar aja lah ane yang ketembak, kalo dua kan pasti salah satunya akan meletus dan kena ane.
“Hahaha….sok pahlawan, kalo gitu gimana kalo dua-duanya saya tembak ke dia” katanya sambil tetap mengarahkan pistol ke Ririn.
“anji*g lo, kalo berani tembak gw” kata ane berusaha mempengaruhi dia
“saya tau kamu akan lebih menderita kalau dia mati, daripada kamu yang mati” mahluk itu seakan tau apa yang ada di pikiran ane
“heh, kamu ada kata-kata terakhir?” tanya mahluk itu ke Ririn
Ririn yang sudah berlutut dan menutupi mukanya , kelihatan diam saja.
“ayo lah beri respon , biar semakin seru” kata mahluk itu lagi
Bagian ruangan ini sepertinya terlalu jauh dari tempat para pekerja tadi beristirahat. Dan apa yang terjadi disini kayaknya nggak terdengar sampai ke luar.
Emosi ane sebenernya sudah memuncak, tapi ane nggak mau sampai Ririn jadi korban. Si mahluk hitam ini kelihatannya senang mengintimidasi orang. Andai ada kesempatan pasti ane bunuh mahluk itu.
“Kamu kesini, berlutut di samping dia” mahluk itu memberi perintah ke ane
“atau kamu mau dua kali saya tembakkan ini ke dia?” tanyanya mengancam
Ane pun terpaksa nurutin kemauan mahluk itu, ane berlutut di samping Ririn , membelakangi mahluk itu. Ane benar-benar berharap dia nembak ane aja.
“Hm yang ini atau yang ini ya” terdengar mahluk itu berkata sendiri, dia seakan sedang menentukan siapa yang akan jadi sasaran berikutnya. Berarti entah tembakkan pertama atau tembakkan kedua akan keluar peluru sungguhan. Jarak mahluk itu ada kira-kira dua langkah di belakang ane dan Ririn, sehingga usaha untuk merebut pistol juga sepertinya akan sia-sia.
“Dor-dor-dor” dia pura-pura menembak
“Sebenarnya sayang juga kalau ini cepat berakhir, berarti tidak ada hiburan lagi buat saya” katanya dengan serius.
“Hei, kamu yang laki-laki, ada pesan terakhir ga?” tanyanya ke ane
“Kalau ada, cepat bilang, gimana juga saya masih menghargai orang yang mungkin bakal mati” lanjutnya
“ada, tapi lu bisa diem bentar ga” kata ane ke mahluk itu
“baiklah, cepat katakan, tidak usah mencoba mengulur-ngulur waktu” jawabnya dengan suara yang tenang.
“Ok” ane lalu menarik nafas dalam-dalam
Sebenarnya ini momen yang sangat konyol menurut ane. Tapi ya sudahlah daripada nanti ane keburu mati duluan, mending ane katakan aja.
“Rin, maafin gw ya, gw nggak bisa ngelindungin elu. Gw juga sampai saat ini kayaknya nggak bisa bikin elu bahagia. Malah sebaliknya kadang gw bikin lu kuatir. Gw juga minta maaf banget, waktu itu membujuk lo buat nggak keluar dari organisasi. Sekarang malah jadi begini” kata ane panjang lebar
Ririn kelihatan menyimak kata-kata ane sambil menatap ke lantai.
“Udah?” tanya mahluk itu enggak sabar
“Gw sayang banget sama lu. Andaikan nanti masih ada waktu buat kita, mau nggak lu jadi pendamping hidup gw?” tanya ane ke Ririn
Where is Our Table? Part 4 : Value
Kali ini suasana menjadi hening. Bukan hening menakutkan, tetapi hening agak aneh. Mahluk itu juga terdiam, sepertinya dia juga menunggu jawaban dari Ririn buat pertanyaan yang ane ajukan. Dia nggak terdengar mengolok-olok atau berkomentar. Kemudian ane bisa mendengar Ririn seperti mau mengatakan sesuatu.
“Tiarap!” ane mendengar suara Putra berteriak.
Dengan cepat ane merangkul Ririn untuk tiarap di lantai. Ane bisa melihat Putra melempar alat kejut listrik ke arah mahluk itu. Dan sepertinya lemparan dia mengenai si mahluk. Terdengar suara erangan kesakitan dari sosok di belakang ane.
Tanpa membuang waktu, ane langsung bangkit dan berusaha merebut pistol di tangan mahluk itu. Putra pun bergerak cepat ke arah mahluk itu sambil membawa baton stick.
Beberapa kali baton stick dipukulkan ke tangan si mahluk sampai ia melepaskan pistol. Ane yang udah emosi ikut menendang perut mahluk itu sampai dia terjatuh di lantai. Ane bisa melihat luka-luka yang timbul pada mahluk itu mengeluarkan cairan berwarna hitam.
Sebelum mahluk itu bangkit, beberapa kali ane menyepakkan kaki ane ke badannya. Tampak dia kesakitan dan nggak bisa bangun lagi. Putra mendekati ane dan berusaha menenangkan ane, tetapi ane udah kalap, ane merebut baton stick dari tangan Putra, dan langsung menghajar mahluk itu berkali-kali.
“Stop! Stop!” kata Putra mengingatkan ane. Tapi ane nggak mau berenti begitu aja, karena mahluk ini udah hampir membunuh Ririn.
Semakin banyak cairan hitam menggenangi lantai. Putra akhirnya mendorong ane sampai menjauh dari mahluk itu. Sementara mahluk itu sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Ane bisa melihat Ririn sedang berusaha menghubungi tim lain di organisasi, dia meminta bantuan untuk mengevakuasi mahluk itu.
Memang ketika ane menyentuhkan alat kejut listrik ke badan Putra, ane switch off dulu alat itu secepat mungkin sebelum kena ke si Putra. Dan Putra sendiri berhasil melakukan akting yang mengelabui mahluk itu.
“Gila, bisa mati dia” kata Putra ke ane
“Anji*g!” maki ane ke mahluk itu sambil ngelempar baton stick ane sekencang mungkin ke kepala mahluk yang sudah tergeletak di lantai.
“Udah woi!” seru Putra ke ane
“Sekarang kita pikirin gimana sembunyiin mahluk ini” kata Putra berusaha mengalihkan emosi ane.
Ane lalu mengambil terpal yang ada di ruangan itu buat nutupin sosok tubuh si mahluk hitam ini. Tapi nggak perlu menunggu lama sebelum orang-orang organisasi mulai berdatangan.
” Tugas kalian bukan membunuh alien, apa kalian enggak bisa mikir” kata Zahra setelah melihat kondisi mahluk itu. Beberapa anggota yang ada di dekat sana juga tampak kaget melihat kondisi mahluk yang sepertinya sekarat.
Sementara orang-orang dari tim surface kelihatan sedang bernegosiasi untuk membeli meja yang selama ini dicari. Mereka bernegosiasi sambil berusaha mengulur waktu agar kami bisa membersihkan ruangan yang berantakan sekaligus mengevakuasi si alien.
“Tim kalian akan dievaluasi” kata Zahra sambil menatap tajam ke arah kami bertiga
“Apa kalian tidak mengerti, kalau tiga nyawa kalian pun tidak ada harganya dibandingkan dengan nyawanya?” tanya Zahra
“Ya kami mengerti dan kami masih perlu banyak belajar” jawab Putra
“jangan sampai pekerjaan organisasi secara keseluruhan berantakan karena kalian tidak becus” Zahra masih meluapkan kekesalannya.
Ane sebenarnya nggak suka dengan kata-katanya, lebih tepat lagi ane nggak suka dengan prinsip organisasi yang menganggap mahluk luar angkasa lebih berharga daripada nyawa manusia di bumi, tapi ane waktu itu nggak mau cari masalah sama Zahra. Lagipula ane juga udah capek.
“Entah kenapa bukan Amy saja yang sampai disini duluan” kata Zahra lagi.
Beberapa orang lain yang ane kenal seperti Amy dan Panca juga kelihatan tidak berani memotong kata-kata Zahra.
Yah bagaimanapun juga ane bersyukur kalau kami semua bisa selamat. Nggak terbayang juga apa jadinya kalau tadi Putra tidak melemparkan alat kejut ke arah si mahluk. Mungkin ane atau Ririn udah tewas tertembak.
Setelah semuanya selesai kamipun bergerak keluar dari gudang. Si alien dan mejanya sudah diangkut lebih dahulu ke dalam sebuah mobil box berukuran besar. Ane, Ririn dan Putra yang meninggalkan gudang itu paling akhir.
“Hai dik, tunggu!” ane mendengar suara seseorang di belakang.
“Kalau nanti ada perlu mencari meja atau kursi, mampir-mampir aja kesini lagi” kata seorang laki-laki dengan logat Jawa yang khas. Walaupun saat itu baru bertemu, laki-laki kurus ini sepertinya familiar buat ane.
“Iya Pak, terimakasih” jawab ane. Dia kemudian terlihat berbicara dengan para pekerja disana. Mungkin dia pemilik atau boss di tempat itu.
Additional Line
MEMORY I : Anak Bule dan Bola Metalik
Di bagian ini ane mau cerita soal pengalaman ane di masa kecil. Waktu itu ane nginep sama keluarga ane di Puncak Pass. Ente pasti pada tau lah, itu penginapan yang masih alam. Banyak bungalow-bungalow dan ada hutan pinus di dekat sana. Selain keluarga ane, ada juga keluarga tante dan om ane. Ane waktu itu umur 5 tahun.
Kita nginep sekitar 3 hari kalo ga salah. Waktu itu siang hari setelah makan, ane, sama kakak-kakak ane main bareng para sepupu. Ane waktu itu agak bete karena pas main bola sepupu ane pada rada curang maennya. Karena males main lagi, ane ngajak kakak ane jalan-jalan muterin lokasi penginapan. Tapi kakak ane ga mau.
Ya udah ane jalan sendiri ke arah hutan pinus. Btw, hutan pinusnya ini ga bahaya , karena memang semacam hutan dan taman buatan gitu. Ane ingat disitu ada tugu yang ditandatanganin Presiden Sukarno, warna putih (beberapa kali ane kesana pas udah gede juga masih ada tugunya). Dari arah tugu ane main lebih dalam lagi ke tempat yang rada sepi.
Disitu ane ketemu dua anak kulitnya pucat, rambut pirang. Mereka lagi main bola, nah yang spesial itu bolanya kelap kelip warna biru terang. Kagetnya lagi mereka ngajak main ane, mereka bisa bahasa Indonesia
“main yuk sama kita!” ajak anak yang rada besar
“iya” ane waktu itu ok2 aja.
kemudian si anak besar nendang bola ke arah ane, pas ane mau tendang itu bola kayak bisa gerak ngehindarin kaki ane. Ane langsung diketawain sama anak-anak itu. Ane juga ikut ketawa sih.
Selama main bola aneh itu beberapa kali anak-anak itu teriak “Yoni!”
ane ga ngerti Yoni itu maksudnya apa, mungkin nama salah satu dari mereka. Lagi asik-asik main, mereka tiba-tiba berhenti. “ayo balik” anak yang lebih kecil bilang gitu. Kemudian mereka jalan menjauh dari ane, anak yang besar melambaikan tangan.
Terus ane liat mereka lari kencang banget, kayak naik tangga terus ilang di langit. Di atas langit ada cahaya terang banget, ane ga tau itu apaan. Nggak berapa lama sodara-sodara ane dateng nyamperin. Mereka nanya ane kemana dan ngapain aja. Ya ane bilang ane main sama anak-anak bule, terus anak-anak itu lari ke langit.
Jelas ane dibilang ngayal waktu itu. Orangtua ane juga pas diceritain bilang ane boong. Sedangkan ane sendiri sampe sekarang merasa itu pengalaman nyata. Kalo menurut teori psikologi katanya anak-anak memang bisa punya imaginary friends, alias teman khayalan.
Tetapi , besok harinya ane inget banget pas mau pulang, ada pegawai hotel bawa bola warna biru metalik, mau dibalikin ke ane. Katanya itu bola ane yang ketinggalan pas maen sama anak bule. Si pegawai ini liat ane main bola, dia pikir itu punya ane. Ortu dan sodara-sodara ane mukanya pada kaget waktu itu.
Ane rada takut kan, ane pikir itu barang gaib atau ada sihirnya, jadi ane bilang bukan punya ane. Akhirnya bola itu dipegang aja sama si pegawai hotel. Ga tau barang itu nasibnya gimana. Ane sempat diinterograsi sama keluarga ane, makanya sampe sekarang masih ingat kejadiannya.
Mereka sih bersyukur karena ane ga kenapa-kenapa.
Ane ga tau sih yang ane ketemu itu apakah alien yang terus naik UFO atau apaan. Yang jelas setelah peristiwa itu ane ada liat juga benda aneh di langit.
Mungkin karena ane pernah ketemu “mereka” jadinya ane dideketin sama organisasi.
MEMORY II : Waiting (1)
Bus menurunkan ane di sebuah stasiun yang kosong. Di dalam stasiun hanya ada 1 loket, dan ane bisa lihat ada semacam rel kereta di dekat peron. Suasana masih sepi, barangkali karena pagi hari. Tetapi sebenarnya ane juga ga tau ini pagi siang atau sore. Cahaya di stasiun itu bisa dibilang cukup terang.
Ane berjalan menuju loket, berharap ada orang yang bisa ngasih informasi. Disana ane lihat seorang kakek dengan baju seragam.
“pak saya mau beli tiket” kata ane
“maaf tiket tidak bisa dibeli, tetapi ditukar dengan tanda pengenal” katanya dengan agak heran ngeliat ane.
“tanda pengenal?” tanya ane
“iya, kamu punya tidak?” tanyanya balik ke ane
Ane coba periksa di saku celana ane, nggak ketemu apa-apa. Dompet pun nggak ada.
“nggak ada nih” kata ane
“hmm….tunggu aja” kata si kakek.
“kereta belum datang?” tanya ane
“belum” jawabnya
Ane lalu melangkah dan duduk di salah satu kursi yang ada di stasiun. Beberapa saat kemudian ane bisa lihat ada bus lain tiba. Kali ini penumpang yang turun lumayan banyak. Dan ane perhatikan, mereka seperti dari suku bangsa yang berbeda-beda. Dengan wajah senang, mereka menuju loket. Mereka kelihatan menukarkan sesuatu disana dan mendapat selembar tiket.
Melihat ini, ane datang ke salah satu dari mereka
“kok bisa dapat tiket?” tanya ane
“bisa, kan tinggal ditukar” jawab orang yang ane tanya, seorang laki-laki seumuran ane.
“ditukar pakai apa?” tanya ane lagi
“tanda pengenal” jawabnya
“tapi saya nggak punya tanda pengenal” kata ane
“wah aneh, kok bisa sampai disini?” tanyanya.
Ane juga ga bisa jawab sih kenapa bisa sampai stasiun itu. Yang jelas ane sebelumnya seperti lagi nunggu di halte, ada bus datang dan ane naik. Sama petugas di dalam bus waktu sampai stasiun ane langsung disuruh turun.
“kereta sebentar lagi datang” katanya waktu mendengar suara pengumuman dari pengeras suara
Dan memang benar, kereta datang tidak lama kemudian. Bentuknya sangat modern dan bagus. Orang-orang yang tadi sudah dapat tiket antri berbaris rapi . Ketika pintu kereta terbuka, satu persatu naik ke kereta. Petugas di dalam kereta tampak memeriksa tiket sebelum mereka masuk. Tinggal tersisa ane yang belum naik kereta.
“kamu nunggu apa?” tanya petugas di depan pintu kereta
“saya mau ikut naik tapi tidak ada tiket” jawab ane
“Oh ya?” tanyanya
Ane cuma ngangguk
Lalu petugas itu berseru manggil temannya. Mereka berbicara beberapa saat, membicarakan masalah ane.
“siapa nama Anda?” tanya rekan petugas yang tadi, dia seperti membawa daftar nama
“Anda tidak ada di dalam daftar” jawabnya waktu ane ngasih tau nama ane.
“maaf kereta sudah mau berangkat” kata petugas yang pertama ngomong ke ane. Dia lalu masuk ke dalam kereta bersama dengan temannya.
Kereta bergerak perlahan, dan kecepatannya bertambah menyusuri rel yang ada, lalu hilang di kejauhan.
Lagi-lagi tinggal ane sendiri di stasiun. Ane coba keliling stasiun, tetapi selain loket dan ruang tunggu, tidak ada apa-apa lagi. Ane merasa sepertinya ada sesuatu yang nggak beres.
Kemudian ane lihat si petugas tua datang ke arah ane.
“coba isi form laporan khusus” katanya sambil menyodorkan alat tulis dan sebuah form.
Ane baca di form itu banyak pertanyaan, mengenai data diri ane, tanggal terakhir yang ane ingat, lokasi terakhir yang ane ingat, dan lain-lain.
Tanpa banyak nanya ane isi form itu. Sementara bus berikutnya sudah datang dan menurunkan penumpang.
Prosesnya pun sama seperti sebelumnya, penumpang menukar sesuatu untuk dapat tiket, kemudian menunggu datangnya kereta. Ane menunggu para penumpang selesai mendapat tiket, baru datang kembali ke loket dengan form yang sudah ane isi.
Ane pun dipsersilahkan masuk ke ruangan di samping loket. Si Pak tua lalu memasukkan form itu ke sebuah mesin.
“sebentar” katanya ke ane
Mesin itu seperti mengeluarkan bunyi-bunyian.
Lalu ane mendengar pintu ruangan diketuk.
Seorang petugas lain datang.
“ok saya tinggal dulu, semoga urusannya beres” kata si Pak Tua yang kemudian kembali ke loketnya.
“terimakasih Pak” kata ane. Entah kenapa, ane merasa pengen banget naik kereta itu.
Petugas yang baru datang memegang sebuah map. Ia lalu mengeluarkan isi map itu dan membaca-baca form-form yang ada di dalamnya. Mukanya keliatan serius.
“Anda tidak punya tanda pengenal?” tanyanya
“tidak ada Pak” jawab ane
Dia lalu menanyakan hal-hal yang sebenarnya sudah ditanyakan petugas kereta api yang tadi. Dan ane memberikan jawaban yang sama seperti ane jawab tadi.
“sepertinya ada kesalahan” kata si petugas itu
“kesalahan apa Pak?” tanya ane
“Anda seharusnya tidak boleh ada disini” jawabnya
“Maksudnya bagaimana Pak?” tanya ane penasaran
“Sebentar” katanya
Dia lalu mengangkat pesawat telepon yang ada disana.
Terlihat dia bicara dengan seseorang dan memberikan data-data ane.
“maaf Anda tidak ada di daftar penumpang, dan tidak ada di daftar orang yang memiliki tanda pengenal” katanya ke ane
“sebentar lagi ada seseorang yang akan menjemput Anda” dia menambahkan sebelum ane sempat bicara apa-apa.
Ane lalu dipersilahkan untuk menunggu di ruangan itu. Petugas itu juga masih ada disana, sesekali dia membuka pintu ruangan dan melihat keluar. Dia sepertinya juga menantikan orang yang katanya akan menjemput ane.
MEMORY II : Waiting (2)
Yang ditunggu akhirnya datang. Si petugas yang bersama dengan ane mempersilahkan masuk dua orang ke ruang tempat ane nunggu. Orang yang pertama itu laki-laki memakai seragam petugas juga tetapi di pundaknya semacam ada tanda pangkat. Sedangkan yang satu lagi perempuan pakai baju putih dan rok panjang warna putih.
Pas ane lihat yang perempuan, sepertinya ane kenal sama dia, tapi ane lupa dimana. Umurnya kira-kira cuma 2-3 tahun di atas ane. Sepertinya dia juga mengenali ane.
“Baik, sepertinya ada kekeliruan” petugas yang berpangkat membuka pembicaraan. Sementara seisi ruangan menyimak.
“Anda tadinya sudah terdaftar, tetapi kemudian ada perubahan , sehingga nama Anda tidak ada di dalam daftar ini” katanya lagi.
“Kami akan kembalikan Anda secepatnya”
“jadi saya nggak bisa naik kereta?” tanya ane
“bisa dikatakan seperti itu” jawab si petugas berpangkat
“tapi saya mau naik kereta juga Pak” kata ane
“Kamu akan naik kereta kalau sudah waktunya” yang menjawab adalah si perempuan baju putih. Tetapi si petugas berpangkat kelihatan kurang suka dengan kata-kata itu, terlihat dari ekspresinya yang ditujukan ke si perempuan.
“belum waktunya kamu bicara” kata petugas berpangkat ke perempuan baju putih.
“maaf Pak” perempuan itu minta maaf
“Mari kita tunggu jemputan di luar” ajak si petugas berpangkat.
Kami semua lalu keluar ruangan, dan menunggu di tempat bus tadi menurunkan ane.
Ane heran, ane akan dijemput pake apa. Waktu kami berjalan melewati loket, si Pak Tua penjaga loket melambaikan tangan ke ane, seperti salam perpisahan.
“Cepat sedikit, waktu kita terbatas, kamu akan dijemput sebelum bus berikutnya tiba” si petugas berpangkat mempercepat langkahnya.
Kami semua akhirnya tiba di titik penjemputan. Disana ada kami berempat, ane, petugas berpangkat, petugas yang tadi di ruang tunggu dan si perempuan baju putih. Si perempuan baju putih lalu melihat ke si petugas berpangkat. Dimana kemudian si petugas berpangkat mengangguk seolah memberi kode. Dia lalu ngajak rekannya sesama petugas untuk berjalan agak jauh.
“Lo pasti nggak terlalu ingat sama gw” si perempuan baju putih bicara ke ane
“iya tapi gw kayaknya kenal sama elu” jawab ane
“Hahahah….harusnya sih gitu” jawab dia lagi
“gw sebenernya mau naik kereta” kata ane ke dia
“iya , lo suatu hari bakal naik kereta itu, tapi nggak sekarang” jawab dia ke ane
“masih ada hal-hal yang harus lo lakukan” lanjutnya lagi
“dan yang jelas lo musti berada di jalan yang benar, supaya suatu hari lo bisa naik kereta itu”
Ane ga gitu paham sih dengan omongan dia sebenarnya.
“gw terus bakal kemana nih?” tanya ane
“lo bakal balik ke tempat seharusnya lo berada” jawab dia
Nggak lama kemudian datang sebuah taksi warna kuning. Supirnya membunyikan klakson ke arah kami. Si petugas berpangkat terlihat mendatangi taksi itu dan bicara sesuatu.
“waktunya kita berpisah nih” kata si perempuan itu
“iya” jawab ane
Petugas berpangkat dan rekannya lalu manggil ane, dan ane bersama dengan si perempuan berjalan ke arah taksi.
“cepat sedikit bung!” ane bisa dengar suara si supir taksi
Para petugas itu lalu menjabat tangan ane
“sampai ketemu” kata mereka
si perempuan berbaju putih juga menjabat tangan ane, kemudian dia memeluk ane. Saat itu entah kenapa ane merasa sangat terharu, dan meneteskan air mata. Di dalam pelukannya dia berbisik ke ane
“salam buat Bapak dan Ibu, bilangin ke mereka gw baik-baik aja disini”
“sampai ketemu lagi” kata ane ke perempuan itu.
Hati ane merasa berat untuk berpisah dengan dia. Dan sepertinya dia juga merasakan hal yang sama. Tampak salah satu petugas menepuk bahunya , seakan memberi tanda bahwa dia harus berpisah dengan ane. Dia lalu tersenyum ke ane, lalu melirik ke taksi, seolah-olah meminta ane naik ke taksi.
Lalu ane masuk ke dalam taksi. Ane bisa lihat perempuan itu melambaikan tangan ke ane. Taksi lalu berjalan perlahan semakin menjauhi stasiun. Ane tetap memandang ke arah perempuan itu, dan makin lama makin jelas, ane bisa melihat, perempuan itu berubah menjadi seseorang yang sangat ane kenal.
Namun taksi sudah bergerak semakin cepat. Dan ane sadar perempuan itu adalah Elis, kakak ane yang meninggal waktu ane SD.
“Elis!” ane berseru di dalam taksi, dan mencoba minta supaya si supir menghentikan taksinya.
“Bung, hati-hati, karena kita harus bergerak semakin cepat” kata si supir
Dan memang benar taksi bergerak semakin cepat , tubuh ane sampai terhempas ke sandaran kursi. Pemandangan di kanan dan kiri tidak terlihat jelas karena kecepatan taksi.
“Bung , Anda penumpang saya satu-satunya di tahun ini” kata si supir.
“Pak , apa kita tidak bisa balik ke stasiun?” tanya ane
“Maaf bung, tidak bisa, tapi kamu akan kembali kesana lagi suatu saat nanti” jawab si supir.
Ane bisa lihat, taksi akan memasuki suatu lorong yang gelap. Di dalam lorong ,taksi masih bergerak dengan kecepatan tinggi. Ane bisa melihat juga ada cahaya terang di ujung lorong.
“Ok, siap-siap Bung!” si supir taksi berseru
Ane nggak bisa melihat dengan jelas, karena cahaya itu sangat terang.
Lalu ane bisa merasa taksi melakukan pengereman sampai terdengar suara ban berdecit.
“Selamat datang kembali” kata si supir taksi
Ane bisa melihat ane tiba di tempat yang sangat ane kenal.
Tanpa ragu ane membuka pintu taksi, dan keluar dari kendaraan tersebut.
“Bung, semoga berhasil!” si supir taksi mengatakan ini sambil tersenyum
“Terimakasih pak, sampai ketemu lagi” kata ane sambil menutup pintu taksi.
Taksi kemudian berjalan perlahan, lalu semakin bertambah kecepatannya dan menghilang di ujung jalan.
Baca kelanjutan cerita di sini
- GeekOut Drivers - October 24, 2025
- Setup dnscrypt-proxy on Ubuntu 24.04 (Raspberry Pi 5) - September 4, 2024
- Mosh your VPS from Windows using Cygwin - May 12, 2024